There is lie buried in every city. Beneath the concrete and the glass wall. Behind the alley and the slump. Through the sewer and the highroad. Between day and night that overlap beyond the moving technicolor light.
Jarak
Kamu masih bercerita tentang terumbu karang dan kapal yang berlayar di waktu senja. Ketika waktu melambat, diayun lautan kata. Dan mungkin aku akan bercerita tentang gelap dan cerita bintang yang tak berpendar. Juga para ahli waktu yang tertinggal dalam kegelapan itu.
Mungkin kita tak benar-benar sadar akan waktu.
Membiarkan semua nostalgia dalam lingkupan jarak. Membungkus kata-kata lewat pesan-pesan di stratosfer. Dan menulis semua kata lewat rintik hujan dan bongkahan awan. Kembali ke semua yang nyata ada. Di sentuhan para ksatria cahaya.
Dan Lalu
Mari kembali ke masa lalu, ketika kita merangkai lagu lewat gemerisik angin. Mari berkenalan dengan embun pagi di waktu fajar. Ketika langit menyenandung cerita kehangatan. Dan semua yang lalu tentang hujan di bulan Juni.
Atau hujan-hujan yang tak bernama.
Para Penerbang
Para tetua menyimpan lampionnya di bawah lantai, sepanjang hari dan sepanjang tahun. Di saat mereka gelisah, mereka menyalakan lampionnya dan melepaskannya.
Lampion yang dihanyutkan di sungai akan menyampaikan pesan kepada yang telah pergi. Lampion yang diterbangkan ke langit akan menyampaikan harapan ke masa depan. Sedangkan lampion yang disembunyikan di antara bebatuan ikut berubah menjadi batu. Menjadi dendam dan rasa dengki. Tempat munculnya kegelapan dan semua hal buruk yang menyata.
Hari itu, para tetua tidak menyalakan lampionnya. Mereka menyimpannya rapat di bawah lantai dan membiarkan semua kata terbang lewat imaji dan kebisuan.
Cerita Para Penepuk Tangan
Sejak tahun ini dimulai, berita di media makin menggila. Mencoba mengikuti arus berita sama seperti membeli tiket ke kemuraman. Dari semua berita tidak enak itu, entah kenapa yang paling tidak enak tetap kegagalan UAN.
Di sisi lain cerita, beberapa teman saya mencatatkan pekerjaan-pekerjaan baru di luar kota, di luar pulau, dan di luar negeri. Beberapa melanjutkan pendidikannya. Beberapa menuliskan namanya di terbitan buku (*), beberapa membuat organisasi-organisasi atau gerakan perubahan. Yang jelas, kalau sudah di tahap saya, tahap iri-liat-yang-lain-sukses pasti sudah terlewati, karena mendefinisi tujuan-tujuan adalah mutlak pilihan pribadi. Yang ada justru senang karena melihat ternyata kita pernah bertukar kata tentang apa yang ada di ujung-ujung jalan.
Kalau ditanya apa yang sudah saya lakukan di tahun ini untuk sekitar, sebenarnya belum banyak. Kadang saya terorientasi untuk berbuat banyak, tetapi mungkin ada sesuatu yang menghalangi. Mungkin saya sok sibuk, mungkin saya memang malas. Sisi baiknya saya semakin sadar tentang posisi-posisi, ini salah satu quote yang sesuai yang sudah pernah saya bagi:
“Change does not happen by a few “chosen” individuals, but more often comes from ordinary citizens working to make a difference.”
Ya, ada orang-orang yang tersorot lampu panggung, ada orang-orang yang berdiri di belakang layar, ada orang-orang mendapat posisi tepuk tangan. Saya sering berdiskusi dengan teman-teman tentang posisi tepuk tangan ini. Bagaimana kita benar-benar kagum dengan para penggerak perubahan, para pencapai mimpi, para pejalan dunia. Dan bagaimana sebenarnya kita bisa mencapai hal-hal tersebut tapi kadang terhadap oleh kondisi-kondisi, entah yang dibuat-buat ataupun memang nyata adanya.
Tapi kemudian kita sadar, walaupun ada di posisi tepuk tangan, kita harus tetap tepuk tangan dengan semangat. Karena orang-orang yang tersorot lampu panggung tidak bisa berdiri di sana tanpa tepuk tangan kita, orang-orang yang berdiri di belakang layar tidak bisa duduk di sana tanpa mengharap tepuk tangan kita.
Ingin bertepuk tangan lebih keras? Ini mungkin bisa membantu :)
Tiza Mafira memulai kampanye #Pay4Plastic di Change.org, salah satu platform petisi terbesar di dunia yang baru membuka jaringannya di Indonesia dengan Iman Usman sebagai penggagasnya. Kampanye Diet Plastik-nya menghasilkan banyak suara-suara baru dan berhasil mengajak perusahaan besar macam The Body Shop untuk mengadakan acara macam Rampok Plastik.

Sebenarnya, kadang saya skeptis dengan program petisi, benarkah hanya dengan beberapa klik di internet situasi akan berubah. Saya pernah mengurus sebuah web petisi dari YouthLeader dan ternyata di belahan dunia lain, perubahan itu nyata terwujud. A few clicks won’t hurt you, tapi yang benar-benar penting adalah bagaimana ikut menerapkan kata-kata yang tertera sebelum kamu menekan tombol Setuju dan tetap konsisten melakukannya :)
Nila Tanzil baru saja mendapat penghargaan Kartini Awards lewat Taman Bacaan Pelangi. Saya kagum sekali dengan beliau, salah satu cita-cita saya adalah punya perpustakaan umum, haha. Senang sekali ternyata ada yang berbagi mimpi yang sama dan membuat banyak anak di bagian Timur Indonesia punya banyak kata untuk dibaca. Dan lembar-lembar kertas untuk dicium.

Sekolah Kita Rumpin merupakan salah satu tempat alternatif untuk belajar di sebuah lahan sengketa di Rumpin, Bogor. Kurikulum yang tidak berpusat pada mata pelajaran semata tapi lebih menitik beratkan kepada pembinaan karakteristik sang anak membuat saya sangat bersimpati dengan keberadaannya. Kali ini, Sekolah Kita bermaksud membuat Taman Bacaan untuk mengakomodasi para anak untuk belajar dan berkarya dengan lebih nyaman. Jika tertarik untuk mendukung program ini, bisa langsung cek halaman proyek Wujudkan ini yaa :)
Ini saya bertepuk tangan dan berusaha bertepuk tangan dengan semangat. Kita semua nyata ada di dunia, dan semua dari kita adalah mampu melakukan banyak hal. Lebih dari apa yang kita kira sudah kita lakukan. Suatu saat nanti, mungkin posisi-posisi kita akan bertukar. Apapun itu, apapun hal-hal yang terjadi di ujung sana, kita harus selalu bersemangat dan melakukan yang terbaik di saat itu. Salam hangat :)
(*) Hafidh dan Puty menjadi illustrator buku kumpulan cerita pendek yang menarik. Hafidh menggambar untuk Singgah dan Puty menggambar untuk Setahun Berkisah. Cerita Puty dan Setahun Berkisah bisa dibaca di sini. Saya sempat memasukkan cerpen saya untuk Singgah, tetapi memang belum terbiasa dengan format cerpen jadi banyak sekali kurangnya dan pastinya tidak terpilih :)) Tapi saya suka konsep kumpulan cerita tentang 4 tempat singgah yang ikonik; stasiun, halte, bandara, dan pelabuhan. Dibeli ya, dibeli.
