band geeks

//December 15, 2010//

Obviously, I never said I like a guitarist or vocalist or anything. Besides, if I have to choose one from any band member, I’d pick the drummer. A drummer just deserves a future compliment. Because usually, they’re cooler than the rest of the band. Travis Barker is cooler than Mark Hoppus. Caroline Corrs looks cooler than Andrea, eventhough Andrea is more beautiful (yeah, right). Even Hanson’s Zac Taylor is cooler than whatever the name of the rest of family member are. A drummer always stands furthest from the audience. He only gets a tiny little light on the back, not the shimmering spotlight with fireworks blast effect. But he gives breath to the rest of the band, he gives beat. Not selfish enough to steal all the spotlights, the supportive one. Okay, that’s enough yapping.

The thing is, I don’t really look into any band geeks. This article made me believe it more. So if I end up with one, it’s just any other coincidences.

PS: But Charlotte Hatherley is another exception :P She’s a former guitarist of ASH, one of my greatest band of all time. After 7 years playing with ASH, the band asked her to leave and she’s having solo afterwards. On June 2010, Hatherley joined KT Tunstall, playing lead guitar to replace Sam Lewis. Oh, she is so a guitar goddess.

 

Dunia dalam Kata – Akhir-Akhir Ini

//December 12, 2010//

Ketika semua hal telah berubah menjadi tulisan di memori surreal, menjadi mudah untuk membuat orang lain percaya. Cukup menuliskan 140 karakter tentang sakit hati, dan seketika semua orang akan bertanya ada apa. Hanya dengan mengubah sebaris informasi tentang kondisi hidup, maka semua orang akan percaya ada yang berubah. Seketika, kata-kata menjadi lebih tajam dari maknanya yang sebenarnya. Lebih dari sekedar tajam.

Si kata-kata menjadi penjelmaan dari seluruh kesehariaan si penulis. Kita menilai si kata-kata. Menjadikannya dasar untuk mengukur kepribadiaan seseorang. Intelektual, sifat, emosi, segalanya. Sehingga banyak yang berhati-hati dalam menuang huruf. Takut akan kebebasan yang kembali pada hakikatnya—menjadi bebas, takut dicaci maki karena menyinggung.

Sekarang, menjadi mudah membuat orang lain percaya, akan kepribadian yang diciptakan di balik layar. Si pendiam berubah menjadi sosialita. Si berisik berubah menjadi pemikir politik. Beberapa benar-benar menulis dari hati. Tentang sakit hati atau fanatisme.

Tetapi apapun itu, saya akan tetap menjadi yang salah.

 

Silahkan

//December 11, 2010//

Di satu sisi saya ingin sekali marah. Beberapa menyarankan begitu, tapi membenci diri sendiri tampaknya lebih mudah dilakukan. Dan saya sering melakukannya, harusnya semuanya menjadi mudah. Tapi di sisi lain, saya ingin memaafkan diri sendiri dan menerimanya dengan lapang dada.

Silahkan saja. Ini yang terakhir dan saya hanya ingin minta maaf.