The Hardship of Happiness

Kadang, ada waktu di mana kita mempertanyakan keberadaan diri untuk kemudian memilih untuk berhenti dan kembali menjalani hari seperti biasa. Entah karena memang ingin melupakan sejengkal kegelisahan, atau memang ingin mengambil aksi dari semua kesimpulan. Saya nggak suka berpikir terlalu panjang dan saya lebih suka mencari jawaban lewat hal-hal kecil dalam keseharian, jadi ketika pertama kali mengalami depresi saya nggak tau harus berbuat apa. Saya beruntung nggak punya keinginan sedikitpun untuk mengakhiri hidup ataupun mencari jawaban lewat ketergantungan, tapi nggak sedikit orang yang seberuntung saya.

Beberapa waktu yang lalu, sempat beredar berita-berita seputar bunuh diri. Mulai dari vokalis band rock favorit sampai orang asing yang tidak saya kenal. Saya beberapa kali berkata bahwa yang namanya berita sensasional dan kemalangan pasti lebih cepat beredar di masyarakat. Saya kembali menyayangkan banyaknya lembaga berita yang terlalu mengekspos hal semacam ini secara berlebihan. Imbasnya, pusat solusi dan lembaga masyarakat sibuk menginformasikan nomer hotline yang dirasa bisa membantu orang-orang yang memang mengalami depresi yang amat sangat dan memikirkan mengakhiri hidup. Kata depresipun kemudian mengalami penurunan arti dari istilah medis menjadi kata kerja sehari-hari.

Read more

The Dive Within

Ketika kami masih sama-sama berkutat dengan Tugas Akhir, teman saya Ali adalah orang yang pertama kali mengenalkan saya dengan konsep bahwa untuk menjadi expert di suatu bidang, kita setidaknya harus menekuni hal tersebut selama 10.000 jam. Staying true to his love for Lighting Design, ketika lulus, beliau nggak ragu untuk mengambil pekerjaan di bidang yang sama. Ali bahkan sempat bekerja di Singapura sebelum akhirnya kembali bekerja ke Indonesia dan melanjutkan kuliah dengan bidang yang sama ke Jerman. Buat saya, Ali adalah salah satu orang yang saya benar-benar kenal dan menerapkan prinsip 10.000 jam secara utuh.

Kadang saya iri kalau melihat Ali yang sepertinya punya bidang khusus yang membuatnya ‘dikenal’ atau ‘diingat’. Berkaca kepada diri sendiri, saya nggak punya hal seperti itu. Saya justru menarik garis keras bahwa saya nggak ingin cuma menekuni satu hal. Saya pernah bercerita tentang minat saya yang beragam di salah satu post. Now, looking back (and forward), I’ve never regret this choice.

Suatu hari, saya pernah membaca salah satu post ilustrator favorit saya, Ayang Cempaka. Di post tersebut, beliau mengutarakan bagaimana kebingungannya karena punya banyak minat dan ide. Saya sempat terkejut karena Mba Ayang adalah ilustrator dan crafter yang menurut saya punya style yang distinct dan semua produk yang dihasilkannya searah dengan style tersebut. Tapi ternyata, Mba Ayang juga punya kegelisahan yang sama dengan banyak dari kita: having no words to define ourselves.

Read more

Sky Motel

The Sky Motel stands right across the curve in mid level cloud.

10.000 feet above.

You’ll be lucky to find it, they said.

Others have given it 4.7 stars review and they are raving about the place.

Somewhere between the silent dawn and the loud sunset.

You’ll enjoy the color transition of the marvelous sky when the violet turns red and becomes pale orange.

They say it’s breathtaking as well as heart stopping.

While the view of Sky Motel is taking the top compliment, many guests also mention the surrounding atmosphere.

It is the perfect combination of silence and peacefulness.

Other keywords include terms like ‘healing’, ‘motivating’, and ‘reassuring’.

Though not many have come to actually find the exact location of the famous Sky Motel, some have been around to visit it from afar.

Hoping for another visit, to actually spend a night (or maybe day), in the property.

Therefore, we conclude the report by saying this once again, you’ll be lucky to find it.