On How to Kill Time on Traffic

I’ve been a commuter all my life. My dad used to commute with me and my sister until his body gave up when I was in college. So, I kind of know how terrible the public transportation and gridlock in Jakarta is. After moving to my new job, I have to adapt to a new route to reach my office. Not much of a change, I still have to go at 5.30 in the morning and arrive at home at 19.00.

Traffic is what I use to, so sometimes, I don’t complain about it. I thought it was what it called normal, though I know something has to be changed. 2 hours on the road seems boring enough for some of you and feels that we’re actually getting old in road. I used to bring my notes and write, but the road is bumpy enough to distract me. Thanks to technology, the 2.0 people seem occupied enough to their cell phone, tablet, and so on. They can still connect to the rest of the world (please ignore the part of constant complain at social media thing).

Remember the phrase “It is about the journey not the destination”? The phrase that all travelers seem to worship a lot? Here I ask you, would you still use it for your everyday routine when commuting?

I do.

Oddly enough, I find it quite alluring. Using a public transportation is about being together with your surroundings and environment. A bumpy road, noisy high scholars, annoying man with a large expensive tablet who occupy to much space, a woman who doesn’t patient enough to cut through the line, the traffic.

There are some ways actually to implement the phrase in your routine. It came with a certain rules, the first one is: try to enjoy it. Blaming anything for traffic or complaining during the road not going to take you anywhere (Oh, unless you are running a petition against the construction of 6 toll roads construction. Other than that, you are wasting your energy, really). After that, you have to choose. A choice between using your eyes and using your ear. Using both eventually will add the fun.

Using your ear means to close your eye and focusing on the voice and sound around you. It is fun actually to hear conversations, be it a funny one or an annoying one. A successful way of using this technique might bring you to make websites/books like Overheard in NY or Nguping Jakarta. It is also fun actually to hear a voice without knowing the source, you will be surprised to know what the voice’s owner looks like. A deep baritone voice might be owned by a girl wearing pink shirt. Sometimes, it is also effective to rest your tired eye for those who work at a monitor for almost 8 hours straight :P

The second choice is using your eye, which means you have to cover your ear from any sound. Bring your music player, listens to music. The research said, listening to music relax yourself. I don’t have any scientific reason for that one, but it happens to me. Using your eye is the easiest one to enjoy your surroundings.

Using public transportation forced you to meet a lot of people and thing, a foreigner in a suit, a woman with a green matching clothes, a group of teenager with minimalist clothing, a funny car sticker. Everyone is interesting, everything has stories. You might not going to know, but you can make up one. Make it a fun one, but try to not make fun of someone.

I remember sitting in my living room in my junior high, watching cable TV. One of the commercials used the tagline: use your imagination, because imagination has no limit. My family used to invest in cable network and books rather than having personal vehicle, and that is what shaped me into today. It is true, and it’s fun~

The journey home is not always that fun, sometimes you get wet from the rain, sometimes you have to stand a stinking man beside you and holds your breath for the next hour, or so on. I don’t deny that sometimes I stare blankly for an hour to the endless car queue, wondering when is it going to end, considering that I need to move town. But sometimes, it is easier to be happy and enjoy it.

A routine is a condition you choose for yourself. The reason why may vary but you have a choice to that condition, to enjoy it or complain about it, or even better, change it. You might choose and just be happy :)

Cerita Perjalanan

Tangan saya spontan menulis ketika membaca lagi post yang ditulis teman saya Ali malam ini. Ini saya, bercerita tentang perjalanan :)

Keluarga saya bukan termasuk keluarga yang berkelebihan, saya tidak terbiasa menghabiskan akhir minggu dengan berjalan-jalan. Ketika kecil, tempat terjauh yang saya datangi adalah Jogjakarta. Saya ikut Ayah saya untuk menghadari seminar dari kantornya. Saya ingat membawa pulang action figure (ciyee) Rama Shinta sehabis menonton sendratari-nya. Setelah itu, saya hampir tidak pernah berjalan-jalan keluar. Keluar negeri, keluar pulau, keluar kota (kecuali pulang kampung ke Garut waktu lebaran :P), bahkan keluar rumah. Saya miskin pengetahuan dunia, hal yang saya sadari sejak dulu. Jendela saya tentang dunia hanya lewat buku-buku, TV, dan internet.

Sampai akhirnya saya pindah ke Bandung untuk berkuliah, saat saya benar-benar keluar rumah. Selanjutnya, beberapa perjalanan yang saya lakukan dapat dihitung jari. Tahun 2008, saya hampir sampai di Ujung Genteng untuk hunting besar LFM tapi di tengah jalan, harus pulang karena saya harus mengikuti kelas Semester Pendek. Tahun 2009, saya ikut Kuliah Kerja angkatan ke Batam dan Singapura. Pertama kalinya saya membuat paspor dan punya stempel di dalamnya. Di tahun yang sama keluarga saya mengajak jalan-jalan keliling Jawa naik mobil di akhir tahun. Setelah saya masuk kuliah keluarga saya pertama kali membeli mobil. Perjalanan itu adalah kali pertama saya merasakan melompat dari kota ke kota, merasakan perubahan kultur, berkenalan dengan kerabat yang tidak pernah dikenal, dan pada akhirnya melihat keindahan.

Setelahnya, saya naik kereta ke Jogja di tahun 2010. Ini pertama kalinya saya naik kereta lebih jauh dari Purwokerto, kota kelahiran Ibu. Di tahun 2011, saya singgah ke Solo naik kereta, untuk kemudian kembali ke Jogja. Dan untuk kedua kalinya saya keluar pulau, Sulawesi, dalam rangka site visit dari kantor. Saya memilih menabung uang saya untuk investasi, saya skeptis dengan orang-orang yang keluar negeri. Sesungguhnya, mungkin saya iri dengan mereka. Saya iri atas keberanian-keberanian mereka melewati batas-batas, saya iri dengan kemampuan mereka melangkah ke sana. Kadang saya terdiam melihat catatan perjalanan kakak saya, tur ke kota-kota Asia Tenggara, ikut seminar di Dubai, pulang pergi Lombok-Bali (bahkan tahun ini dia sudah membeli tiket pesawat yang bertepatan dengan Ubud Writer Festival, cih cih acara impian saya sejak 3 tahun lalu). Tapi saya masih merasa takut akan tempat-tempat baru.

Di tahun 2012 akhirnya saya memutuskan untuk mengeluarkan semua isi tabungan. Saya diberikan kesempatan berkeliling ke beberapa tempat, termasuk naik Argo Bromo Anggrek (sang penguasa jalur kereta Jawa). Bukan karena akhirnya gaji saya bersisa, tapi karena saya ingin melihat apa yang saya lewatkan selama lebih dari 20 tahun. Keuangan saya masih gonjang ganjing sehabis pulang dari Jepang, sudah hampir 3 bulan saya cuma pindah dari rumah ke kantor, tapi anehnya tabungan saya masih kosong :)) Tapi saya tidak menyesali apapun. Saya tidak berani menyebut diri saya traveler atau backpacker, atau yang lainnya. Saya bahkan tidak berani menuliskan kata traveling di kolom hobi. Karena semakin saya tahu, semakin kecil saya menyata di dunia.

Pada akhirnya, saya mungkin belum mampu berjalan dari Andalusia ke Mesir (obsesi sejak membaca The Alchemist), menginjak Pokhara, bahkan Baker St 221-B. Saya bahkan belum pernah ke Bali. Dunia saya masih potongan kecil atlas. Tapi perjalanan-perjalanan diciptakan untuk menemukan tempat-tempat, benda-benda, wajah-wajah. Setiap perjalanan menciptakan perjalanan baru, dan cerita-cerita baru. Cerita yang kemudian menciptakan perjalanan-perjalanan lainnya.

Cerita-cerita tentang perjalanan tidak selalu tentang frame-frame lansekap dengan ribuan warna, tidak selalu tentang matahari terbenam, atau aurora borealis. Cerita-cerita tentang perjalanan tidak selalu tentang kebahagiaan, tidak selalu tentang patah hati, lalu kekecewaan dan kesendirian. Cerita-cerita tentang perjalanan adalah tentang mencari dan menemukan. Tentang jiwa-jiwa yang haus, yang mengaduh untuk membuka mata, yang mengais serpihan langit dan gunung-gunung api. Menggapai awan-awan dan gemericik air terjun. Tentang gen sang pengembara.

[James] Cook tewas dalam sebuah pertikaian berdarah melawan penduduk Hawai’i sepuluh tahun kemudian. Kematiannya, menurut se­bagian orang, menutup apa yang dianggap oleh para ahli sejarah Barat sebagai era penjelajahan. Namun, itu tidak menghentikan penjelajahan kita. Kita tetap terobsesi untuk memetakan seluruh Bumi; mendatangi kutub-kutub terjauh, puncak-puncak tertinggi, dan palung-palung terdalam; berlayar ke setiap sudut, lalu melesat ke luar angkasa.

Gen Pengembara – National Geographic Indonesia, Januari 2013

Cerita Pulang

Cerita-cerita tentang pulang adalah cerita-cerita tentang kesepian di perjalanan, yang merindukan tempat untuk berlabuh. Cerita-cerita tentang tidak pulang adalah cerita-cerita tentang kesepian seumur hidup, berharap ruang untuk mengaduh. Jangan menolak kebahagiaan, berpulang adalah kembali ke tanah. Ke tanah yang melahirkan diri dan menyesapkan sisa-sisa diri.

Semua manusia, terlahir untuk bahagia. Atau mencipta kebahagiaan.

Bon Giorno!

I will be honest with you. It is a desire for me to have my own domain since I was still in elementary school. My dad introduced me to the internet that time, and my life was suddenly changed. I’m sure remembered that my first choice on my college entrance exam was School of Electrical and Informatics (which then I failed to enter). Being the IT guy is still kind of cool, because you can really do almost anything to amuse people. Like this guy for example.

It had always been on my wish list since 2011: having a personal domain + hosting. Then, there you go, 2 years later I checked my first, oh wait second—the first one was subscribing to National Geographic and NG Traveler—things to do on 2013 list.

I am permanently moving here:

http://blog.uncletivo.com

Why not using my own name? Haha. Let’s keep it simple, I think my name is long and I hardly state a specific nickname because people called me different names to this day :)) Besides, I’m in love with the family of TIVO. I’m assured that you will be seeing them more often.

Thank you for landing here, welcome :)

Pembunuhan di Lantai Dansa

Masing-masing dari mereka menutup malam dengan rasa takut. Bahwa apa yang dikatakan gadis peramal yang diusir dari kota itu mewujud nyata. Seorang pembalas dendam telah ada di jantung kota tersebut. Menyelinap dan menunggu waktu untuk menenggelamkan atau menikam. Atau meracun, seperti malam itu.

Keesokan harinya, tidak ada yang berani keluar rumah sebelum dentang lonceng pemakaman dibunyikan. Tidak ada roti-roti hangat yang tersedia di depan toko, maupun perkumpulan gosip ibu tetangga. Tidak ada riuh penjual pasar dan permainan anak-anak. Seluruh kota terudung senyap. Para penduduk kota mengantar jenazah Lord Geiger dalam suasana duka, tapi mereka tidak merasa sedih sedikitpun.

Lord Geiger adalah petinggi kota, pemilik percetakan surat kabar kota, dan pemilik semua ladang di timur kota. Tapi ia tak pernah mengangkat topi ataupun membuang waktunya menyapa orang lain. Ia tidak berteman dengan siapapun yang menurutnya, tidak sesuai dengan kelasnya. Suatu keganjilan memang bahwa ia tiba-tiba jatuh cinta kepada putri keluarga France, dan mengiriminya mawar putih setiap hari Rabu. Suatu keganjilan memang menemukannya mendatangi bar di malam itu. Suatu keganjilan memang menemukannya terbunuh di lantai dansa.

***

Inspektur Schopenhauer sampai di tempat kejadian tidak lebih dari 15 menit setelah seorang petugas memukul-mukul pintu rumahnya. Ia memperhatikan jenazah Lord Geiger yang tersungkur di lantai. Buih-buih putih terlihat keluar dari samping bibirnya. Pengunjung bar lainnya terduduk di sudut lain ruangan, beberapa gemetar ketakutan. Sesosok pemuda tegap menghampirinya. Sersan Erwin kebetulan sedang mengambil cutinya, ia datang ke bar tersebut bersama teman-temannya akademinya ketika kejadian itu berlangsung.

“Tidak ada waktu cuti untukmu, eh?” tanya Inspektur ketika mengetahui Sersan Erwin yang menahan semua pengunjung untuk tetap berada di tempatnya dan menghubungi kepolisian.

Hanya nasib sial. Seperti nasibnya malam ini,” sersan Erwin merilik ke arah jenazah. “Ia mengejang ketika lagu favorit saya diputar, benar-benar nasib sial.”

“Schrodinger’s, Paradox. Sudah kubilang untuk tak mendengar musik aneh seperti ini,” Inspektur meletakkan kembali bungkus piringan hitam di atas meja ke tempatnya semula. “Siapa saja yang berada di lantai dansa bersamanya?”

“Musik baru diputar ketika itu, hanya ada 5 orang yang bersamanya. Termasuk putri keluarga France.”

Inspektur melihat sekelompok orang yang duduk di sebuah meja panjang di sebelah bar. Tampak dua orang petugas sedang menginterogasi mereka.

“Aah, ya, ya, mawar putih di hari Rabu. Ini bisa jadi judul berita yang bagus, kalau saja percetakan korannya bisa tetap bertahan. Bartendernya menceritakan sesuatu?”

“Cognac, 2 gelas. Kami menginterogasinya di ruangan terpisah. Tidak ada yang aneh, kecuali kedatangannya di bar ini. Siapapun tahu bar ini bukan kelasnya, kecuali—ia datang bersama gadis yang disukainya sejak lama.”

“Mereka datang berdua? Dan dari semua malam, ia harus mati di malam ini? Ketika akhirnya gadis itu mau mengajaknya keluar?”

Sersan Erwin menghela nafas, “Sudah saya bilang sebelumnya, ia hanya bernasib sial.”

***

Ketika malam melarut, sang pembalas dendam mengangkat topinya dan membungkuk di depan bar tersebut. Beberapa mengikutinya, menyangka hal tersebut sebagai penghormatan terakhir kepada Lord Geiger. Ia melangkahkan kakinya perlahan, seperti pengunjung bar lain yang masih merasakan syok. Padahal darahnya bergejolak, satu orang sudah tumbang. Ia menyelipkan sebuah surat di sebuah kotak pos beberapa blok sebelum tempat menginapnya, surat yang ditulisnya sebelum berangkat ke bar. Surat yang ditulisnya sebelum mengaduk bubuk racun di dalam gelas cognac-nya. Surat yang ditulisnya sebelum menukar gelasnya dengan gelas Lord Geiger ketika pria malang itu terpesona oleh kecantikan putri keluarga France.

Sayang sekali, tak ada lagi mawar putih di hari Rabu. Mungkin aku akan mengirimimu bunga lily sebagai ganti kebaikanmu malam ini.

Malam itu juga, surat tersebut berubah menjadi abu di perapian keluarga France. Gadis itu melepas ikatan rambutnya sebelum menarik selimutnya untuk tidur, hal yang tak pernah dilakukannya sebelumnya. Hal yang ia lakukan untuk meyakinkan Lord Geiger untuk datang ke bar malam itu. Gadis itu tersenyum dalam tidurnya, ia akhirnya bisa bernafas lega.

Ia tak pernah suka mawar putih.