A Letter to Superstar

//September 19, 2009//

 

So now you’re playing solo. So what? What’s the different here and now?

You’re screaming to tell people you’re on your own now. You’re actually giving a press conference to other. And actually, you’re stand still and strong. You want to proof that you’re okay, you’re strong, and you’re good on your own. But honey, you say you just need a time to let go, and even if you two finally going on a duet again, people won’t give a damn. We TOTALLY understand. We know that people actually making a short or even long decision, and later on, find out that it’s not so short or so long thought. And maybe you just have another long conversations, thoughts, or lot of time in the future to think about it.

So, you think people going to interrupt you and your little life. You still think that we CARE that much? Well girl, you better think again. There’s a lot of thing going on to the world right now, and you still think that you need that kind of attraction? Gosh, you just need to see the world in a much bigger eye. It’s not always just about you.

 

Jawaban

//September 18, 2009//

 

God answers prayers in 3 ways:
He says ‘Yes’ and give you what you want.
He says ‘No’ and gives you something better.
He says ‘Wait’ and gives you the best.

Toko Permata. Siang Hari

Di bawah sorotan lampu putih dan display etalase yang serupa, terlihat deretan cincin dan perhiasan diletakkan. Toko permata itu sangat terkenal, sudah menangani ribuan klien. Untuk kado ulang tahun, untuk pernikahan, dan tentu saja untuk melamar.

Sebuah kotak cincin terlihat dibuka oleh Sang Pegawai Toko.
“Ini yang terbaik, Tuan,” katanya sambil tersenyum. Dikeluarkannya sebuah pita berwarna putih.

Sang Pembeli mengambil kotak cincin tersebut dan mengangguk-angguk puas. Kotak cincin itupun ditutup, dililit pita oleh tangan piawai Sang Pegawai Toko. Sang Pegawai Toko menggesekkan sebuah kartu kredit di mesin. Kartu platinum, dengan warna hitam yang mengkilat. Tanda tangan siap dibubuhkan, dengan bolpen emas milik Sang Pembeli.

Suara mesin kasir terdengar berdentang. Sang Pegawai Toko dan Sang Pembeli berjabat tangan. Keduanya tersenyum, transaksi yang memuaskan.

Rooftop sebuah hotel. Malam hari.

Terlihat dua gelas terdentang. Malam itu, ratusan bintang berlomba mencuri perhatian. Dinner istimewa, satu meja di bawah langit yang gemerlap. Makanan pembuka, lilin remang-remang, main course, permainan violin (“Surprise!” kata Sang Pria), pembicaraan yang panjang, sedikit canda, dan tambahan rayuan manja.

Malam berlalu, Sang pria membuka kotak cincin, Sang Wanita (tampaknya) kaget bukan main. Sang pria memasangkan cincin itu di jari Sang Wanita yang sesaat menahan nafas. Sang Wanita menjawab.

Sebuah apartemen. Siang Hari

Terlihat sebuah kamar apartemen mewah. Sebuah suara terdengar dari telepon.

“Silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi BIP.”

“Yandi, nggak ada di rumah, ya? Eh, udah denger belom? Gue tadi baru dapet undangan, terus gue langsung telpon elo. Si Nina, iya Nina, mau kawin aja gitu. Cincinnya bo… wah, gede banget… Tapi lo jangan pasang tampang kusut ya waktu dateng ke resepsinya. Ntar lo pokoknya sama gue aja… ngomong-ngomong gimana cewe yang waktu itu gue kenalin, rada-rada suka nggak nyambung gitu sih ngomongnya. Tapi cakep kan, bo… Udah dulu deh, Yan. Nanti kalo udah pulang kasih tahu gue ya, Bo. Katanya ada tempat sushi baru dibuka. Giliran lo nraktir, ya…”

Di meja terdapat pigura-pigura foto yang memperlihatkan foto sebuah pasangan. Terlihat genangan darah meluas, kaki seseorang terlihat terduduk. Di tangan kanan mayat itu ada sebuah pistol, dan di tangan kirinya ada sebuah undangan pernikahan. Nina dan Ardi, tulisnya. Di lantai, tergeletak sebuah foto, Yandi dan Nina, saling memeluk. Masa lalu dan kenangan-kenangan indah.

Sang wanita menjawab “Ya.”
Tapi jawabannya tak selalu indah.