Where We Are

Is there where we live now?
Where we sell loyalty to false heroes.
Where we trade empathy with so-called faith.
We look up to pretenders and schemers.
To betray family and loved ones.

We are forced to take side,
even if we have nothing to stand up.
We all still have the heart to share
and love to give.
But doesn’t ego take away everything?

We have nothing to proof
and nothing to defend.
Why don’t we surrender today?

Leave all of it
and take back what’s important.
Placing love back, where it belongs.
Amongst us.
Disperse.
On the air.

The Unashamedly Idealistic World of The Newsroom

Setiap beberapa periode waktu, saya kerap menonton ulang serial TV favorit yang menurut saya tak lekang oleh waktu. Tahun kemarin, saya menyempatkan menonton ulang LOST dan masih jatuh cinta dengan bagaimana ketegangan terus dibuat setiap episodenya. Tapi sebenarnya, ada satu serial TV yang selalu saya ulang hampir 2 kali setahun, judulnya adalah The Newsroom.

Aaron Sorkin menciptakan sebuah drama yang berfokus tentang benturan jurnalisme ideal dengan tekanan masyarakat maupun kepentingan-kepentingan sosial. Season pertama The Newsroom tayang di HBO pada tahun 2012 dan berakhir pada season ketiganya di tahun 2014. Selama 3 tahun masa tayangnya, The Newsroom hanya memiliki 25 episode yang membuatnya padat dan sarat makna. The Newsroom tidak memiliki review yang terlalu tinggi di beberapa situs rangking seperti Rotten Tomatoes atau Metacritic karena kontennya dianggap terlalu cynical ataupun terlalu idealis. Beberapa episodenya dikritik dengan keras karena banyak hal yang terkesan terlalu menyindir bentuk-bentuk jurnalisme masa kini, dimana seharusnya fakta dan integritas ada di atas iklan dan trafik kunjungan.

Read more

Berusaha Mendengarkan Lebih Banyak Cerita

Sejak beberapa bulan yang lalu, masyarakat Indonesia disuguhkan banyak topik bahasan tentang Pilkada. Media cetak, televisi, dan daring tak hentinya membahas tentang bagaimana peta kekuatan politik, prediksi, maupun hasil survey masing-masing kandidat. Walaupun dikritik terlalu banyak membahas tentang Pemilu wilayah Jakarta, tidak dapat dipungkiri bahwa berita tersebut memang yang paling menjual dan menuai banyak perhatian. Diliput oleh berbagai kanal berita, banyak yang mengklaim exposure Pilkada DKI kali ini sudah semewah pemilihan presiden.

Sejak tahun 1999, setahun setelah runtuhnya Orde Baru, debat calon pemimpin mulai marak diadakan. Tujuannya agar masyarakat mendapatkan edukasi dan mengenal lebih banyak program capaian sang kandidat. Setelah hampir 2 dekade, format dan konten debat calon pemimpin di Indonesia masih jauh dari sempurna. Tak terkecuali dengan debat calon Gubernur DKI periode 2017-2021 yang lalu.

Debat yang berujung debat-debat kecil di cubicle kantor atau timeline media sosial ini kadang memang menyita energi dan banyak hati. Ada juga golongan masyarakat Indonesia yang gemar berkelakar dan menjadikan debat ini sebagai ajang kreatifitas dengan kecepatan pembuatan meme yang kemudian dibagi ke berbagai ruang chatting.

Pada debat terakhir di tanggal 10 Februari 2017, Alfito Deannova selaku moderator debat mengajukan sebuah pertanyaan yang sebenarnya bisa dijawab dengan mudah tetapi tampaknya gagal ditanggapi dengan baik oleh para kandidat. Padahal pertanyaannya sederhana: 

Menurut Anda, apa sisi positif atau keunggulan paslon-paslon lain yang merupakan sifat baik seorang pemimpin?

Pertanyaan ini mirip dengan pertanyaan yang mengakhiri debat kedua calon presiden US 2016 yang lalu. Debat dengan format town hall meeting yang mengajak masyarakat bertanya langsung kepada calon presiden ini dianggap mampu menjembatani batas antara calon presiden dan masyarakat. Clinton dan Trump tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya ketika salah satu penonton meminta kepada keduanya untuk menyebutkan satu hal positif tentang satu sama lain. Trump bahkan tidak menjawab sampai akhirnya Clinton mencoba menjawab terlebih dahulu. Di akhir debat tersebut, pertanyaan terakhir itulah yang paling dibicarakan oleh masyarakat.

Read more

Spring Breeze

Though I’m not celebrating Spring, we should agree that March is a sign of warmer weather. Indonesia is poured by heavy rain since the beginning of the year and the political heat hasn’t worn off ever since. But as March is the closing month of the first quarter of 2017, I want to make sure that I don’t let the year goes by too fast. Since I haven’t posted any random list for this year, here’s a few exciting things I’ve found so far.

(image from here)

Project Style gives us a gift in a shape of collaboration from Disney and few of our local brands. The brands include some of my favorites, like Kandura, Limawatch, and shopatvelvet. The results are interesting, look at those watches!

Read more

Pause and Repeat

I think I’ve lost count to how many nights I’ve been spending in this hospital. Yet, here I am again, lying down on a thin blanket on the floor. Awake, waiting for the day to change. I’m not fond of the hospital room, but weirdly enough it’s been a second home for these past months. I don’t know whether it’s a cry for help or another sentimental night. My eyes got tired and I think I’ve broken my body with not enough sleep and lack of nutrition. I gulp down vitamins to keep me awake, but my mind was slowly broken.

Will we ever recover from this? Will we ever survive this?

I don’t know how to contain fear in a small jar and wrap it into the glittering world of happiness. I don’t know how to stay sane in the world of small thoughts and conspiracies. Yet, we continue breathing in and out on this entire space of beams and fast lane. Taking all odds, catching favors, grabbing lights and stars, living the farthest our eyes can reach.

This has been a good rest. After all, we are always better than we think we are. Let’s hit play and survive this.