Tanggal 21 April kemarin, seperti biasanya, masyarakat Indonesia merayakan Hari Kartini. Waktu kecil dulu, saya terbiasa merayakan hari tersebut dengan memakai baju daerah, kemudian berubah menjadi kebaya atau rok semasa kuliah dan bekerja. Di tahun-tahun tersebut, saya merasa tidak memaknai Hari Kartini yang sesungguhnya karena saya pikir, hari tersebut hanya gimmick belaka. Sama seperti hari simbolis lainnya, hari tersebut dijadikan beberapa toko (termasuk toko saya) untuk meraup keuntungan lewat iming-iming diskon. Saya juga tidak pernah (dan belum tertarik) membaca buku Habis Gelap, Terbitlah Terang selama ini. Tapi, selalu ada yang menggelitik di setiap tahunnya. Hari Kartini tidak pernah luput dari perdebatan.
Kenapa Kartini?
Pertanyaan tersebut selalu ada setiap tahunnya. Selalu dibahas dengan cara yang berbeda, tapi intinya selalu sama: “Apa yang membuat Kartini mendapat hari tersendiri di kalender dengan segala privilege yang dimilikinya?“. Kartini tidak mengangkat senjata. Kartini lahir di keluarga berada. Kartini hanya menulis surat. Sementara itu, beberapa orang akan membela Kartini dan mengatakan bahwa di usianya yang sangat muda dan budaya Jawa yang sangat ketat, pemikiran Kartini sangat maju pada zamannya. Jika dilihat lebih dekat, tidak ada yang benar-benar salah.
Read more