Color Is Not Colored

Few days ago, me and my sister passed a mother who tried to teach her child about colors by showing him a couple of color cards and matching it with some objects in a picture book. My sister, who is impatient by nature, immediately mumbled that it will be hard work to teach child about colors, number, and any base knowledge about life. That kind of knowledge set are already rooted in the back of our head so planted it in another person’s life will be a big challenge. Afterall, red will be red and blue will be blue.

It’s actually interesting. That set of knowledge is, what I think, what limit us from thinking differently. The statement of ‘Red will be red’ suddenly ends the question marks and the curiosity. Why shouldn’t Red be Yellow or Orange be White? Why is Red named Red afterall?

Few months ago, I stumbled upon an amazing creation, A nameless paint. It’s amazing to think about what possibilities can be made by not assigning any names to a paint. Will red be named Cherry Lips? Or yellow be named Sunshine Kiss? I personally would love to see curious children named Green by Traumatic Veggies :3

I tried to take black and white pictures once.
They are crisp and show a lot of emotion.
They are shown you in brightest night and muted noon.
But I cried then.
I don’t see you in the brightest dress and muted face.
I don’t see you behind the perfect hue blue lake and the contrast orange sky.
Color is not colored.

Between Spaces

Saya sering banget bilang kalau jumlah teman yang masih nulis blog bisa dihitung dengan jari, tapi sebenarnya jumlah blog di Indonesia ini saya yakin bertambah banyak. Zaman sekarang, pasti pernah dengar kata “Content Creator” atau “Influencer”. Waktu saya datang ke IdeaFest tahun lalu, ada segmen yang membahas tentang ini. Jadi intinya, blogger, YouTuber, Selebgram (I can’t believe, I’m actually typing this word), dll dikategorikan sebagai content creator. Di era digital sekarang ini, sebuah campaign produk/event konon katanya ada yang lebih sukses kalau diiklankan oleh para content creator dibandingkan lewat iklan konvensional macam banner koran, slot iklan TV, spanduk di jalan, dll. Emang sih kalau suka baca blog milik beauty blogger misalnya, sumpahnya emang jadi kayak percaya banget bahwa produk beauty ini dan itu bagus, harus dipadankan dengan produk yang ini :)) Karena kadang yaa, suara mereka mungkin terdengar “dekat” dengan keseharian kita mungkin. Kalau satu persatu blog yang banyak itu ditelaah, banyak yang sebenarnya isinya gitu-gitu aja dan ada beberapa yang nggak bagus-bagus amat. Tapi karena beberapa udah punya kultus tersendiri dan mungkin resonate ke kalangan tertentu, jadi semakin besarlah  impact-nya ke orang lain.

Nah, karena kemampuan meng-influence orang ini jadi banyak orang yang menyarankan untuk belajarlah “menulis yang benar” supaya bisa menghasilkan uang :)) Saya belum paham sih artinya “yang benar” itu seperti apa dan apa salahnya menulis untuk tidak mengharapkan uang. Tapi kadang memang kelihatan kalau baca blog orang lain ada yang promosi produk dengan “smooth” dan ada yang terlihat “hard selling”. Whatever it is, budaya menulis (disertai membaca) itu baik kok dan saya mendukung sekali perkembangan blog Indonesia yang makin beragam.

***

Nah di antara semua teman-teman yang masih rajin menulis di blog, ini daftar wajib saya setiap blogwalking (masih dipakai nggak sih istilah ini?):

Puty (http://told.byputy.com & http://bw.byputy.com)

Puty bisa dibilang pioneer banget deh dunia blog. Isi blognya Puty menyenangkan dan inspiratif sekali. Dulu sekali waktu saya masih memakai Diaryland, pernah kaget karena Puty pernah komen di salah satu post blog saya. Sempat ge-er gitu kok artis macam Puty tahu alamat blog saya, haha.

Dixie (http://herlittlejournal.com)

Kalau saya disuruh mengkategorikan tulisannya Dixie, saya sering menyebutnya tulisan macam ini sebagai melankolis romantis, haha. Dixie selalu melampirkan foto-fotonya yang bagus-bagus sekali. Kadang bingung sih, kayaknya kalau ada di tempat yang sama, saya nggak mungkin deh foto sebagus dia. Baru-baru ini, Dixie juga baru saja memulai bisnis fotografinya yang bisa dilihat di sini.

Ozu (http://nazuragulfira.blogspot.com)

Suka ngiri kalau lihat blognya Ozu karena kayaknya foto diri Ozu representatif sekali, kalau pakai outfit di kesempatan macam apapun pasti bagus dari atas sampai bawah. Saya juga selalu love love banget deh sama foto travel Ozu. Blog Ozu sering ditulis dalam Bahasa Indonesia dan membacanya enak sekali. Saya jadi sering terpacu turut menulis dalam Bahasa Indonesia setiap selesai membaca.

Sesha (http://medium.com/@anissays)

Dulu, Sesha sering menulis di Tumblr dan kemudian (saya tahu dari hasil stalking) pindah ke Medium. Tulisan Sesha bagus-bagus sekali dan entah kenapa saya suka sekali berbagai pilihan katanya. Jujur, penuh semangat, dan kadang sendu di bagian tertentu.

Kalau blog selain yang ada di atas, mungkin jatuhnya stalking tingkat dewa kali, ya. Soalnya udah ke ranah orang-orang yang tidak dikenal dan lebih sering jadi silent reader, haha. Kalau kamu masih sering menulis blog, kasih tahu saya yaa :)

Dan Cerita Tentang Lalu

Alasan utama saya membeli domain blog ini di tahun 2013 sebenarnya klasik, ingin banyak menulis. Tapi yaa kemudian mulai “awur-awuran” jadwal menulisnya. Tahun kemarin sendiri sempat berusaha meng-encourage diri sendiri untuk menulis setiap hari dan ternyata saya masih bisa kok, padahal waktu itu dilakukan di sela-sela waktu kerja. Saya pikir, ketika sekarang banyak waktu luang, kok malah tidak digunakan untuk menulis, ya? Haha. Seperti yang saya tulis di sini, saya ingin sekali melihat lebih banyak orang menulis kembali di blog. Tapi aneh sekali kalau saya nggak melakukan hal tersebut lebih dahulu :)) Jadi niatnya untuk sekarang, ingin mulai mencoba menulis rutin lagi di blog ini. Amin!

Saya mulai sering menulis itu awalnya karena sering membaca sejak kecil. Karena suka buku fantasi dan cerpen dongeng di majalah Bobo, jadilah saya suka menulis cerita macam itu. Tapi semua novel yang saya coba tulis selalu kandas karena malas ataupun datanya hilang (hiks!). Satu-satunya novel yang pernah saya tulis sampai selesai sebenarnya cuma satu, judulnya Kota Mimpi Hao. Ceritanya menurut saya keren abis, haha. Tentang seorang pemuda yang berniat membangun kota impiannya sembari mengelilingi dunia dan berkenalan dengan banyak orang selama perjalanannya itu. Salah satu chapter yang paling saya sukai adalah ketika si Hao ini datang ke kota blacksmith yang penduduknya yang selalu bekerja di malam hari. Sangking sukanya saya pernah menuliskan kembali cuplikan ceritanya tersebut di sini. Saya menulis ceritanya sewaktu SMP memakai Bahasa Indonesia. Sayang waktu itu data komputernya hilang :( Sudah berkali-kali ingin menulis ulang, tapi selalu saja nggak bisa selesai.  Read more

Next Great Adventure

What a (short) year it is.
It is hard to define a year.
Seasons change, people move along.
Colliding and disrupting each other path, making marks along the way.
Creating million possibilities of falling in love.
Creating million ways of being happy.

Happy wedding to three amazing friends who makes life easier to be laughed of.

Ijul & istri
Vina & Aftah
Sella & Doni

It’s too easy to say fate or luck made you all together. Because mostly, your effort is what made it happened. Kuselalu mendoakan yang terbaik untuk kalian semua :’) Have a great journey ahead and I’m excited to hear your next great adventure towards galaxies ???

Tentang Cinta dan Kata

(gambar diambil dari sini)

Untuk film yang “terlihat” dibuat untuk nostalgia, Ada Apa Dengan Cinta? 2 adalah dilema. Dilema karena penonton tidak akan pernah marah ketika kedua karakternya dipaksa bertemu lagi atas kebetulan yang semu. Dilema karena banyak adegannya dipaksa mengkontradiksi banyak adegan klise. Dilema karena turut serta semesta dipaksa memberi campur tangan. Dilema karena kami memang rindu. Dilema karena aktingnya seluruh pemainnya sangat natural. Dilema karena Cinta dan Rangga adalah harga mati.

Pada akhirnya, sayapun mentoleransi banyak hal yang ada di film ini. Ada Apa Dengan Cinta? 2 adalah film Indonesia pertama yang saya tonton dua kali di bioskop :))

Di antara semua dilema tentang film ini, ada satu hal yang sangat saya syukuri. Puisi dan sastra sempat menjadi poros film Ada Apa Dengan Cinta?. Kala itu, banyak Rangga dan Cinta baru tercipta. Mereka mulai membaca sastra Indonesia dan menulis lirik dan paragraf berima tentang cinta dan kehidupan. Banyak yang sinis karena mereka tampak seperti penonton bola karbitan, tapi bukankah semua orang harus mulai di suatu tempat?

Walau bukan menjadi fokus utama film Ada Apa Dengan Cinta? 2, tapi puisi-puisi Rangga menjadi nilai tambah film ini. Buku puisi Aan Mansyur yang berjudul Tidak Ada New York Hari Ini, sempat terjual habis di berbagai platform online dan kata-kata dalam Bahasa tiba-tiba kembali hadir di dunia.

Ketika platform social media semakin banyak merebak, satu-satunya yang saya sesali adalah semua platform tersebut seakan menggantikan fungsi sharing blog. Saya sempat kesal karena semua terasa semakin instan. Banyak teman-teman yang dulu sering menulis di blog, tiba-tiba hanya sempat bercerita tentang makanannya hari itu atau menulis sebaris kalimat tentang film yang baru mereka tonton. Saya paham fungsi masing-masing social media, tapi saya hanya ingin membaca lebih banyak hati dan pemikiran.

Saya ingin berharap lebih banyak, bahwa masih banyak kata-kata yang mengaduh untuk ditumpahkan. Masih banyak tulisan indah yang menunggu untuk menggugah. Saya tidak sabar untuk membaca lebih banyak. Saya tidak sabar untuk kembali jatuh cinta kepada kata dan Cinta.

PS: Baca juga review Puty tentang Ada Apa Dengan Cinta? 2 di sini.