Silahkan

//December 11, 2010//

Di satu sisi saya ingin sekali marah. Beberapa menyarankan begitu, tapi membenci diri sendiri tampaknya lebih mudah dilakukan. Dan saya sering melakukannya, harusnya semuanya menjadi mudah. Tapi di sisi lain, saya ingin memaafkan diri sendiri dan menerimanya dengan lapang dada.

Silahkan saja. Ini yang terakhir dan saya hanya ingin minta maaf.

 

We’re Just Different From One Another, Don’t Bother to Find One Damn Heck of Similarity

//December 08, 2010//

Glee lost its charm, but the characters is shinning more than ever!

Entah kenapa saya ingin membahas Glee di blog ini dibanding di blog review saya yellowandredatcinema. Mungkin karena isi post kali ini bukan plek-plekan review tapi sesuatu yang kadang menggumpal di otak saya. Menurut saya, season kedua dari Glee kalah jauh dibanding season pertamanya. Entah dari segi cerita maupun pemilihan lagu-lagunya. Mungkin ada efek dari budaya tukar menukar pacar yang dilakukannya di season ini terlalu Gossip Girl (yak, Anda boleh cek lapak sebelah. Serena dan teman-temannya itu sudah melakukan trik tukar menukar pacar ini dari zaman kuda mungkin). Saya juga merindukan lagu-lagu Rolling Stones dan Queen di season 1 yang tergantikan dengan lagu Bruno Mars yang notabene lebih ‘in’ di season 2. Terlepas dari semua itu, toh setiap Rabu pagi saya sudah nongkrong diindowebster dan addic7ed.com untuk mencari link download maupun subtitle-nya.

Yang saya sadari dari season ini adalah hancurnya dominasi Rachell dan Finn yang sedikit demi sedikit mulai berimbang dengan Queen dan Sam ataupun Santana dan Mercedes. Sebuah langkah yang luar biasa ditunjukkan dengan memberikan sebuah episode tribute kepada Britney Spears di mana Brittany mendapatkan kesempatan bersinar sebagai bintang utama di episode itu. Saya berani jamin seketika para pemirsa akan segera jatuh cinta kepada cheerleader yang karakternya bego ini, she’s so damn great in dancing and err… singing. Keputusan yang baik pula untuk memberikan sebuah number kepada Mike Chang yang jago banget nari ini dengan lagu Sing!, yang menurut saya sangat menggambarkan keberadaannya di serial ini. Harry Shum Jr. hanya perlu menari, toh kita semua sudah sangat suka dengan kehadirannya. Karakter yang memang belum cukup bersinar di sini cuma Tina dan Puck, mungkin Ryan Murphy menyuruh keduanya untuk bersabar karena scriptgiliran mereka sedang ditulis. Tetapi, pesan dari season kedua ini tidak lagi hanya sekedar “Being a part in something special, makes you feel special” , tapi bagaimana menjadi spesial dengan kelebihan dan kekurangan yang kita punya.

Sudah menebak apa inti dua paragraf pembuka di atas? Pernyataan pertama saya berbunyi semua orang pada dasarnya diciptakan berbeda, tidak perlu berharap untuk menjadi sama dengan orang lain. Masa depan, lagu kesukaan, kelebihan-kekurangan, merek sepatu, rekening bank, tidak ada yang penting dari semua itu. Yang penting adalah bagaimana menjadi ‘hebat’ dengan diri sendiri, dengan segala kelebihan dan kekurangan itu. Pada akhirnya, we born single, and die alone. Saya tidak mau jadi patetik karena tidak cumlaude and tidak kerja di perusahaan minyak (oh, dan tidak bisa beli mobil setelah kerja 2 tahun). Saya bahagia dengan 23 tahun hidup saya dan semua pilihan yang saya telah (dan akan) saya lakukan.

Jumping Back Flash

//December 07, 2010//

“Change your facebook profile picture to a cartoon character from your childhood and invite your friends to do the same. Until Monday, Dec 6th of 2010, there should be no human faces on facebook, but an invasion of memories! This is for a campaign against violence on children.”

Rupanya, tren baru ini sudah berjalan lumayan lama dan mungkin kita yang ada di Indonesia sudah ketinggalan jaman.

Cartoon Characters as Facebook Profile Pictures – ABCNews

Tapi aah, biarlah disebut latah kartun. Gerakan ini sungguh memikat (saya tidak bisa mencari kata lain). Kenapa banyak orang yang melakukannya? Menurut saya, hal ini bukan semata hanya latah atau ikut-ikutan, ada emosi yang kuat ketika semua orang kembali mengingat-ingat, mencari di deretan sel abu abu mereka, memori indah yang sempat terukir. Bagaimana dengan setianya kita menunggu tayangan-tayangan tersebut, dan memilah-milah mana yang paling kita favoritkan. Sungguhnya saya sangat menanti-nanti, profile picture apa yang akan dipasang oleh teman-teman saya. Pilihannya beragam, mulai dari superstar papan atas (Doraemon dan Dragon Ball) sampai para pendamping yang terlupa (Dash Yankuro dan Candy Candy). Saya malah mencari-cari, siapa yang akan memasang foto dari Yoichi Ajiyoshi si Anak Cita Rasa (Born to Cook, ada yang ingat, anyone?) atau trio Rantaro-Kirimaru-Shinbe (Ninja Boy). Saya pakar di bidang ini, dan saya tidak pernah malu untuk mengakuinya. Sampai saat inipun rasanya saya bisa menyebutkan semua tayangan kartun di masa itu.

Saya sendiri memilih untuk memasang gambar Bart Simpson dan catch phrase-nya yang terkenal, “Eat my short, man!”. Saya ingat sekali menonton kartun ini sampai malam hari (jam tayangnya dipindah ke malam hari karena ratingnya yang memang bukan untuk anak-anak). Walaupun dulu saya tidak mengerti kelucuan dari film yang cenderung sadis ini, anehnya saya tetap tertarik untuk menontonnya.

(*) Jumping Jack Flash is a well-known-slash-famous-song by Rolling Stones. Yeah, fyi :P

Narcissus and The Lake

//December 06, 2010//

The Alchemist picked up a book that someone in the caravan had brought. Leafing through the pages, he found a story about Narcissus.

The Alchemist knew the legend of Narcissus, a youth who daily knelt beside a lake to contemplate his own beauty. He was so fascinated by himself that, one morning, he fell into the lake and drowned.

At the spot where he fell, a flower was born, which was called the narcissus.

But this was not how the author of the book ended the story. He said that when Narcissus died, the Goddesses of the Forest appeared and found the lake, which had been fresh water, transformed into a lake of salty tears.

“Why do you weep?” the Goddesses asked.
“I weep for Narcissus,” the lake replied.
“Ah, it is no surprise that you weep for Narcissus,” they said, “for though we always pursued him in the forest, you alone could contemplate his beauty close at hand.”
“But….. was Narcissus beautiful?” the lake asked.
“Who better than you to know that?” the Goddesses said in wonder, “After all, it was by your banks that he knelt each day to contemplate himself!”

The lake was silent for some time.

Finally it said:
“I weep for Narcissus, but I never noticed that Narcissus was beautiful. I weep because, each time he knelt beside my banks, I could see, in the depths of his eyes, my own beauty reflected.”

“What a lovely story,” the Alchemist thought.

( Prologue of “The Alchemist”, celebrating this last week THREE YEARS in the New York Times Bestselling list.)

This is my second time reading the story although I already read The Alchemist for couple of times. The first one was my first time reading The Alchemist, the book was my friend’s and unfortunately my copy of The Alchemist doesn’t contain the prologue (the Indonesian version of The Alchemist was re-published by another book publisher company). And yeah, it’s kinda felt incomplete for the rest of the story.