This is It review

//November 26, 2009//

It’s maybe too late to celebrate the movie, but I want to write about this movie so bad. It is the best package of a documentary movie that I’ve seen so far. It is also because Kenny Ortega is the director of High School Musical, which I’m so rooting for now and then. So… here it is.

This is It, this is where the Magic happens.

Saya bukan penggemar Michael Jackson. Mungkin itu salah saya karena saya besar dengan mendengarkan lagu-lagu Blink 182 atau Green Day daripada lagu-lagu Michael Jackson. Tapi setelah menonton film ini, saya meninggalkan bioskop dengan menyesal bahwa saya bukan penggemar Michael Jackson.

Kenny Ortega memberikan sebuah sajian luar biasa di mana kita melihat ribuan semangat yang terbakar di bawah naungan sang maha bintang pop Michael Jackson. Di mana ribuan mimpi berkumpul dan tercurah dalam film dokumenter yang bercerita tentang pembuatan konser terakhir Michael Jackson yang akan bertitel sama—This is It. Yang bisa saya bilang, film ini penuh passion dan perjuangan, di mana sebuah encore tidak akan tercipta tanpa penari latar, backing vocal, guitarist, penata lighting, dll. Film ini memperlihatkan sisi manusiawi dan musikalitas luar biasa Michael di atas panggung.

Saya kembali menyesal, bagaimana mungkin saya sampai tidak mengidolakan Michael Jackson. Dialah dewa dari musik, ia adalah segalanya yang pernah terbayang dari seorang bintang.

This is it.

This is the tale of a man who becomes a king, and changed the world.

 

Kecewa. Lagi.

//November 25, 2009//

Gue orang yang sangat menyeramkan kalau marah. Dan gue sangat menyebalkan kalau marah. Gue jahat. Karena gue bisa berbuat apa aja lebih dari yang pernah gue bayangkan. Gue jahat banget kalau jadi musuh. Kalau gue benci orang, gue parah banget. Gue bahkan pengen mereka mati. Iya, mati menderita. Langsung ke neraka. Walaupun gue tahu bahwa gue yang pasti masuk neraka karena nyumpahin / bunuhin mereka.

But then again, kalau dipikir-pikir siapa gue? Bisa sejahat/sekejam itu. Gue bukan Tuhan yang bisa nentuin kapan seorang manusia mati.

Mungkin harus ikhlas, mungkin harus terima bahwa mereka jahat padahal kita sudah berusaha baik sama mereka, mungkin harus bernafas tenang kalau mereka tidak pernah bilang terima kasih, mungkin harus santai-santai saja karena mereka tidak pernah peduli dengan bantuan yang kita berikan (atau mungkin mereka tidak butuh?).

Mungkin mereka adalah dewa, yang punya teman-teman dewa lainnya. Mereka ada untuk disembah sujud, bukan untuk membantu orang lain. Gue mungkin bukan teman-teman mereka, karena gue bukan dewa. Baru sekarang melihat bahwa di kehidupan nyata memang ada orang-orang yang pilih-pilih teman. Sucks.

Kecewa dan merasa bodoh karena pernah mempercayai mereka dan menganggap mereka teman (padahal mungkin gue hanya dianggap genangan air atau kotoran di tengah jalan). Bodoh

 

Di Luar Saja

//November 24, 2009//

Hilir mudik.
Lalu lalang.
Orang-orang di balik tirai biru.
Wajah-wajah khawatir, tatap haru.
Melantunkan doa sejahtera.

Kami hanya orang-orang di luar tirai, sang pelantun doa, dengan wajah cemas, yang hilir mudik.
Kami tak tahu beratnya hidup di balik tirai, mengaduh lemas, wajah tertunduk. Pucat.

Kami hanya orang-orang di luar tirai. Hanya ingin seulas senyum tanda bahagia. Hanya ingin sepasang kaki yang menopang kalian kuat.
Untuk sekarang, tidak apa. Tangis bukan senjata, cuma rasa sayang.

Cepat sembuh.

 

Fireflies

//November 21, 2009//

This is the celebration of black and white
The monochromatic version of sephia
We ride on an endless coaster
To adventure land the map seen not
Tired and exhausted our hearts might be
Reality and acceptance is all we’ve got
Walking down the hallway, flying through chairs, jumping to children
We’re just fireflies with time remaining
We glow, we shine, we take the wind
But the light will fade and that’s your turn
To burn the fire and see the sky
This is the only place you’ll hoped you’ll be

 

21 November 2009
14:35

Take your time, friends. You’ll get here soon, and I’ll be your guide. For sure. And I’ll make you all golden.

Anomali

//November 15, 2009//

Hari ini tidak seperti hari Sabtu. Di mana saya bisa bangun siang dan berangkat ke luar rumah di atas jam 10.

Hari ini tidak seperti hari Sabtu. Karena biasanya saya harus bangun jam setengah 7, sampai di kampus jam 8, dan beraktivitas sampai sekiranya jam 5 sore. Ya, walaupun mulainya lebih lambat, aktivitas saya justru molor sampai jam 1 malam.

Hari ini tidak seperti hari Minggu. Karena rutinitas jam setengah 7, dimajukan jadi jam 4 pagi. Menjelajah kampus tetangga, pulang ke kampus jam 10, dan meneruskan rutinitas lagi.

Iri rasanya melihat banyak status yang bertebaran dengan keriaan akhir minggu ataupun waktu libur dengan keluarga/sahabat. Di akhir minggu, kegiatan saya justru baru dimulai.

Really, I just can’t tell where is my weekend anymore. Yet, it is still enjoyable to see the face of my dearest beloved friends, foes, mates, and children. So, bear me another weekend, because I know I can do it better. There will be no space for spoiled little bastard begging for vacation or another whining and complaining. I am (trying) not gonna do that. Bet that, I’m getting stronger.. Yeaay.. :)