Menerima Hangat

Minggu lalu, saya kembali menghadiri acara ceritaperempuan.id yang diadakan di Jakarta dengan judul ‘Berbicara Jujur Mengenai Post Partum Depression’. Tema tentang depresi setelah melahirkan adalah suatu hal yang belum banyak dibicarakan di ruang publik. Banyak gerakan tentang kesetaraan gender, banyak kegiatan tentang hak-hak perempuan dalam dunia kerja, tapi justru kegelisahan setelah menyandang kata ‘ibu’ jarang diceritakan secara terang-terangan. Padahal, menjadi seorang ibu adalah hal yang paling dekat kaitannya dengan perempuan. Topik mengenai Post Partum Depression (PPD) dan tema mengenai motherhood secara keseluruhan merupakan hal yang ingin sekali saya pahami. Bukan karena saya sudah menikah dan mungkin akan menjadi ibu nantinya, tapi karena semuanya terasa asing bagi saya. Saya tidak lagi bisa merujuk kepada kata-kata ibu saya sendiri, karena mungkin, ibu masa kini lebih mempunyai banyak permasalahan dan tantangan yang harus dihadapinya.

Buat saya yang sudah pernah beberapa kali datang ke Sesi Berbagi ceritaperempuan.id, acara kali ini mungkin bisa dibilang acara yang paling besar yang diadakan di Jakarta. Bertempat di Twinhouse Cipete, acara ini merupakan hasil kerja sama dengan woop.id dan googaga, dua nama yang mungkin tidak asing lagi di kalangan ibu-ibu Jakarta. Acara ini dipandu oleh Puty yang sudah sering bercerita tentang kesehariannya sebagai ibu lewat ilustrasi buatannya.

Acara kali ini dimulai dengan pembacaan puisi dari Mba Kiky tentang keseharian menjadi Ibu. Cara Mba Kiky bertutur membuat saya masuk ke sebuah rumah dan mengintip sebuah ruang kecil yang begitu personal; tentang balok-balok kayu dan sebuah ciuman yang diberikan ketika sang buah hati terlelap. Pembuka yang sangat tepat untuk mengantarkan kita memulai pembicaraan pada pagi itu.

Read more

#31postfor31

Is it that time of the year again? I’ve started doing this thing to commemorate my upcoming birthday and I think I’m getting better each time :)) Last year, I managed to write 23 posts from the original plan of producing 30 posts under the tag #30postsfor30. An improvement from the 20 posts I wrote from #28postsfor28. So today, let’s start the countdown and write more things.

I realized I write less and less lately. I become sensitive to things and less sensitive to my own thoughts. I guess there’s a part of me who becomes too lazy to process feelings and it becomes harder to weave it into a thread of thoughts. I know I still have it in me, but it’s buried too deep I sometimes couldn’t summon it.

Usually, I wrote a lot of things at the beginning of the year, what I want to learn, what I want to achieve. But I didn’t write any this year. Maybe I’m just too tired of life, I didn’t have time to think about it as the year flies by. So I only have one wish and goal this year. I want to be honest with myself, with all my feelings. Here’s an attempt of doing so. Let’s welcome the first official post of #31postsfor31.

Hope you enjoy the ride :3

Reassurance

In the sea of tears, under the blazing sun.
Sending letters, to our future self.
Being unsure about things.
Doubtful about any feelings.
Do we get excited anymore?
For the smallest things and the everyday feelings.

I wrote hundreds of lines for you.
About being in love, with the universe and the only life we have.
Most of the time, I’m afraid I cannot keep my words.
I’m afraid I will keep failing that I cannot be the person you always think of.
Here I am anyway, not as brave and optimistic as my younger self.
Still, have a lot of love to give.

Looking forward to other hundreds of lines on progress.

Suara-Suara

Di balik gegap gempitanya Asian Games yang baru saja berakhir, bulan Agustus kemarin media nasional juga sempat dipenuhi oleh putusan kasus Meiliana yang mengeluhkan suara azan yang dianggap sangat keras. Kejadian ini berlanjut dengan adanya kerusuhan warga di Tanjung Balai, Sumatera Utara dan berakhir dengan perusakan tempat ibadah dan tempat-tempat pelayanan publik lainnya. Berita ini menyita perhatian publik karena Meiliana yang seorang keturunan Tionghoa mendapat putusan pengadilan yang lebih berat daripada pelaku perusakan tempat ibadah yang memakan kerugiaan materiil yang cukup besar. Petisi untuk mengubah putusan pengadilan terhadap Meiliana saat ini sudah mencapai lebih dari 200.000 tanda tangan. Baca juga hasil penelitiaan PUSAD tentang kasus ini di sini.

Salah satu hal yang menyita perhatian saya setelah membaca pemberitaan tentang kasus ini adalah digunakannya speaker dan amplifier bermerek TOA sebagai salah satu bukti yang diajukan jaksa. Pengajuan bukti ini, menurut saya, sama sekali tidak berhubungan dengan pembuktian maupun berpengaruh pada putusan kasus. Tetapi, kedua barang ini dapat kita teliti untuk mendalami suatu aspek penting di kasus ini.

How loud is too loud?

Sebagai pendahuluan, walaupun sekarang lebih sering menjadi admin toko dan bekerja di depan Adobe Illustrator, saya pernah bekerja sebagai engineer dan memiliki background pendidikan sebagai Sarjana Fisika Teknik. Salah satu bidang keilmuan yang ada di kuliah saya tersebut adalah Fisika Bangunan. Dimana di dalamnya mencakup sub-studi Akustik yang mempelajari tentang sifat-sifat suara dan getaran, serta aplikasinya dalam kehidupan. Dalam penerapannya sehari-hari, ilmu Akustik dapat digunakan untuk merekayasa ruangan agar dapat memenuhi mutu standar (contoh: gedung konser) ataupun merekayasa suara agar dapat memenuhi kondisi yang diinginkan (contoh: speaker di dalam bioskop).

Read more

The Night Before Monday

It’s Sunday night and I’ve finished listing down my to-do list for next week. So, I thought I will write here before midnight greets. It’s been quite a while for the obvious Random Round-Up, so here it comes again.

Every single year, I always want to add more books to the rack but I’m completely aware of my limited budget to do so. Foreign books nowadays cost around IDR 150.000 – IDR 400.000, so I always prefer to get the Indonesian translated version because it’s way cheaper. I can’t read an e-book, because my work is related closely to my laptop and I want to limit my interaction to electronic screen. Besides, the only devices I can use to read an e-book are my laptop and phone. The screen size is either too big or too small, which make both uncomfortable to use. But last week, I found this promo from Gramedia website. Paket Merdeka gives the opportunity to buy a bundle of books according to a genre which features 1 best seller book and 4 mystery books. There’s also a Mystery Blind Bundle which include 5 mystery books from various genre.

The concept itself is not completely new, POST has been organized a couple of Blind Date with A Book events, where the customer buys a book without knowing what the title is. But I think it’s a fresh approach for Gramedia and a nice way to clean up their inventory :P I choose Paket Sastra 2 and though I just started reading them, I’m totally satisfied with all of my books :3

Read more