Color Is Not Colored

Few days ago, me and my sister passed a mother who tried to teach her child about colors by showing him a couple of color cards and matching it with some objects in a picture book. My sister, who is impatient by nature, immediately mumbled that it will be hard work to teach child about colors, number, and any base knowledge about life. That kind of knowledge set are already rooted in the back of our head so planted it in another person’s life will be a big challenge. Afterall, red will be red and blue will be blue.

It’s actually interesting. That set of knowledge is, what I think, what limit us from thinking differently. The statement of ‘Red will be red’ suddenly ends the question marks and the curiosity. Why shouldn’t Red be Yellow or Orange be White? Why is Red named Red afterall?

Few months ago, I stumbled upon an amazing creation, A nameless paint. It’s amazing to think about what possibilities can be made by not assigning any names to a paint. Will red be named Cherry Lips? Or yellow be named Sunshine Kiss? I personally would love to see curious children named Green by Traumatic Veggies :3

I tried to take black and white pictures once.
They are crisp and show a lot of emotion.
They are shown you in brightest night and muted noon.
But I cried then.
I don’t see you in the brightest dress and muted face.
I don’t see you behind the perfect hue blue lake and the contrast orange sky.
Color is not colored.

There Were Times

There were times when I wish to be somewhere else,
something else,
someone else.
But most of time, I just want to be the best version of myself.
The one who is kind and loving.
Who knows when to stop and when to run.
Who knows how to do the best even when she doesn’t know where to go.
Who knows how to feel content with all she might.

After that, I think I’m going to catch a comet tail.

Sepertinya, Kami Bisa Bercerita Tentang Apa Saja

Ia tidak bercerita tentang masa lalu.
Tapi pengharapan akan masa depan.
Yang membentang, atau mungkin yang cepat berakhir.

Ia tidak bercerita tentang batas.
Tapi tentang jalur kereta api.
Yang membentang, atau mungkin yang cepat usang.

Hari ini cukup cerah dan sepertinya, kami bisa bercerita tentang apa saja.
Kebenaran yang tidak lagi nyata.
Tergerus karena sejarah mengatakan tentang kebenaran yang lain.
Bahkan rasanya, kami tidak akan ingat seperti apa kebenaran itu.

Tapi kami tetap ada di sini.
Menunggu.
Sesekali berharap.
Kadang kami lupa harapan apa saja yang pernah terucap.
Tapi rasanya semuanya menyenangkan.

Dan kalau boleh berharap, kami ingin berharap lebih lama lagi.
Untuk para anak yang terlahir.
Yang semoga, tak hentinya bercerita.

Keluar

Hari ini, saya ingin keluar rumah.
Merasakan matahari di atas kepala, tidak melalui celah-celah jendela atau layar televisi.
Mungkin saya tidak akan memilih pantai, karena mataharinya terlalu dekat.
Dan matahari terbenam tidak seperti kelihatannya.
Warna jingga yang memakan ragu dan semua yang terang di sekitarnya.

Hari ini, saya ingin keluar rumah.
Merasakan bau tanah dan keramaian.
Tangis bayi dan gosip tetangga.
Tentang yang kini dan yang sempat kini.

Hari ini, saya ingin keluar rumah.
Menatap asa dan sedikit tentang lalu.
Melupakan apa yang tidak ada, ataupun yang semula tidak ada.
Kembali ke pelukan dunia.
Ke tengah hangatnya cerita semesta.

Tentang Cinta dan Kata

(gambar diambil dari sini)

Untuk film yang “terlihat” dibuat untuk nostalgia, Ada Apa Dengan Cinta? 2 adalah dilema. Dilema karena penonton tidak akan pernah marah ketika kedua karakternya dipaksa bertemu lagi atas kebetulan yang semu. Dilema karena banyak adegannya dipaksa mengkontradiksi banyak adegan klise. Dilema karena turut serta semesta dipaksa memberi campur tangan. Dilema karena kami memang rindu. Dilema karena aktingnya seluruh pemainnya sangat natural. Dilema karena Cinta dan Rangga adalah harga mati.

Pada akhirnya, sayapun mentoleransi banyak hal yang ada di film ini. Ada Apa Dengan Cinta? 2 adalah film Indonesia pertama yang saya tonton dua kali di bioskop :))

Di antara semua dilema tentang film ini, ada satu hal yang sangat saya syukuri. Puisi dan sastra sempat menjadi poros film Ada Apa Dengan Cinta?. Kala itu, banyak Rangga dan Cinta baru tercipta. Mereka mulai membaca sastra Indonesia dan menulis lirik dan paragraf berima tentang cinta dan kehidupan. Banyak yang sinis karena mereka tampak seperti penonton bola karbitan, tapi bukankah semua orang harus mulai di suatu tempat?

Walau bukan menjadi fokus utama film Ada Apa Dengan Cinta? 2, tapi puisi-puisi Rangga menjadi nilai tambah film ini. Buku puisi Aan Mansyur yang berjudul Tidak Ada New York Hari Ini, sempat terjual habis di berbagai platform online dan kata-kata dalam Bahasa tiba-tiba kembali hadir di dunia.

Ketika platform social media semakin banyak merebak, satu-satunya yang saya sesali adalah semua platform tersebut seakan menggantikan fungsi sharing blog. Saya sempat kesal karena semua terasa semakin instan. Banyak teman-teman yang dulu sering menulis di blog, tiba-tiba hanya sempat bercerita tentang makanannya hari itu atau menulis sebaris kalimat tentang film yang baru mereka tonton. Saya paham fungsi masing-masing social media, tapi saya hanya ingin membaca lebih banyak hati dan pemikiran.

Saya ingin berharap lebih banyak, bahwa masih banyak kata-kata yang mengaduh untuk ditumpahkan. Masih banyak tulisan indah yang menunggu untuk menggugah. Saya tidak sabar untuk membaca lebih banyak. Saya tidak sabar untuk kembali jatuh cinta kepada kata dan Cinta.

PS: Baca juga review Puty tentang Ada Apa Dengan Cinta? 2 di sini.