Jum’at

//August 27, 2010//

Hari ini hari Jum’at.
Saya juga lahir di hari Jum’at. Kata Ibu, Ayah saya hampir terlambat melihat saya lahir karena harus sholat Jum’at terlebih dahulu.

Hari ini hari Jum’at.
Jum’at itu jadwal kuliah TA saya semester lalu.
Saya pergi ke luar kota juga di hari Jum’at malam.

Hari ini hari Jum’at.
Hari sucinya umat Muslim.

Hari ini hari Jum’at.
Akhirnya, saya mengumpulkan draft TA saya di hari ini.

Yellow Brick Road

//August 23, 2010//

I thought I’m the only one who surely knows how to wait. But I guess I’m not being that special. You were waiting long enough, and catching rainbow of illusion. The truth is, the rainbow doesn’t colorful enough to fill the sky. It is rather grey, brown, and full of dirt. Yet, you’re still trying to follow the rules and wait for it. You’re longing another rain, waiting it to dry, watching the color make another ark. And here’s the miniature of rainbow, you keep it safe and may it last until another season of happiness.

Until later dear, let’s act like Dorothy. We’ll walk on this yellow brick road, to some infinity and beyond.

 

Euforia

//August 21, 2010//

Mungkin saya memang butuh dibohongi. Pujian saja sudah membuat melambung. Janji saja sudah membuat tersenyum. Sayangnya tidak ada yang terwujud, dan saya sadar mungkin ini semua hanya euforia berlebihan. Tinggallah saya yang meratap.

Saya mungkin terlalu bodoh untuk percaya semuanya. Tapi ini akut, saya harus bisa berhenti.

 

Sama Saja Rupanya

//August 19, 2010//

Nama adalah titipan dan pemberian. Seperti magis atau pengharapan. Sedangkan panggilan ada untuk menyebut. Biasa diikuti oleh kata sayang, menjadikannya panggilan sayang. Sehingga teman dekat akan menyebut dengan kata yang berbeda dengan kata dari orang asing. Mengubah panggilan bisa mengubah arti keberadaan, atau status sosial. Seperti ‘Pak’ yang dianggap sopan, atau ‘Dek’ untuk orang yang (terlihat) lebih muda. Para pedagang Melawai memakai kata ‘Kakak’, pedagang Glodok memakai kata ‘Cici’, pengusaha online shop memakai kata ‘Sis’. Semuanya, dipakai untuk memperakrab suasana, mereka berusaha membuat kita merasa nyaman ketika punya panggilan sayang. Oh, kata ‘Gan’ dipakai di forum terbesar Kaskus dan dengan cepat melebur di masyarakat. Seperti virus dan itu menjangkit. Panggilan membuat kita mengenal dari lingkungan mana seseorang berasal. Seperti saya yang terbiasa menggunakan kata ‘A’ atau saudara di sana yang memakai kata ‘Mas’ dan ‘Bang’.

Padahal, artinya sama saja tetapi menguak banyak dan menutup banyak. Untuk sementara, saya ingin membiarkannya begitu saja. Toh kita sadar arti masing-masing, dan buat saya, itu sudah cukup.

Berbeda dengan panggilan yang berarti rancu, nama dicipta untuk membentuk.

Nama saya Prisanti Putri. Halo, hari ini kita berkenalan lagi :)

 

Dirgahayu.

//August 17, 2010//

Berkata merah putih seperti berkata darah dan seluruh jiwa. Seperti mengalir dan membumi. Hari ini tertanggal 17 Agustus 2010. Tanggal hanyalah penanda zaman, hanyalah coretan kecil di sudut buku. Tidak sama seperti takdir, dan kita semua tahu apa perbedaannya.

Di salah satu kesempatan saya masuk ke ruang balairung utama Sabuga saat Wisuda, pernah seorang wisudawan menyuarakan kalimat-kalimat penutupnya. Ia berseru keras, ‘Bukan kebetulan bahwa kita ditakdirkan terlahir di tanah ini, Indonesia’, dan saya tahu benar arti kata-kata itu. Takdir buat saya bukan kepasrahan, sehingga saya akan memperjuangkannya hingga mati. Indonesia adalah salah satu dari saya. Dan bangga hanyalah salah satu kata untuk menggambarkannya.

Setiap tahun di bulan Agustus, saya akan berburu berbagai koran dan majalah. Karena saya tahu betul bahwa editorial bulan itu akan berkisar tentang Cinta Indonesia dan saya penggemar berat tema itu. Setiap tahun tidak pernah ada yang sama, selalu akan ada foto terumbu karang, matahari tenggelam, kabut gunung, ataupun senyum yang berbeda. Terselip di salah satu halaman majalah, ataupun di salah satu penjuru pulau. Dan saya tetap akan merasa bangga menyelip di salah satunya.

Beberapa pejuang dan garis keras akan berteriak-teriak di hari ini. Beberapa akan mempertanyakan apa saja yang telah kita capai, apa saja yang belum kita capai, apa lagi yang kurang, dan mengapa semuanya terjadi. Berbagai kata tanya akan mengalir dan saya akan berkata peduli setan. Karena saya punya definisi merah putih sendiri, dan saya akan berteriak-teriak dengan cara sendiri. Takdir menempatkan kita tidak hanya di tanah ini, tapi di suatu jenis tanah yang berbeda. Saya tahu betul bahwa cat di kantong saya akan berbeda dengan para saudara di bumi Timur, dan saya tak akan mempertanyakan apa jenis catnya. Saya hanya akan tanya warna cat apa yang kamu punya, dan warna baru apa yang bisa kita ciptakan.

Dirgahayu Indonesia. 65 tahun hanyalah hitungan. Tetaplah berbangga wahai penginjak bumi dan pencinta laut. Lihatlah darah dan jiwa kalian, masihkah merah putih itu semua? Kalo iya, mari berkenalan dan kita lukis negeri ini lebih indah lagi. Karena masih banyak warna yang tersisa, dan masih banyak kanvas kosong untuk menorehkannya.

Selamat pagi, Indonesia.

Yakinlah bahwa saya tetap akan menginjak tanahmu dan membuatnya menjadi tanah terbaik yang pernah terinjak. Dirgahayu Indonesia, dan bahkan saya tak pernah mencari arti kata dirgahayu di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Oh, #indonesia65 berhasil jadi trending topic lagi malam kemarin.