Aku ingin baca lebih banyak lagi.
Melahap deretan paragraf dan menyendoki tiap kata.
Yang bercerita dengan rasa getir dan menyayat hati.
Kadang, lembarannya terasa manis. Membuat rindu dan berdebar.
Kadang, ia kelebihan garam. Berakhir tragis dengan suntingan yang patah-patah.
Bisa juga ia masam, kemudian ditinggalkan bertahun-tahun. Untuk kemudian diburu lagi, demi rasanya.
Semerbak halamannya dan warna-warni sampulnya.
Disajikan sabar, lewat banyak tangan dan banyak tahapan memasak.
Untuk dihidangkan dengan nikmat, dalam senyap atau hingar bingar.
Diantar lewat kurir atau dijemput di toko, sesuai takdir.
Aku ingin makan lebih banyak lagi, buku-buku ini.
Category: Writing
Un-rhymed lines and broken heart stories. A poem made over grammar mistakes. Every words between every colors.
Would I Still Write It?
I’m a huge mess, drowning in rose-colored lake.
Searching for meaning.
I thought I’d found one, like everybody else.
In somewhat of an enlightenment and revelation.
Turns out, I’m the firecracker.
Ready to crack, burning in a circle.
I’m a loose cannon.
Causing havoc everywhere I go.
But I dreamt of sunrays and became one.
Giving warmth until I run out of it.
Can I still do that?
Would I believe it?
Crossroads

Eyes tight shut.
Woke up with blurred vision and half eye closed.
She said she doesn’t know where she’s going.
I said, don’t we all?
See, I’m Just Missing Everybody Else

There are a lot of things I want to say to you.
Like an endless bunch of baby stars born out of the nebula.
And an enormous byte of data which thrown into the space this very second.
But you’re miles across.
Sitting right there, as if we were so close.
Sending heart emoji that is barely there.
Oh, there you are.
You’re not here.
And I’m not there.
There are a lot of words I want to type right now.
Like a whole ocean ready to swallow everything else.
And endless rays of light burning up the ground.
But nothing came out like it was supposed to be.
Just a blurb of things, trying to line up.
Making burst of emotions, ready to explode.
There they are.
Lines, out of nowhere.
Me, trying to breathe.
Terkotakkan Kata
Di balik asap, kata ‘kami’ seakan mengubah arti.
‘Kami’ yang tidak ingin dianggap ‘kami’.
‘Kita’ yang tidak pantas dianggap ‘kita’.
Siapakah yang digambarkan sebagai ‘kami’ atau ‘kita’?
Siapakah yang dipanggil ‘mereka’?
Siapakah sang ‘saya’?
Di balik aspal, kata-kata hanya omong kosong.
Bising di sekitar.
Api di kerumunan.
Ketika manusia lupa menjadi manusia, hanya menjadi sekedar kumpulan kata.
