The Speed

Sekarang ini, kalau disuruh memilih antara membaca buku dan menonton film atau TV series, saya dengan mudahnya memilih media visual. Mungkin karena kemudahan menerima pesan yang disampaikan. Hal ini nggak lepas dengan kecintaan saya di bidang sinema dan hobi menonton bioskop. Saya bahkan pernah punya blog khusus tentang review film yang selalu saya isi menonton film atau TV series. Kalau dibaca lagi mungkin isinya biasa saja, tapi saya senang sekali kalau ada orang lain yang ikut menonton film-nya melalui rekomendasi tulisan saya. Saya bahkan lebih memilih untuk menargetkan berapa banyak film yang saya tonton di bioskop dibanding berapa banyak buku yang harus saya selesaikan (dewa literatur, tolong ampuni saya). Tapi beberapa tahun ke belakang saya jarang menonton film di bioskop. Frekuensi datang ke bioskop pun berkurang menjadi hitungan jari dalam kurun 2-3 bulan karena memang nggak punya budget berlebih untuk menonton. Sedih sih, tapi saya jadi lebih selektif memilih film apa yang pantas ditonton di bioskop (dan mana yang cepat muncul di Layarkaca21, haha).

***

Beberapa waktu yang lalu, saya menonton Cars 3 di bioskop. Saya sendiri selalu berusaha menonton film PIXAR di bioskop karena punya keterikatan pribadi dengan film-film animasi PIXAR. Saya kembali nggak berekspektasi karena Cars adalah film franchise PIXAR yang menurut saya paling lemah dan nggak terlalu saya sukai. Tapi kemudian, di sepanjang film saya menangis karena isu yang diangkatnya.

Read more

Keberagaman, Cinta, dan Tribun Selatan

Indonesia adalah negara yang selalu menarik untuk dibahas. Di saat keberagaman menjadi daya tarik yang besar bagi Indonesia, di saat yang sama, keberagamaan acap kali menjadi akar penyulut pertikaian. Mengambil contoh Pilkada DKI 2017 yang sarat dengan isu pertikaian antar agama, tampaknya masyarakat Indonesia masih harus banyak belajar soal toleransi antar sesama. Hal ini terlihat dari mudahnya menyulut berbagai hal hanya karena perbedaan pendapat yang kemudian meluas menjadi perbedaan ras dan agama. Ketika masyarakat Indonesia tampak mulai lelah karena harus kembali menghadapi derasnya arus putaran kedua pilkada, data Komisi Pemilihan Umum (KPU) justru menunjukkan peningkatan partisipasi pemilih DKI Jakarta yang mencapai 78%, dibandingkan putaran pertama yang hanya mencapai 75,75%. Para pemilik KTP Jakarta yang tinggal di luar kota maupun luar negeri berbondong-bondong datang ke Jakarta untuk sekedar memilih kandidat yang didukungnya. #OneVoteCounts begitu seru tagar yang beredar di Twitter pada tanggal 15 Februari 2017 kemarin. Hal ini juga menarik perhatian media luar negeri yang ternyata menaruh perhatian yang cukup besar tentang dampak isu SARA dalam politik Indonesia.

New York Times dan CNN menuliskan bagaimana Pilkada DKI kemarin akan dilhat sebagai titik balik toleransi beragama di Indonesia. Indonesia sendiri masih punya banyak catatan hitam yang belum terselesaikan tentang toleransi antar umat beragama dan rasisme yang melibatkan HAM. Walaupun sama-sama mengusung Bhinneka Tunggal Ika dan sudah memasuki zaman digital yang penuh informasi dan keterbukaan, tetapi nyatanya masyarakat kita masih judgemental dan belum terbuka terhadap ras atau agama tertentu.

***

Di balik semua narasi miris di atas kalau ada hal-hal yang bisa mempersatukan Indonesia saat ini, salah satunya mungkin adalah kompetisi olahraga. Perdebatan tentang siapa yang pantas menjadi pemimpin atau tidak akan terlihat usang di tengah teriakan dukungan di lapangan.

Tidak sedikit yang merinding dan menangis ketika Lilyana Natsir dan Tontowi Ahmad membawa pulang medali emas di Olimpiade Rio 2016, tepat di hari kemerdekaan setahun silam. Atau bagaimana bersatunya warga Indonesia ketika bendera kita dihadirkan terbalik di beberapa media cetak Malaysia di ASEAN Games 2017 kemarin. Tidak ada caci maki atau sindiran, hanya teriakan yang sama.

***

Untuk penonton bola karbitan yang cuma menyaksikan sepakbola lewat layar televisi di momen-momen populer saja, menemukan diri saya berdiri di antara puluhan ribu penonton di stadion sepakbola di luar kota adalah suatu kejanggalan.

Read more

Though I don’t know you, it’s alright. I will hold you.

You walk high with the sparkles.
Red lips, high bun.
Yet, you breathe differently.
Hating tears, hiding in the black dress.

Waiting passionately,
until the light turns off,
until the sound fades away.

Tonight,
though I don’t know you, it’s alright. I will hold you.
Tonight,
between the neon lights and the drinks.
Tonight,
in the sea of standing people.
Tonight,
take the microphone.
Tonight,
you have the right to cry.
Why do we care what people say anyway.

The Color Splash

I’ve been down with the flu for the past week, so the writing of #30postsfor30 doesn’t go so well lately. But, since tomorrow will be another long weekend, here’s a list of colorful things that I’ve wanted to share.

The 12000 ft exhibition called the Color Factory opens its door in San Fransisco this August. The exhibition is totally made for color lovers and such a beautiful place to play (and take a picture) with. Not only that the place holds beautiful colored windows (and floors), it also has a yellow ball pit and a room full of confetti! I’ve been following Oh Happy Day’s blog since a long time ago and completely amazed by their works this time. Read the story behind the making of Color Factory here.

Read more

The Hardship of Happiness

Kadang, ada waktu di mana kita mempertanyakan keberadaan diri untuk kemudian memilih untuk berhenti dan kembali menjalani hari seperti biasa. Entah karena memang ingin melupakan sejengkal kegelisahan, atau memang ingin mengambil aksi dari semua kesimpulan. Saya nggak suka berpikir terlalu panjang dan saya lebih suka mencari jawaban lewat hal-hal kecil dalam keseharian, jadi ketika pertama kali mengalami depresi saya nggak tau harus berbuat apa. Saya beruntung nggak punya keinginan sedikitpun untuk mengakhiri hidup ataupun mencari jawaban lewat ketergantungan, tapi nggak sedikit orang yang seberuntung saya.

Beberapa waktu yang lalu, sempat beredar berita-berita seputar bunuh diri. Mulai dari vokalis band rock favorit sampai orang asing yang tidak saya kenal. Saya beberapa kali berkata bahwa yang namanya berita sensasional dan kemalangan pasti lebih cepat beredar di masyarakat. Saya kembali menyayangkan banyaknya lembaga berita yang terlalu mengekspos hal semacam ini secara berlebihan. Imbasnya, pusat solusi dan lembaga masyarakat sibuk menginformasikan nomer hotline yang dirasa bisa membantu orang-orang yang memang mengalami depresi yang amat sangat dan memikirkan mengakhiri hidup. Kata depresipun kemudian mengalami penurunan arti dari istilah medis menjadi kata kerja sehari-hari.

Read more