Di Luar Saja

//November 24, 2009//

Hilir mudik.
Lalu lalang.
Orang-orang di balik tirai biru.
Wajah-wajah khawatir, tatap haru.
Melantunkan doa sejahtera.

Kami hanya orang-orang di luar tirai, sang pelantun doa, dengan wajah cemas, yang hilir mudik.
Kami tak tahu beratnya hidup di balik tirai, mengaduh lemas, wajah tertunduk. Pucat.

Kami hanya orang-orang di luar tirai. Hanya ingin seulas senyum tanda bahagia. Hanya ingin sepasang kaki yang menopang kalian kuat.
Untuk sekarang, tidak apa. Tangis bukan senjata, cuma rasa sayang.

Cepat sembuh.

 

Fireflies

//November 21, 2009//

This is the celebration of black and white
The monochromatic version of sephia
We ride on an endless coaster
To adventure land the map seen not
Tired and exhausted our hearts might be
Reality and acceptance is all we’ve got
Walking down the hallway, flying through chairs, jumping to children
We’re just fireflies with time remaining
We glow, we shine, we take the wind
But the light will fade and that’s your turn
To burn the fire and see the sky
This is the only place you’ll hoped you’ll be

 

21 November 2009
14:35

Take your time, friends. You’ll get here soon, and I’ll be your guide. For sure. And I’ll make you all golden.

Anomali

//November 15, 2009//

Hari ini tidak seperti hari Sabtu. Di mana saya bisa bangun siang dan berangkat ke luar rumah di atas jam 10.

Hari ini tidak seperti hari Sabtu. Karena biasanya saya harus bangun jam setengah 7, sampai di kampus jam 8, dan beraktivitas sampai sekiranya jam 5 sore. Ya, walaupun mulainya lebih lambat, aktivitas saya justru molor sampai jam 1 malam.

Hari ini tidak seperti hari Minggu. Karena rutinitas jam setengah 7, dimajukan jadi jam 4 pagi. Menjelajah kampus tetangga, pulang ke kampus jam 10, dan meneruskan rutinitas lagi.

Iri rasanya melihat banyak status yang bertebaran dengan keriaan akhir minggu ataupun waktu libur dengan keluarga/sahabat. Di akhir minggu, kegiatan saya justru baru dimulai.

Really, I just can’t tell where is my weekend anymore. Yet, it is still enjoyable to see the face of my dearest beloved friends, foes, mates, and children. So, bear me another weekend, because I know I can do it better. There will be no space for spoiled little bastard begging for vacation or another whining and complaining. I am (trying) not gonna do that. Bet that, I’m getting stronger.. Yeaay.. :)

A Slap You Will Never Forget, and A Warm Smile Burnt in Heart—October 16, 2009

/

/October 27, 2009//

How old are you the first time you had a dream? A dream that you wanted so bad that you’re dying because of it? How old are you when you realized that dream still alive and continued on to get bigger and with more passion?

Saya sering menulis betapa saya sangat bersyukur masih memiliki mimpi besar yang masih mengiringi langkah saya. Mungkin orang bosan membaca tulisan saya tentang hal itu, tapi Itulah cara saya untuk memastikan bahwa saya masih punya banyak misi dan tujuan untuk diperjuangkan. Masih banyak pertarungan untuk dimenangkan, dan masih terlalu banyak semangat untuk ditumpahkan.

16 Oktober tahun ini mungkin adalah kali ketiga saya menginjak umur kepala 2. Hari itu serasa sama seperti hari-hari biasanya, dimana saya harus banyak bersyukur dengan setiap nafas dan langkah yang saya punya. Tapi, the best part about it, it took a lot to realize that I’ll never live without YOU all. Haha, saya bersumpah bahwa inilah ulang tahun paling membahagiakan yang pernah saya rasakan. Ibu saya mengirim sebuah jam tangan super keren (yang fortunately berwarna merah), Kakak dan Adik saya memberikan sebuah jam meja super keren yang memang keren :P, Haiva memberi saya kaos super keren, Sella memberi saya sebuah buku super keren yang saya idam2kan sejak dulu—Paulo Coelho’s The Winner Stands Alone, Cakru2 saya memberi sebuah Cheese Cake keren yang luar biasa besar dan banyak orang-orang baik hati (Mangasi, Insan, Sella, Angga, Lukman, Vina, Bravo, Ayue, Praba, Alvin, Ijul, Sabar, Ramda, Amri, Aban, Farhan, Yudhi, Ian, Azki, Timothy, Rizki, DInoy, Keni, Wibi, Aftah, Gora, Puti) yang memberikan saya kamera super keren, sebuah Lomo Oktomat (yang lagi2 berwarna merah). Dan banyak ucapan syukur dan doa yang dialamatkan di hari itu. Dan ketika saya sadar, bukan lagi tangis yang menjadi, tetapi rasa syukur yang berlimpah.

Saya tidak habis pikir kenapa mereka mau memberikan semua itu hanya untuk seorang saya yang suka berkata kasar dan bertingkah egois ini. Tapi di hari itu Mangasi bilang, “Kalau kamu merasa nggak pantes menerima semua hadiah itu, kita semua bakal merasa sedih karena nggak bisa membahagiakan kamu.” Ya, ya, harusnya saya sadar, ketika kalian dengan suka cita dan senyum memberikan semua itu, tidak ada lagi yang harus dipertanyakan. Yang ada harusnya senyum dan rasa suka cita yang lebih besar. Sebuah kalimat yang masih saya ingat sampai sekarang adalah kata-kata Hardi di malam itu ketika saya mempertanyakan hal yang sama, “You deserved it, Cup. Because you inspired many people.

Dan ketika tahu itu, saya bersyukur sekali lagi. Karena saya hidup untuk itu. Karena Itulah mimpi terbesar saya. Saya selalu berpikir bahwa Tuhan tidak menciptakan kita begitu saja, dan bagi saya, saya harus hidup untuk orang lain. Saya harus membuat banyak orang mendapatkan inspirasi dan mimpi mereka. Dulu saya mendapatkan inspirasi dan mimpi saya karena menonton Toy Story. Saya bersyukur amat sangat karena di umur semuda itu, saya sudah merasakan bagaimana hebatnya kekuatan sebuah mimpi. Sayapun bersumpah, apapun caranya, saya harus membuat orang lain merasakan hal yang sama, merasakan hebatnya kekuatan itu, merasakan indahnya rasa syukur. Mungkin, usaha saya masih terlalu kecil, dan mimpi saya masih belum tercapai sepenuhnya, tapi ketika tahu bahwa langkah kecil ini pernah menyentuh orang lain, saya hanya bisa berkata dan kembali bersyukur, “Tuhan, terima kasih banyak atas kesempatan ini.” Mudah-mudahan, langkah ini akan berubah menjadi besar suatu saat nanti. This is the sign of gratitude, I will never know how to express :)

We Just Need to Push Harder – An Essay of a Lazy Man Reaching for the Sky

//October 02, 2009//

Sebagian orang selalu berpikir bahwa dirinya telah berhak disebut pemenang. Punya harta, kekuasaan, atau apapun penanda kejayaan. Semua yang dilakukannya merupakan level atas sebuah usaha, dan jikalau usaha itu tidak cukup, ia mengutuk keadaan. Pada kenyataannya, apa semua usaha yang dilakukannya memang sudah maksimal? Atau semua orang ternyata melakukan hal yang sama karena usaha tersebut wajar untuk dilakukan?

Saya selama ini hidup dengan biasa-biasa saja. Saya tidak mengejar terlalu banyak pencapaian. Hanya beberapa pencapaian yang sangat saya agungkan, yang sampai saat ini selalu saya dapat jika saya berusaha mendapatkannya. Karena saya memang tidak mau berhenti sampai saya dapat hal itu. Kadang saya iri dengan beberapa orang yang mampu ‘mencapai lebih’, jadi juara lomba ilmiah, berniat Wisuda di bulan Maret, dapat IP di atas 3,5. Tapi hati saya selalu bilang, itu karena saya tidak mampu sampai ke sana, kemampuan saya hanya segini, dan saya tidak merasa terganggu karenanya. Toh kita masih bisa dapat kerja dengan IP yang tidak seluar biasa itu, kata orang, ada yang namanya soft skill. Toh standar lulus adalah di bulan Juli, hanya orang-orang alien luar biasa pintar yang bisa lulus di bulan Maret. Saya terbiasa berpikir begitu, karena memang saya tidak mau mengeluarkan usaha sebegitunya untuk mendapatkan hal yang kurang lebih sama. Intinya, saya termasuk orang yang santai.

Sebuah perbincangan singkat mengubah cara pandang saya. Entah darimana awal perbincangan itu, tapi berakhir dengan sebuah resolusi. Sudahkah saya berusaha semaksimal itu? Kalau ternyata ada yang lebih baik, kenapa saya tidak berusaha lebih untuk mendapatkan yang lebih baik itu? Apakah santai maksudnya tidak peduli dengan hal yang lebih baik? Apakah santai hanya istilah lain untuk malas? Apakah saya se-pemalas itu untuk tidak mengeluarkan usaha yang lebih lagi? Apakah saya hanya akan berpegangan dengan kata-kata “Mungkin memang belum dikasih sama Tuhan”? Apakah memang Tuhan belum memberi saya ‘kesempatan’ ataukah saya tidak mengusahakan ‘kesempatan’ itu semampunya?

Saya selalu bersyukur dengan apa yang saya punya, tapi setiap manusia harusnya ingin yang lebih baik, bukan yang lebih buruk, bukan? Naif kalau kita bilang kita ingin mencapai segalanya secara bersamaan. Contoh nyatanya yang ada di mana-mana, himpunan dan unit. Semua orang ingin mencapai keduanya bersamaan, tetapi pada kenyataannya banyak yang harus memilih salah satu. Jujur, saya memilih salah satu dan saya merasa sukses di sesuatu yang saya pilih itu. Tetapi seharusnya, orang hebat itu adalah ketika dia tidak memilih salah satu, tetapi ketika ia bisa menjalankannya secara bersamaan. Apa yang bisa dilakukan untuk mencapai itu? Pengorbanan.

Pengorbanan yang paling mudah dilakukan, adalah dengan mengurangi waktu. Ya, waktu kita yang tersia-sia dengan, main, jalan2, facebook-an, atau mungkin waktu tidur kita. Berat memulai sesuatu, mengorbankan rutinitas berharga yang kita sebut refreshing, tapi menurut saya, it’s all worth the diamond in the end. Kata orang, usaha besar, hasil besar. Itu terbukti. Kepada semua pemalas yang merasa telah cukup untuk dirinya sendiri, mari mencari sesuatu yang lebih baik.

Malas = Sumber segala penyakit yang sangat akut diderita hampir seluruh manusia di dunia. Terbukti berbahaya tetapi bukan sesuatu yang tidak bisa dihilangkan. Dapat dihilangkan dengan memulai bangkit dan berniat, lalu diakhiri dengan kemenangan dan rasa syukur.