buram

I.
Tersusun dan terbongkar barang warna-warni.
Menunjuk satu, mengambil satu, membuang dua.
Ketika udara menipis dan telinga berdenging.
Lagu tentang pulang dan jumlah yang melenyap.
Dua tiga pasang diberangkatkan dan terasing.
Kami hanya sebagian kecil yang mungkin tak pernah teranggap.

II.
Di dalam kabin hijau-putih-biru.
Semua berharap agar selamanya malam, agar semua api padam dan letusan telah lenyap.
Mengabur dan terlupakan.
Hilang dan tenggelam
Bersama semua yang ditelan gelap.
Sayangnya Sang Api tak pernah dipadamkan.

III.
Apa pernah kamu menyentuh angkasa dan melihat ke bus hitam yang melenggang dengan ringan.
Berjalan pelan di atas awan.
Apa pernah kamu sampai ke tempat di mana batas laut dan angkasa mengabur.
Dan merasa bahwa tempat ini bukanlah tempat yang selama ini diimpikan.
Apa pernah kamu menyalakan lilin raksasa yang dihujat tapi mampu menghasilkan emas dari air.
Bersama para pembuat keributan, kami menyalahkan dan membodoh-bodohi.
Sebenarnya, kami sama bodohnya dengan mereka.
Kami semua adalah para pendosa yang merasa benar.

duduk harap

Sepertinya kita pernah duduk di sini. Memandang langit sampai pagi. Duduk di tanah dan berharap ini rumput. Melihat awan dan berharap itu bintang pagi. Melihat satu titik terang dan berharap itu benar-benar bintang pagi.
Kamu tahu? Sekarang bahkan belum larut dan lampu-lampu baru mulai dinyalakan. Dan mungkin, kamu akan bercerita tentang peluit, semboyan, dan masa kejayaan. Dan saya akan bercerita tentang lautan dan sebuah negeri yang melayang.
Lihat, lagi-lagi titik terang.

Kali ini, saya berharap itu Saturnus.

saya. rasa.

Saya (dan mungkin juga kamu) tahu bagaimana merasa. Walau kadang tak mengerti artinya rasa. Bertanya-tanya mengapa harus ada kata, ketika harusnya sudah cukup hanya rasa.

Merasa hanya soal kesempatan.

Kesempatan untuk sadar ia telah ada. Beruntunglah para perasa, mereka yang mengerti dinamika masa. Walau merasa-rasa kadang sia-sia, membuang asa yang harusnya dipakai tertawa.

Ini ambil saja. Untuk saya, cukup rasa ini saja yang tersisa. Saya sudah tidak cukup perasa untuk melihat ke luar sana.

apa yang tak tahu ada

Kamu tahu rasanya sakit hati, dan penantian. Seperti ia yang tak kunjung datang. Seperti apa yang tak tahu ada.

Katakan saja kamu suci, dan sebenarnya tidak mungkin. Seperti saya dan mereka, tersakiti dan mencintai. Kepada apa yang tak tahu ada.

Di tanah ini adalah seberang, tergantung di mana kaki kita berpijak. Tak bergerak dan tak beranjak. Ingin merangkak tetapi kepada siapa.

Ini bintang. Masukan ke saku dan tebak sampai kapan. Mengharap apa yang tak tahu ada.

Dari sana terlihat apa? Di seberang hanya kadang. Terlihat jarang dan tetap menerawang. Melihat apa yang tak tahu ada.

Di sana mungkin gelap. Saya bersyukur di sini terang. Tidak perlu menebak masa depan, karena menjalaninya lebih benderang.

on intersection of happiness

On intersection of happiness, a choice is still a choice. No matter what other people say and how risky it might be. Don’t rely yourself on some freaking compass or map, it won’t work. Because the brokenhearted may blow you away and left your puzzle undone. Your mind is racing against the sand, clock’s ticking and sometimes the best thing to do is follow the stream. Along with the river, swim we will. Surrender the soul to breathe once more. To find the perfect was once misspelled purrfect, and where’s the finish line if you’re only after what’s better. Over thinking may not be the best idea, and there’s no such thing as the right timing. Distance is a risk one can make, but don’t blame the earth for staying where it is. It once told you that it is wiser to calm down and sits patiently. Waiting for the storm to pass, waiting for the kiss that sent behind every wind, between the voices of the falling leaves.

Here lies the string of Paul when the sweet sound of John sets the mood. And all you need is love, all you need is love.

Good luck, friend(s) ♥