Tanah Sang Pengembara

I.

Di lorong sempit berwarna merah, banyak tujuan menggantung, banyak harapan  disajikan. Bersama para pejalan angkasa, dibagikannya suka cita di hati itu. Ada yang patah hati, ada yang menyambung hidup baru. Tapi langit tak pernah memilih. Ia terus memberi cinta pada tanah sang pengembara.

II.

Para pendoa tak pernah lupa bagaimana cara menghormat. Diasapi dan dibasahi. Para pendoa memukul lonceng kemudian membungkuk berkali-kali. Para pendoa tak pernah lupa bagaimana cara menghormat. Apa kita hanya tahu cara mengepal dan berteriak. Tersambut malu aku dan kamu, hari ini juga hormat dibungkukkan.

Para Pencuri Jiwa

Kakek Tetangga di sebelah rumah adalah mantan ksatria istana.

Ia selalu bercerita tentang rencana pengepungan pada Perang Kutub yang tersohor itu. Kemenangan kerajaan kami di Perang Kutub tidak hanya mempersatukan Desa Barat dan Desa Timur yang sudah lama berseteru tetapi juga memenangkan tambang mineral di Bukit Selatan. Salah satu harta terbesar yang menopang perekonomian negeri kami sekarang ini.

Kakek tetangga mungkin hanya salah satu dari 150.000 ksatria yang membentuk formasi perang paling terkenal di seantero negeri, tapi kehadirannya di desa kecil ini selalu berhasil menghibur kami para bocah. Kakek tetangga selalu bangga akan kisah-kisah perjuangannya dan menceritakannya saat sore tiba. Mendengar cerita-ceritanya terkadang seperti mendengar mimpi buruk, atau khayalan mistis yang mengerikan. Tetapi kami para bocah hanya mampu termangu melingkari kursi roda Kakek Tetangga. Bagai terkait, kami tak mampu melepaskan diri dari setiap kata yang dikeluarkan Kakek Tetangga dalam ceritanya. Entah karena kekelaman yang ada di cerita itu, atau kami memang telah lama menantikan petualangan yang mendebarkan di luar desa kecil ini.

Suatu hari, ia bercerita tentang seekor kelelawar yang dapat mencuri jiwa. Kelelawar pencuri jiwa, hanya terlihat seperti kelelawar biasa. Mereka bersembunyi di kegelapan, mencari mangsa ketika matahari terbenam. Mengepakkan sayapnya meraup jiwa-jiwa yang kesepian, yang tertinggal, yang patah hati. Kelelawar pencari jiwa hanya punya satu pengenal fisik, di belakang telinganya terdapat bercak putih. Semakin banyak bercak putih yang ada di sana, semakin banyak pula jiwa yang sudah dilahapnya. Ketika mencapai batas tertentu, jiwa-jiwa yang telah dicurinya akan menyiksa Sang Kelelawar sampai mati.

Salah satu dari kami bertanya kenapa kelelawar itu tetap mencuri jiwa, padahal melahap banyak jiwa akan membunuhnya. Kakek tetangga berkata, di kegelapan banyak yang menemukan sisi yang tak pernah terlihat. Kesepian dalam kesendirian, terlupakan dalam keramaian. Mereka hanya ingin ditemukan di kegelapan.

PS: Foto di atas diambil dari artikel Ksatria Malam Penyambat Nyawa yang bisa dibaca di sini atau di edisi cetak National Geographic Indonesia Juli 2012.

Kamu, Kata Kerja

Dunia kerja (dan wawancara kerja) itu banyak faktor X-nya. Attitude dan skill jadi takaran yang bobotnya tidak pernah jelas. Yah, semacam suka tidak suka.

Turnover di dunia oil&gas pada umumnya dan EPC pada khususnya sangat tinggi. Tenaga kerja hilir mudik, resignapply, secepat cahaya. Karena kerjaannya cenderung sama di setiap perusahaan, kultur dunia kerja EPC itu “the highest bidder win“. Pernah denger dong kata-kata “If you want loyalty, go hire a dog“? Hal itu terbukti benar adanya, para buruh yang sudah experienced kebanyakan ngikut ke yang tawarannya paling menjanjikan. Loyalty-nya ada di profesi, bukan perusahaan. Walaupun ada yang bilang, beberapa faktor semacam lokasi kerja, project yang menantang, ataupun suasana kerja juga penting, ujung-ujungnya semua bermuara ke uang. Sedikit sekali yang nggak memegang prinsip ini, dan kebanyakan, orang yang masuk golongan ini:

1. Nggak terlalu serius ataupun nggak butuh-butuh amat untuk berkarir di bidang ini.
2. Visi karirnya pengen ke management, bukan profesional.
3. Orang hebat, mungkin.

Ya lagi-lagi, semacam suka tidak suka tapi itu kenyataannya.

Perusahaan EPC pada dasarnya adalah perusahaan yang terbangun oleh tim multi disiplin. Core keilmuan disiplin tersebut pastinya beda-beda, dengan bobot pekerjaan dan tingkat kesulitan yang berbeda-beda antar satu project dan project lainnya. Hal semacam ini, kadang bikin rasis. Semuanya pengen dianggap bobotnya paling besar, semuanya pengen pekerjaannya dianggap paling rumit. Padahal kalau salah satu aja nggak berfungsi, ya bubar project-nya. Dan kalau dipikir lagi, karena latar belakangnya beda-beda ya susah bandinginnya. Walau ada yang bilang kesulitan suatu disiplin bisa dilihat dari besar rata-rata gaji yang dibawa pulang disiplin tersebut (yang katanya sih, salary rata-rata terbesar masih dipegang oleh para Process Engineer dan Piping Engineer).

Dunia kerja itu kotor. Industri oil & gas itu kotor. Permainan uang dan kepentingan (sekelompok orang) itu masih terlalu sulit untuk dipahami.

Semua yang ada di artikel ini (sayangnya) banyak benarnya :P

Saya masih karyawan remahan yang belum berhak diberi kesempatan untuk menilai baik/buruk dan benar/salah, jadi saya cuma ingin bilang jangan terlalu mudah mengatakan ‘keluar’. Keluar dalam artian apapun. Di usia yang masih muda ini dan lingkup industri yang itu itu saja, kita harus menjaga sikap dan kata-kata kita. Dan yang paling penting, menjaga pikiran dan visi, jangan terlalu gampang bilang benci ini benci itu, berhenti saja, cari yang lain saja. Harus ada alasan yang kuat dan tanggung jawab yang besar dibalik semua kata. We still have to live with the responsibility, whatever your definition of responsibility is.

PS: Random dan menurut saya.