Suara-Suara

Di balik gegap gempitanya Asian Games yang baru saja berakhir, bulan Agustus kemarin media nasional juga sempat dipenuhi oleh putusan kasus Meiliana yang mengeluhkan suara azan yang dianggap sangat keras. Kejadian ini berlanjut dengan adanya kerusuhan warga di Tanjung Balai, Sumatera Utara dan berakhir dengan perusakan tempat ibadah dan tempat-tempat pelayanan publik lainnya. Berita ini menyita perhatian publik karena Meiliana yang seorang keturunan Tionghoa mendapat putusan pengadilan yang lebih berat daripada pelaku perusakan tempat ibadah yang memakan kerugiaan materiil yang cukup besar. Petisi untuk mengubah putusan pengadilan terhadap Meiliana saat ini sudah mencapai lebih dari 200.000 tanda tangan. Baca juga hasil penelitiaan PUSAD tentang kasus ini di sini.

Salah satu hal yang menyita perhatian saya setelah membaca pemberitaan tentang kasus ini adalah digunakannya speaker dan amplifier bermerek TOA sebagai salah satu bukti yang diajukan jaksa. Pengajuan bukti ini, menurut saya, sama sekali tidak berhubungan dengan pembuktian maupun berpengaruh pada putusan kasus. Tetapi, kedua barang ini dapat kita teliti untuk mendalami suatu aspek penting di kasus ini.

How loud is too loud?

Sebagai pendahuluan, walaupun sekarang lebih sering menjadi admin toko dan bekerja di depan Adobe Illustrator, saya pernah bekerja sebagai engineer dan memiliki background pendidikan sebagai Sarjana Fisika Teknik. Salah satu bidang keilmuan yang ada di kuliah saya tersebut adalah Fisika Bangunan. Dimana di dalamnya mencakup sub-studi Akustik yang mempelajari tentang sifat-sifat suara dan getaran, serta aplikasinya dalam kehidupan. Dalam penerapannya sehari-hari, ilmu Akustik dapat digunakan untuk merekayasa ruangan agar dapat memenuhi mutu standar (contoh: gedung konser) ataupun merekayasa suara agar dapat memenuhi kondisi yang diinginkan (contoh: speaker di dalam bioskop).

Read more

The Night Before Monday

It’s Sunday night and I’ve finished listing down my to-do list for next week. So, I thought I will write here before midnight greets. It’s been quite a while for the obvious Random Round-Up, so here it comes again.

Every single year, I always want to add more books to the rack but I’m completely aware of my limited budget to do so. Foreign books nowadays cost around IDR 150.000 – IDR 400.000, so I always prefer to get the Indonesian translated version because it’s way cheaper. I can’t read an e-book, because my work is related closely to my laptop and I want to limit my interaction to electronic screen. Besides, the only devices I can use to read an e-book are my laptop and phone. The screen size is either too big or too small, which make both uncomfortable to use. But last week, I found this promo from Gramedia website. Paket Merdeka gives the opportunity to buy a bundle of books according to a genre which features 1 best seller book and 4 mystery books. There’s also a Mystery Blind Bundle which include 5 mystery books from various genre.

The concept itself is not completely new, POST has been organized a couple of Blind Date with A Book events, where the customer buys a book without knowing what the title is. But I think it’s a fresh approach for Gramedia and a nice way to clean up their inventory :P I choose Paket Sastra 2 and though I just started reading them, I’m totally satisfied with all of my books :3

Read more

Here Right Now

Growing up in this era, sometimes made me confused which values I should hold onto more. My circle of friends is getting older in terms of age. They should be in the late 20s or starting their 30s. Some of them gained a new circle and become a clique. Some stays, convince themselves that they stay in the loop by saying hello in the chat room every two weeks, or a month. It’s a surprise that a friend just hops from another company to another, some started their own YouTube channels, some just stop running and trying to settle with their routine.

The trend always comes and goes. There was a time when travelling becomes a thing (or always a thing), then coffee tasting (or cafe hopping), then marriage preparation and parenting method seminar (which make the singles become so sick of hearing it), and then financial awareness (suddenly everyone is about to invest, in something they don’t understand but trying so hard to understand). Is it really a trend or is it just a phase of growing up?

I sometimes wonder what they talk at home. When the TV is turned off and the light dimmed down. With their spouses or with themselves, within the walls between their beds. Family-related issue? Politics? The newest gossips in town? The new tips in finance? The meaning of life? Or simply, nothing? I know that life is already tiring as it is.

Read more

The Other Skincare Routine

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berbagi tentang skincare routine yang saya gunakan. Di post tersebut, saya menganjurkan bahwa kalau punya teman/saudara yang berjenis kulit sama, kita bisa share skincare supaya lebih hemat. Nah, karena sejak bulan Maret kemarin saya pindah ke rumah baru dan tidak lagi tinggal bersama kakak, saya tidak bisa lagi share essence dan serum favorit. Akhirnya sayapun memutuskan untuk membeli 1 set skincare routine baru menggantikan beberapa produk yang memang sudah habis. Kali ini, saya mencoba merek Cosrx.

Read more

Lenyap Ditelan Warna

Ketika masih duduk di bangku SMP, saya terobsesi dengan segala hal tentang Jepang. Mulai dari anime, manga, dan kebudayaan Jepang. Biaya penggunaan internet masih sangat mahal saat itu. Ada suatu ketika di mana saya melambungkan tagihan telepon rumah sehingga orang tua saya melarang saya menggunakan komputer. Tapi di antara puluhan manga scan dan fanfiction, di antara berita-berita absurd seputar Jepang, untuk pertama kalinya saya melihat sebuah ruangan putih yang lenyap ditelan warna.

The Obliteration Room yang merupakan karya Yayoi Kusama dipamerkan pertama kali di Queensland Art Gallery pada tahun 2002. Saya bahkan tidak ingat siapa seniman yang sedang dibicarakan, tapi saya merasakan sesuatu yang baru. Melihat bagaimana manusia bereaksi pada sesuatu merupakan hal yang menarik bagi saya sejak kecil. Sehingga melihat ruangan dimana barang-barang rumah tangga dicat serupa untuk kemudian ‘dilenyapkan’ dalam timbunan bulatan warna-warni adalah suatu hal yang merangsang rasa keingintahuan saya.

Pengetahuan saya tentang Kusama maupun karya-karyanya tumbuh seiring waktu. Labu raksasa, bintik-bintik kuning, bola-bola perak, ruangan gelap yang bersinar warna-warni. Dan suatu ketika, karya Kusama terus menerus muncul di halaman muka media sosial yang saya miliki. Saya melihat antrian panjang dan bagaimana orang-orang berfoto di depan karya Kusama. Mereka menempelkan bulatan warna-warni di wajahnya, di depan ruangan putih dan barang-barang rumah tangga yang dicat putih. Ruangan yang sama dengan ruangan yang pernah saya lihat di depan layar tabung di suatu kamar gelap di suatu sore. Ruangan putih yang lenyap ditelan warna.

Read more