Kamu

//July 12, 2010//

Saya ingin menulis tentang kamu.
Dengan kata-kata yang belum terucap lidah atau tertulis tinta.
Terbawa angin dan lantas menghilang.
Tetapi saya ingin sang kata terbersit hebat.
Dan kamu yang tertinggal dengan ingatan akan sang kata.
Tunggu sampai saya selesai memilih kata.
Dalam ratusan bahasa dan ribuan kamus.
Sulit, karena kamu terlampau istimewa untuk terucap.

Lain Kali III

Saya punya sekaleng cat untuk melukis, dan kuasnya sudah ada di tangan. Tapi hari ini saya tidak punya teman untuk bersenandung. Saya kira matahari dan udara pagi sudah cukup. Saya kira lagu ini dan angin sepoi-sepoi sudah mampu membuat saya menari. Saya butuh teh manis hangat atau lemon tea yang suam-suam kuku, dan saya akan duduk di depan teras. Menikmati hari sambil mengisi TTS atau menyapa para tetangga yang kebetulan lewat.

Hari ini sempurna, tapi saya tidak jadi lagi melukis di hari ini.

 

Surely, Someday

//July 04, 2010//

I wish we were Barney and Robin (or Ted and Robin). Sitting next to each other at McLaren, with usual smiles and usual jokes. Obviously, we’re not. We stand in line, I had fake laugh and pretend it will all be alright. It took a lot of strength to actually show up and saw you in the eyes. We promised, someday we will have high five and low down five. Yes, someday.

Playlist dan Hujan

//June 21, 2010//

Sudah puluhan jam saya mendengarkan satu playlist panjang yang berulang ini. Saya menskip, puluhan lagu sedih dan menambahkan lagu-lagu yang asing di telinga. Kapan lagi saya mendengar Lenka dan Lily Allen kalau bukan sekarang. Bukan tipikal lagu saya. Saya mengganti desktop background berkali-kali dan saya kembali pada rutinitas. Untungnya wisuda sebentar lagi, dan teman-teman saya sibuk mengajak saya kesana kemari. Kemarin ke Pasar Baru, menemani mencari kain. Kemarinnya lagi menemani mengambil foto di Jonas. Bagusnya saya bisa tertawa-tawa dan jadi tahu prosedur pendaftaran wisuda.

Malamnya saya berkutat dengan tabel-tabel Excel dan chat malam-malam (terima kasih ya, teman-teman baik hati yang mau menemani saya ngobrol :D). Sehingga saya mulai sering ketiduran. Akhir minggu ini, saya akan pindahan dan aneh rasanya, seperti memulai banyak ‘yang baru’. Padahal saya mulai berteman dengan dinding kamar, dan mengajaknya bercanda. Hal yang selama 4 tahun ini tidak pernah saya lakukan. Ingin rasanya punya teman imajiner dan mengajaknya ke stasiun kereta hanya untuk duduk termenung dan menghitung gerbong yang lewat.

Aah, playlist saya memutar Natalie Imbruglia dan di luar hujan tiba-tiba turun. Saya membuka jendela lebar-lebar, saya suka hujan (apalagi di pagi hari). Mengingatkan kepada nikmat Tuhan yang tidak berhenti, bahwa saya masih bisa melihat keindahan luar biasa ini. Bukan waktunya, merasa sendu lagi dan saya benci kalau dikategorikan dengan label ‘galau’. Saya benci kata itu. Tidak merepresentasikan perasaan yang spesifik, hanya kata gaul zaman sekarang, mirip dengan kata ‘labil’. Saya pikir saya tidak bisa menulis lagi, dan hanya bisa meracau tidak jelas. Padahal saya ingin menulis tulisan luar biasa seperti punya Puty dan punya Ramda. Ah, kalian keren sekali.

Ingin cepat pergi ke minggu depan dan memulai hari-hari seperti biasa lagi. Playlist saya kembali memutar Ash (ini tipikal lagu saya :P), artinya saya sudah siap kembali ke dunia nyata. Harus segera mandi dan kembali ke kampus. Menikmati jalanan bekas hujan rasanya menyenangkan. Selamat pagi, para penjaja kebahagian dan para pemabuk mimpi. Mari bertahan lagi hari ini, dan mari membuat matahari-matahari baru untuk dibagikan kepada para malam yang sedih.