Toy Story

//June 20, 2010//

 

Buat saya, menonton Toy Story 3 tidak sama seperti menonton ribuan judul film yang diproduksi setiap harinya. Ketika akhirnya terpaksa tidak menontonnya saat premiere, ada sesuatu yang menghinggapi saya sepanjang perjalanan. Saya mengulur banyak waktu untuk sampai ke bioskop, mungkin karena saya tidak ingin mengetahui kenyataan bahwa saya akan bertemu lagi dengan mereka, dan melepasnya untuk selamanya. Kalau ada yang belum tahu,

 

Toy Stoy adalah segala inspirasi buat saya.

Inspirasi tidak sama dengan suka atau cinta, penggemar atau fanatik. Inspirasi adalah sesuatu yang mengalir di seluruh denyut.

Ketika masuk ke bioskop dan duduk di kursinya (saya dapat salah satu kursi terbaik), saya merasa tak sabar, tapi juga merasa sedikit sedih. Logo PIXAR, bumper Walt Disney, film pendeknya (Day & Night is sooo gonna be my favorite PIXAR short movie after Gary’s Game), dan dentingan lagu itu kembali terdengar. Lagu yang sangat akrab di telinga saya, dan tebak saja, saya menangis di 5 menit pertamanya.

Saya tidak akan bercerita tentang alur cerita Toy Story 3, silahkan saksikan sendiri keagungan plotnya yang tidak pernah dibuat oleh pembuat sekuel manapun. Toy Story 3 mengambang di antara awan, tak terjangkau oleh film animasi atau film sekuel apapun. Saya menangis tak karuan di akhir film dan ketika lampu bioskop menyala, saya tahu saya akan melambaikan tangan kepada semuanya. Kepada Sherrif Woody dan Captain Buzz Lightyear, kepada semua yang telah mengisi hari-hari saya. Credit title filmnya diputar, lagunya berbahasa Spanyol, satu persatu penontonnya keluar dan saya masih duduk di sana. Ketika saya mengingat, saya selalu duduk di sana. Menyaksikan PIXAR membuat kehidupan baru setiap tahunnya, sejak hampir belasan tahun lalu.

Toy Story di tahun 1995, dan mimpi sayapun dimulai.

Saat itu saya masih bocah dengan rambut berantakan (sekarangpun begitu), dan saya bersumpah nama saya akan ada di salah satu baris credit title filmnya. Nama saya akan ada di sana. Setelah itupun, setiap saya menginginkan sesuatu, bermimpi akan sesuatu, saya akan ingat film ini. Saya akan bilang, Toy Story pernah tercipta di dunia. Berbekal tangis dan kerja keras banyak orang di belakangnya, John Lasseter, Brad Bird, Andrew Stanton, Rendy Newman. Jadi, apa alasan saya untuk tidak mampu untuk mewujudkan sesuatu? Kalau ditanya apa mimpi terbesar saya (masuk surga dan membahagiakan orang tua sudah pasti ada di nomor satu), saya akan bilang “Saya ingin menginspirasi orang lain seperti Toy Story menginspirasi saya!”.

Hampir di 23 tahun perjalanan hidup saya, saya ikut SPMB, masuk ITB, jadi pimpro wisuda, jadi fungsionaris, bikin film, aaah rasanya semua tidak akan pernah ada tanpa Toy Story. Semua orang pasti punya turning point di hidupnya, dan bagi saya tahun 1995 adalah tempat segalanya berubah. Ketika Andy bercerita tentang satu persatu mainannya kepada Bonnie, saya seperti tidak rela melepas mereka semua. Aneh memang punya perasaan seperti ini, sesuatu yang tidak pernah bisa diungkapkan dengan kata-kata. Banyak yang mereview Toy Story 3 dengan rating 100%, menyebutnya dengan kata nostalgic, legacy, beautiful. Mereka bilang plotnya hebat, idenya segar, apalah itu semua. Buat saya, tidak akan ada pernah ada kata yang sanggup menggambarkan Toy Story 3, dan biarkan saja begitu.

Ya, pertunjukannya sudah habis. Mungkin saya akan menonton Toy Story 3 lagi untuk yang kesekian kalinya dan membeli DVD originalnya. Satu yang akan tetap sama, semangat saya tidak akan pernah habis, sama seperti saya yang tidak akan pernah bosan menonton film ini.

Aaah, masih jauh ya? Mimpi-mimpi itu masih banyak. Ayo, mari berlari lagi. Mari bermimpi lagi.

Bahasa

//June 16, 2010//

Bahasa asing memang keren, dan saya kerap kali menggunakannya. Untuk menumpahkan sakit hati, sesal, senang, dan bahagia. Menunjukkan seberapa intelek kita dengan ribuan kosa katanya, yang terucap lidah dengan mewah.

Tapi sejujurnya, saya lebih suka menulis dalam Bahasa. Dalam kata yang terlontar lincah dan mengalir ringan. Bahasa yang dilafalkan Ibu dan saudara sedarah. Saya tidak hafal EYD, dan tidak punya KBBI. Saya sering menulis ‘yang’ dan ‘dengan’ setelah titik, kesalahan terbesar literatur tanah air. Saya memang tak terlalu pandai, tapi saya tetap suka menulis.

Lain Kali II

//June 15, 2010//

Romantisme itu omong kosong dan saya merasa tahu.
Padahal mungkin tidak tahu.
Kalimat rindu dan lagu cengeng, aah.. sudah bosan saya mendengarnya.
Suara-suara itu bilang waktunya semakin dekat, dan saya sedang merasa aneh.
Tertarik atau menarik, atau ditarik. Seperti jahat, duri dalam daging, nila dalam belangga susu.
Ia tidak aneh padahal, berlaku seperti biasa saja.
Berlagu saja, memberi karangan bunga saja.
Aah, saya harus berhenti.
Tapi ini terlalu menarik, seperti candu. Nikotin atau kafein.
Mungkin di lain kesempatan, tidak sekarang.

Untuk Penyelamat Malam

//June 12, 2010//

Penyelamat Malam suka bercanda dan bercerita.
Tentang orang-orang yang disukainya atau tentang kisah heroiknya hari itu.
Bersenandung dalam rangkaian kalimat pendek-pendek, dan kembali tertawa.
Penyelamat Malam hari itu tertidur larut, hanya untuk bercerita lebih banyak.
Sayang malam telah berubah pagi, dan Penyelamat Malam akan berubah menjadi orang biasa.
Penyelamat Malam menyebar tawa dan senyum-senyum kecil.
Tapi ia mungkin tak tahu itu.
Untuk Penyelamat Malam dan teman-temannya yang baik hati.
Diberikanlah senyum terbaiknya dari seberang.

3

//June 8, 2010//

Hari ini bukan hari biasa, tapi tetap saja bumi berputar biasa.
Merasakan siang dan malam yang sama, juga pagi dan senja yang sama.
Hari ini tak akan ada bunga atau coklat, tapi mungkin ada cuka dan kecap.
Biarkan hari ini bertahan selamanya, dan biarkan kami melupakan waktu.
Hari ini mungkin hari biasa, tapi siangnya akan berwarna hijau.
Malamnya akan keunguan, senjanya akan keemasan, dan paginya akan menjadi turquoise.
Setelah melukis langit dan berjalan di pelangi
Kali ini apa lagi?
Dan kamipun tak akan pernah tahu.