Tree Hugger

After a month of failed interviews and disheartening news, Ramadhan is finally here. It’s great to have a new routine to run to. I tried my hand on writing, but nothing comes out. It’s weird also that when I don’t have any intention on writing, I just blurted out 2000+ of words yesterday. I’ve been trying to be productive this past month, but still trying to get more grasp on anything else. Scrapping things each day, wanting to know what’s wrong.

It’s becoming harder to write about my own life each days, as I became more reluctant to share current information to anyone else. One day, I’ve been reading about argument about being extrovert, introvert and this new terminology called ambivert. I’ve been cynical to this, I can’t agree on the idea of  people called themselves an introvert at sometimes and called extrovert on another time. There’s a big difference between not wanting to meet people or having their energy drained when meeting people. But then again, labeling a person in one thing is not entirely a nice thing to do.

​On and all, here’s to another Monday and another week. Let’s try to have a really meaningful time for ourselves each day.

Starting Small – Tips Foto Produk

Pertama kali membuat akun Instagram Kawung Living, saya nggak berpikir betapa tingginya kompetisi di platform tersebut. Saya kira hanya dengan bisa berbagi gambar visual, artinya sudah cukup atau sudah tercapailah tujuan social media tersebut dan sayapun sudah bisa mulai jualan. Ternyata, di zaman digital ini semuanya nggak bisa berhenti di situ saja. Kawung Living sendiri memang mulai di Instagram, untuk kemudian beralih ke website dan platform lainnya. Tapi, basis traffic/sales terbesar kami masih datang dari Instagram. Kami sendiri sempat minder ketika melihat banyak brand yang meng-hire fotografer/stylist profesional untuk mengambil foto-foto produknya. Tetapi kami yakin, kebanyakan brand kecil nggak punya kemewahan seperti itu dari awal. Kami belum mampu untuk punya studio foto dengan lampu-lampu dan kamera professional. Ternyata foto detil produk saja belum cukup, kami harus mempunyai berbagai stock photo untuk menampilkan produk kami setiap harinya.

Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa saya bagi kalau kamu ingin mengambil foto produk sendiri. Saya juga lampirkan beberapa tautan artikel yang menurut saya sangat membantu. Post kali ini akan berfokus lebih banyak di foto produk, untuk hal-hal lain seperti tips foto untuk branding Instagram ataupun bagaimana styling foto akan dibahas di post lainnya, yaa.

Start with What You Have

Sesuai dengan judul dari seri ini, tidak ada salahnya kalau kita mulai dari hal-hal yang kecil. Nggak ada salahnya mulai dengan kamera handphone yang kamu punya ataupun menggunakan kertas karton yang ada di rumah sebagai background foto. Saya sendiri banyak belajar dari artikel fotografi di blog Shopify ataupun course di Skillshare dan Brit+Co. Berikut adalah beberapa tautan course dan artikel yang menurut saya sangat membuka mata.

Artikel terkait: The Ultimate DIY Guide to Beautiful Product Photography // The 6-Step Process for Taking High-Quality iPhone Photos // How to Capture High Quality Product Photos With Your SmartPhone

Course terkaitMerchandise an Online Shop: Create Your Own Product Lookbook // Mobile Product Photography for Your Online Store

PS: Sekarang ini Skillshare sedang memiliki program 2 bulan gratis untuk Premium Membership dan course Brit+Co. di atas juga free karena kerjasama oleh Weebly. Kalau kamu berniat untuk belajar, jangan disia-siakan kesempatan ini, yaa.

Read more

Now Scrolling, Vol. 2

Setelah post sebelumnya tentang beberapa idola Instagram saya, sekarang saya ingin berbagi tentang beberapa brand yang saya follow di Instagram. Brand-brand ini tidak hanya berhasil menjual produk-produknya, tapi punya feed Instagram dan message yang kuat bagi brand-nya. Saya mendapat banyak sekali insight seputar bagaimana cara mengkomunikasikan value bisnis maupun pesan yang diusung brand tersebut dengan follow akun mereka.

Read more

Karbon Kopi

Beberapa tahun ke belakang, beberapa teman saya mulai memasuki jenjang baru dalam hidup. Polanya kebanyakan sama, mempersiapkan pernikahan, parade foto bulan madu, kata-kata manis tentang kehidupan pasangan baru, perjuangan tentang kehamilan dan menyusui, dan seterusnya. Pada akhirnya, cerita tidak jauh berbeda dengan kebanyakan: ketakutan tentang kehidupan.

Ketakutan tentang langkah kehidupan yang tidak sama. Ketakutan karena apa yang kita miliki tidak pernah cukup. Ketakutan karena kita tidak sama dengan orang lain. Yang diungkapkan lewat keluhan atau cibiran, yang hampa dan sia-sia, yang melelahkan dan membuang waktu. Padahal, keragaman adalah bukti nyata keagungan Tuhan yang paling saya kagumi.

Bukankah kita harusnya bersyukur, bahwa kita bukan karbon kopi?

Celebrating struggling and each other differences. Entah berapa kali saya mendengar kalimat ini. Tapi entah berapa kali pula, saya melihat gunjingan dan kritik yang mematahkan kata-kata   tersebut. Hanya karena apa yang terkadang disebut sempurna. Kalau semua orang mencemooh kata sempurna, sebenarnya siapa yang mendeskripsikan arti kesempurnaan tersebut? Evil take forces in many shapes, your fears are one of them.

Ketika saya berkaca hari ini, saya sadar Tuhan kadang tidak memberikan semua yang terbaik kepada masing-masing orang, tapi Tuhan memberikan cerita yang paling sesuai kepada orang tersebut. Adalah pilihan masing-masing untuk melanjutkan ceritanya sendiri, memilih apa yang terbaik untuk garis akhirnya. Memilih cara terbaik untuk berteman dengan waktu, bukan berlomba di dalamnya.

Saya kira, kebijakan dan kelapangan pandangan akan datang kepada orang-orang yang sudah mengalami lebih banyak jenjang kehidupan. Saya kira, mereka akan selalu lebih bahagia dibanding saya karena memiliki banyak hal yang tidak saya miliki. Hari ini, untuk pertama kalinya, saya tidak iri dengan mereka semua. 

Berlari dalam waktunya sendiri, bahagia dalam sadarnya sendiri, adalah kebebasan yang ingin saya miliki sepenuhnya.

Hari ini, saya bahagia karena bisa keluar rumah dan melihat matahari pagi. Saya bahagia karena sore ini turun hujan. Saya bahagia karena hal remeh yang mungkin tidak berarti banyak untuk orang lain. Saya bahagia karena tidak menjadi karbon kopi.