The Fall

In the game between feelings and reality, there is one who always wins anyway. Truth.
Do you hear the sound in your head that used to guide you to tears or laugh? Does it matter anymore in the sake of happiness?
Shoot for the moon, they say. But in order to do that, one needs to fly. Whether you landed amongst the stars or landed here on earth, it is the flight that matters. The jump and the fall, the excitement and the pain.
Everyone meant to be brokenhearted, yet everyone deserves happiness. So, take this fall, and after this, let’s hug the galaxy.

There’s plenty of fish in the sea, but there’s always plenty of stars to catch in the sky :)

Naik Kereta Keliling Jawa

Setelah tahun lalu tanpa sengaja mendapat link tentang perjalanan keliling Jawa dengan kereta, saya cukup terobsesi untuk mengadakan perjalanan yang sama. Sebenarnya niatan untuk melakukan perjalanan ini sudah ada beberapa waktu sebelumnya ketika membaca Traveler Indonesia dengan liputan utama yang sama. Akhirnya dengan sisa field break yang belum diambil dan long weekend pertama di tahun 2012, saya kesampaian juga naik kereta keliling Jawa.

Hal yang pertama direncanakan tentu saja rute perjalanan. Kereta apa yang digunakan dan jadwal yang tepat sehingga waktu 3 hari yang saya punya tidak terbuang percuma. Cara termudah mengefisienkan waktu adalah mencari kereta malam sehingga menghemat uang penginapan dan ‘tau-tau sampai’ :P. Saran saya sih untuk yang berminat lewat Jalur Utara, wajib hukumnya mencari jadwal kereta pagi/siang, too good to be missed. Awalnya saya sudah merencanakan untuk menaiki 6 kereta, dengan rute Jakarta – Bandung – Malang – Surabaya – Banyuwangi – Surabaya – Semarang – Jakarta. Tapi karena waktu yang tidak memungkinkan dan karena kehabisan tiket (padahal saya beli hampir sebulan sebelumnya), akhirnya cuma kesampaian naik 4 kereta saja. Sempat ganti rencana mendadak di loket karena kehabisan tiket Argo Sindoro (Semarang Tawang – Gambir) untuk pulang, untungnya teringat Fajar Utama yang berhenti di Stasiun Pasar Senen. Rute yang dipilih akhirnya Bandung – Surabaya – Banyuwangi – Surabaya – Semarang – Jakarta. Dengan kereta yang dipilih Argo Wilis – Mutiara Timur – Mutiara Timur – Gumarang – Fajar Utama.

Read more

Envy

Envy is a strong word.

Melihat teman-teman (apalagi teman-teman dekat) meraih sesuatu yang lebih dari kita, kadang bikin minder. Entah mereka dapat pekerjaan bagus, atau dapat beasiswa nun jauh di sana. Padahal seharusnya kita ikut merasa bangga atas apa yang dicapai si teman dan menjadikannya cambuk semangat untuk berusaha lebih lagi.

Sometimes in my bizarre insane times, I got down so much that I blame myself for all those inability. To do great is never going to be my thing. I kept questioning why I couldn’t get the same chances, the same success.

Tapi kemudian saya sadar, teman-teman saya yang punya pekerjaan di perusahaan multinasional mungkin belum pernah membantu orang lain meneruskan sekolah. Teman-teman saya, yang digaji besar atau digaji dollar, bisa membiayai adik-adiknya bayaran SPP, toh saya juga bisa. Jadi apa yang sebenernya saya permasalahkan? Apa ukuran sukses bagi masing-masing orang?

But what’s the point of all the glory, if you’re not doing something for others? If you’re not touching anyone?

Saya menertawakan teman saya yang pindah haluan ke perusahaan Tambang hanya karena ingin bekerja di ‘perusahaan yang punya nama besar’ (di kasus ini walaupun dengan embel-embel terkenal dari segi gaji malah down grade istilahnya, dari segi experience-pun terlihat mundur dan bergaji lebih). Tapi kemudian saya sadar bahwa saya sedang menertawakan diri sendiri. Apa bagusnya kerja di perusahaan besar dan terkenal, disebut hebat oleh orang lain kalau punya waktu untuk membantu orang lain saja tidak ada? Ketika saya mendengar pendapat teman yang bilang kalau dengan mencari uang yang banyak, dia ingin membantu orang lain. Saya malah menertawakannya lebih kencang, membantu itu harusnya ada ketika ada niat. Karena membantu tidak melulu tentang uang (walaupun pada kenyataannya uang akan sangat amat membantu).

In the end, I found relieve.

Tujuan akhir manusia saya bukan untuk dikenal karena titel perusahaan, karena harta melimpah, apa lagi karena gengsi, tapi saya ingin dikenal dengan seberapa banyak saya menyentuh orang lain untuk meraih mimpinya.

Terdengar seperti pembenaran? Tapi saya sangat yakin dengan pilihan ini. Terlalu, sangat, yakin.