Menuliskan Rasa

Saya melewati banyak momen untuk ditulis selama 2 tahun ke belakang, tapi setelah menjalani masa karantina karena penyebaran virus Covid-19, saya merasa sayang jika tidak menuliskan sesuatu. Hari ini Idul Fitri hari kedua dan mungkin saya nggak akan melupakan momen Idul Fitri tahun ini. Buat saya yang nggak suka keramaian, momen Idul Fitri selalu ditunggu walaupun selalu berhasil bikin anxious. Melewati hari ini dengan hanya suami dan anak, memang tak pernah terbayangkan.

Semenjak penyebaran virus Covid-19, suami saya diharuskan bekerja dari rumah. Walau awalnya saya senang karena ada tandem kalau jagain anak, ternyata justru makin banyak pekerjaan domestik yang harus dilakukan. Anak saya sudah mulai aktif bergerak dan mulai nggak bisa ditinggal. Suami saya juga ternyata nggak sebebas itu untuk diajak tandem menjaga anak karena harus tetap produktif di pekerjaannya. Momennya pun pas dengan menjelang bulan puasa. Sehingga rasanya jadi mudah lelah dan hidup terasa berat sekali. Bulan Ramadhan terasa lambat tetapi juga terasa cepat berlalu. Selepas bulan Ramadhan ini, beban sayapun nggak juga berkurang karena anak saya sudah memasuki usia makan dan membutuhkan makanan pendamping ASI. Haha, what a life :))

Menyiapkan makan untuk saya dan suami aja kadang udah sampe riweuh banget dan bingung ‘mau makan apa’. Ditambah lagi harus nyiapin makanan yang bergizi, matang sempurna, dan sesuai dengan anjuran WHO dan IDAI. Kuhanya bisa tertawa dalam tangis :’)

Dulu, saya pikir dunia setelah memiliki anak bakal tetap berjalan baik-baik saja. Saya bisa menyusui dengan tenang, begadang sambil kerja atau mendesign koleksi baru, dan tetap melakukan banyak hal. Tapi ternyata lelah sekali yaa melakukan semuanya sendiri :))

Otak dan badan saya kayaknya nggak pernah berhenti kerja, habis nyuci baju, harus nyusuin, habis mandiin anak, harus nyiapin makan anak. Setelah anak tidur, harus research tentang MPASI, harus makan bergizi juga buat diri sendiri biar ASI lancar, tidak lupa makanan dan cemilan untuk suami, harus cuci piring, jemur baju, dilanjut cuci baju anak yang deterjennya beda, setrika, harus ini itu dan banyak sekali~ Wow, I wrote many domestic tasks here :)) 

Online shopping sudah terasa membebani karena yang dibeli yaa bahan makanan untuk masakan di rumah (karena masih takut ke pasar), beli popok, kebutuhan rumah, dll. Jajan online di Indomaret pun udah nggak menyenangkan lagi karena terasa seperti rutinitas. Mau beli barang untuk diri sendiripun kayaknya mikir-mikir berkali-kali karena sekarang lagi nggak ada pemasukan yang berarti (haha, doain yaa jadi banyak proyekan lagi). Pertumbuhan bisnis saya sendiri jadi terus melambat karena yang ngerjainnya juga lambat, kekeke. Kadang, masih juga harus bertarung dengan rasa takut salah, rasa minder, dan rasa bersalah yang besar. Dari beberapa paragraf di atas, saya bisa menyimpulkan bahwa I definitely need more mental support :))

In a more serious note, di salah satu artikel yang saya baca, kegiatan karantina dan work from home ini makin menguatkan posisi pria dan wanita dalam ranah tugas domestik. Ketimpangan peran ini makin terlihat jelas pada saat ini, di mana wanita harus melakukan berbagai peran selain bekerja dari rumah. Dalam sebuah survey yang dilakukan, tugas domestik dan mengurus anak (dalam hal ini, mengawasi anak bersekolah dari rumah) adalah dua hal yang masih dominan dilakukan oleh wanita daripada pria. Too bad I forgot the links to the original article, will update this post when I found it.

Tapi fakta bahwa saya masih bisa ngetawain hidup, curhat ke anak sendiri bahwa saya capek banget kalau dia mulai berulah, dan menuliskan post semacam ini, mungkin menandakan saya masih bisa berfungsi dengan baik. Walaupun mata panda dan badan remuk tiap bangun tidur, saya masih bisa mengapresiasi hidup dan seisinya. Selalu ada godaan untuk tidur lagi tapi harus looping kerjaan domestik di atas jadi yaa harus menjadi zombie (gimana dong nggak bisa libur apa sehari aja? Haha). Belum lagi, anjuran pemerintah yang sudah memperbolehkan pegawai di bawah 45 tahun untuk masuk bekerja, saya sebenarnya malah makin nggak kebayang kalau suami harus masuk kantor lagi.

One day, I looked myself in a mirror and I was miserable. I don’t have time anymore for skincare regime, my hair was a falling off badly, and I really hate to wear ‘daster’ (but it was the easiest and the most proper attire for breastfeeding). Sayapun mulai mencari-cari alternatif baju menyusui yang lain (I swear I had enough with daster), yang ternyata banyak juga yaa harga dan rupanya. Dan walaupun sebelumnya saya selalu nggak percaya dengan yang bilang dressing up bisa membuat mood kita berubah, it did change my mood. No wonder people still buy new clothes despite the pandemic.

I’ve always love a comfortable T-shirt and when I finally slip into one, I felt like, myself. Walaupun baru punya 1 baju aja sih, haha sad :)) Mengacu kepada pembahasan sebelumnya, kadang saya memang merasa overwhelmed dengan banyaknya peran yang saya miliki. Saya terkadang lupa dengan diri saya karena banyaknya rutinitas yang harus dilakukan. Saya nggak punya banyak waktu menuangkan diri yang sesungguhnya dan memilih beristirahat kalau punya waktu senggang, karena memang lelah sekali rasanya.

Mandatory Eid Photo

Appreciate small wins, they said. Dalam diri yang paling dalam, saya nggak tahu kapan akan meledak ataupun kapan saya bakal meltdown. Saya cuma bisa berusaha yang sebaik-baiknya dalam menjalani hari. Saya selalu meyakinkan diri sendiri bahwa ini bakal semakin mudah. Walaupun sekarang rasanya kayak cry tiap hari, tapi mungkin hal ini bakal membuat saya makin kuat (dan sabar) ke depannya. Therefore, I want to take this moment to say to you, whatever hardship you’re in today, might be the one you want to past quickly but will always be the one that made you stronger in the future ?

Let’s fight again tomorrow :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.