The Day of Blessings

Nggak kerasa sudah lebih dari sebulan, saya berhenti menulis di sini. Bukannya sok sibuk atau tiba-tiba malas menulis, tapi saya nggak tahu mana yang sebaiknya dibagi dan mana yang tidak dibagi di kehidupan saya. Batas privacy di dunia maya memang sudah mengabur, tapi saya masih berusaha untuk bisa menyeimbangkannya.

Akhir bulan Maret kemarin, saya menikah. Berkebalikan dengan fakta bahwa saya hidup di kota besar dan tumbuh dengan film Disney, saya tidak pernah terpikir tentang pernikahan. Kalaupun ada orang-orang yang ingin merayakan pernikahan dengan mengundang teman-teman terdekat saja, saya bukan salah satunya. Mendengar ‘perayaan’ dan ‘pesta’ saja sudah membuat saya tidak nyaman. Sejak lulus kuliah, saya memang lebih banyak menutup diri dan membatasi lingkup pergaulan (bahkan hasil tes kepribadian saya berubah dari extrovert ke introvert sejak 8 tahun ke belakang). Saya memang tidak nyaman berada di keramaian sejak lama, tapi saya merasa kondisi saya lebih memburuk akhir-akhir ini. Itulah sebabnya persiapan dan momen pernikahan saya kemarin adalah suatu masa yang paling ingin segera saya lewati secepatnya.

Read more

The Course

I need you to stay warm.
Because the night is long and we need to survive it.
The road might be a little hard to handle, but we will need to try harder.
That’s why I need you to keep walking.

It looks like we’re all alone in this thick fog, but don’t worry it too much.
Others are struggling on this course as much as we are.
That’s why we need to endure it for a little more.

After this, the dawn might greet us.
And we’ll see the brighter side of each other.
Under the rose-pink lighted sky.
Between our smiles.

Kamu di dalam Dunia

Masalah, makanan ringan sehari-hari. Teriakan atau tangis, diputar berulang kali. How hard is too hard? Setiap hari, saya disuguhi berita, cuitan, layar gelap dengan tulisan panjang. Cerita tentang manusia-manusia. Mulai dari cerita biasa tentang seseorang yang menggunakan pin pelangi, sampai masalah kekurangan gizi. Tentang kelelahan membagi waktu antara pekerjaan dengan anak atau wabah penyakit. Kadang, saya tidak tahu lagi yang mana yang lebih penting. Kadang, saya sadar kemana hidup saya ingin saya lanjutkan, di lain waktu, saya hilang arah. Kadang, saya lupa siapa saya dan apa yang sedang saya lakukan.

Hari ini, saya ingin mengajak kamu untuk menutup mata sejenak. Bertanya kepada diri sendiri tentang seberapa lelahnya kamu. Menyadari bahwa di tengah-tengah dunia, ada saya dan kamu berdiri di dalamnya. Mungkin terlupakan oleh dunia, mungkin terlalu kecil untuk dilihat. Tapi ia ada, dan sangat berarti. Masalahmu hari ini, mungkin kecil, tapi ia singgah untuk diselesaikan.

Hari ini, beri waktu untuk dirimu sendiri untuk merasakan segarnya segelas air atau merasakan dari hati bagaimana indahnya sebuah lagu. Tidak apa kalau kamu ada di pinggir jalan menanti bis, bukan duduk di kursi bisnis pesawat. Tidak apa kalau kamu duduk di kursi tunggu rumah sakit, bukan di ruang ber-AC dalam pusat perbelanjaan. Atau dalam ruang ternyaman di dunia, rumah.

Terlampir doa, untuk semua yang kelelahan.

Saya ingin kamu tahu, you’re doing alright.

Now Scrolling, Vol. 3

Kemarin, saya membaca thread di Twitter tentang beberapa orang yang memutuskan untuk tidak menggunakan Instagram karena kebiasaan pamer di dalamnya. Hal ini memicu si pengguna untuk konsumtif karena ingin memamerkan hal yang sama dengan orang lain. Saya sih nggak ingin mengerdilkan masalah psikis orang lain. Saya paham respon manusia pasti berbeda-beda jika melihat sesuatu, ada yang bisa turut depresi atau ada yang merasa inspired. Menurut saya, wajar kalau misalnya orang merasa iri atau dengki, tapi bagaimana setelah itu? Apa yang harus kita lakukan agar kebiasaan tersebut tidak meradang di diri sendiri. Saya pernah menulis ini, salah satu runutan agar kita lebih jujur dalam memahami perasaan sendiri.

Selain itu, saya termasuk orang yang suka membersihkan feed/timeline dari hal-hal negatif dan nggak bermanfaat buat saya. Jadi, saya sebisa mungkin memang follow orang-orang yang bisa memberikan energi positif sebanyak energi yang saya lepaskan ke dunia. Beberapa waktu yang lalu, saya sempat menulis seputar akun-akun di Instagram yang saya follow di bawah judul Now Scrolling. Hari ini sepertinya, saya punya alasan untuk melanjutkannya. This list is totally random, but it does make me feel better and giving me positive vibes every time I saw their posts.

Read more

Menulis dari Hati

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membaca post Puty seputar Blogging. Isinya sendiri berkisar tentang tips dan trik untuk memulai nge-blog dan bagaimana untuk selalu konsisten. Menurut saya, post-nya menarik banget apalagi buat yang nggak tahu harus memulai darimana ataupun ingin mulai menjadikan blog sebagai penghasilan. Saya sendiri mulai menulis dan punya blog sekitar tahun 2008 semasa kuliah. Isinya tentu nggak jauh-jauh dari luapan perasaan maupun jurnal sehari-hari. Karena kebetulan saya suka menulis puisi, tentu penulisannya penuh dengan ‘kode-kode’. Ini salah satu tulisan saya tahun 2010.

Seiring waktu, saya merasakan bahwa momen menulis di blog adalah sebuah cara untuk relaksasi buat diri sendiri dan membuat saya merasa lebih produktif karena ‘menghasilkan sesuatu’ walaupun cuma sebaris atau dua baris kalimat. Sampai saat ini, isi blog ini masih cenderung berisi pemikiran saya, puisi/cerita, dan beberapa tips maupun inspirasi yang saya dapatkan sehari-hari.

Saya termasuk orang yang suka melihat sisi positif suatu keadaan. Jadi, merebaknya kembali blog dan fungsinya yang sudah bisa menjadi lahan penghasilan ataupun pekerjaan, membuat saya turut berbahagia. Walaupun banyak blog yang lebih berbentuk ‘majalah’ dan berisi review produk ataupun lebih ke profit-oriented, saya nggak lantas kesal. Karena pada akhirnya, lebih banyak kata yang dibagi ke dunia and that’s what matters :3

Tapi apakah semua blog zaman sekarang harus profit-oriented? Harus selalu ada foto flat-lay-nya? Apakah setiap post harus lebih dari 1000 kata? Nah, kali ini saya mau berbagi tips menulis versi saya dan beberapa manfaatnya. Saya sadar sih, saya nggak terlalu punya banyak achievement dari menulis. Pengalaman menulis saya cuma seputar menulis di blog, menulis script beberapa film pendek amatir, dan review film. Saya nggak pernah nulis buku ataupun blog post saya dibaca ribuan orang. Tapi seperti yang sudah saya bilang, kegiatan menulis membantu saya menemukan diri sendiri dan mungkin suatu saat akan membantu kamu menjadi pribadi yang lebih baik.

Read more