apa yang tak tahu ada

Kamu tahu rasanya sakit hati, dan penantian. Seperti ia yang tak kunjung datang. Seperti apa yang tak tahu ada.

Katakan saja kamu suci, dan sebenarnya tidak mungkin. Seperti saya dan mereka, tersakiti dan mencintai. Kepada apa yang tak tahu ada.

Di tanah ini adalah seberang, tergantung di mana kaki kita berpijak. Tak bergerak dan tak beranjak. Ingin merangkak tetapi kepada siapa.

Ini bintang. Masukan ke saku dan tebak sampai kapan. Mengharap apa yang tak tahu ada.

Dari sana terlihat apa? Di seberang hanya kadang. Terlihat jarang dan tetap menerawang. Melihat apa yang tak tahu ada.

Di sana mungkin gelap. Saya bersyukur di sini terang. Tidak perlu menebak masa depan, karena menjalaninya lebih benderang.

Dynasty dan Sebuah Mimpi di Ujung Tempat Tidur

Menyaksikan Mata Najwa edisi Sinema Merana adalah sebuah pertanda magis yang luar biasa. Entah mengapa, menampar saya berulang kali dan membuat saya mengingat banyak hal. Banyak hal yang masih harus saya capai.

Sejak marak dan hebohnya pemberitaan tentang pajak film dan isu monopoli bioskop 21, saya tidak pernah terlalu banyak bicara. Saya tidak meRT tweet Joko Anwar atau Mira Lesmana tentang permasalahan ini, sayapun tidak banyak membicarakan dan mengeluhkan hal tersebut di luaran. Saya tidak pernah takut tidak bisa menyaksikan film layar lebar. Di zaman DVD bajakan dan teknologi jaringan nirkabel, menikmati film bagus (ataupun film jelek) bukan masalah besar lagi. Hey, saya mengunduh hampir 10 episode TV serial dengan berbagai judul setiap minggunya. Tidakkah hal yang sama berlaku dengan film layar lebar.  Yang saya takutkan adalah saya tidak bisa menikmati film layar lebar di tempat yang seharusnya.

Siapapun tau, saya adalah penggemar bioskop. Sensasi magis yang dibuatnya kadang membuat merinding. Dan walaupun kadang malu-maluin, saya memaklumi orang-orang yang bertepuk tangan di bioskop. Menonton bioskop seperti morfin buat saya. Ketika saya stress menyelesaikan tugas akhir saya, tak terhitung waktu saya bolak balik masuk bioskop seorang diri. Duduk bersebelahan dengan bocah-bocah yang kegirangan dan ikut tertawa bersama mereka. Saya pernah menulis ini, dan berharap saya bisa membuat tugas akhir tentang bioskop (walaupun akhirnya topik tugas akhir saya tidak kalah kerennya, menurut saya).

Kembali ke hampir belasan tahun lalu, saya punya sebuah mimpi kecil di ujung tempat tidur. Di sebuah lahan di Cinere (daerah tempat saya tinggal) berdirilah sebuah bioskop kecil bernama Dynasty. Bioskop kecil itu berdiri tegak, walau lapuk, tapi tetap terlihat gemerlap di mata bocah saya. Bioskop Dynasty merupakan sebuah kisah nyata tentang terpuruknya bioskop kecil yang terpinggirkan di antara jaringan bioskop besar. Saya menyaksikan sendiri bagaimana bioskop tersebut terpuruk dan kemudian, mati. Bagian depan Dynasty kemudian masih dipergunakan sebagai tempat mesum, tempat preman, dimana pertandingan bilyar dilaksanakan setiap hari. Bahkan, sebuah acara supranatural yang sedang booming pada masa itu, ikut-ikutan membuat liputan tentang bioskop ini (true story). Untuk kemudian, Dynasty berubah jadi gedung mati dan daerah di sekitarnya tetap disebut sebagai Dynasty. Dan adalah tetap sebuah mimpi kecil saya, untuk membeli bioskop itu dan menjadikannya kembali menjadi sebuah tempat impian. Yang gemerlap dan menyilaukan.

Saya sangat  kecewa, ketika pulang dari Bandung suatu saat, sebuah papan pembangunan terpancang besar di depannya. Gedungnya sudah runtuh, sekelilingnya dipagar seng, sebuah bangunan asing akan berdiri di sana. Antara sakit hati, dan tangisan. Beberapa bulan kemudian, tercetak lambang besar Cinere Square, Robinson, dan Ramayana di depannya. Sampai akhirnya, bulan kemarin tempat ini bangkrut dan ditutup. Rumor tetangga berkata tempat ini akan dijadikan Matahari, yang mungkin lebih bonafid dan menghasilkan banyak uang. Tapi jauh di sudut tempat tidur saya, saya masih punya mimpi itu. Hal yang kadang masih membangunkan saya di malam hari, dan menuliskan kata tentang mimpi saya akan bioskop ini.

Meminjam tagline iklan Indomie, ini cerita saya. Cerita yang akan saya ceritakan kepada anak-anak dan cucu-cucu saya nanti, tentang impian, tentang sebuah tempat yang gemerlapan. Tapi sayangnya, saya belum berani membersihkan sudut tempat tidur saya, dan membiarkan cerita ini berhenti di sini. Siapa yang tahu, beberapa tahun lagi, sebuah bioskop akan kembali berdiri di sana :)

“Satu hal yang pasti kita butuh lebih banyak layar. Tidak hanya di gedung-gedung mewah yg berkarpet merah, tapi di bioskop-bioskop kecil, yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Untuk menghibur yang selama ini berada di pinggir dan mengajak mereka berani bermimpi.”

 Mata Najwa, Sinema Merana (21 September 2011)

http://www.metrotvnews.com/metromain/newsprograms/2011/09/21/10135/Sinema-Merana

Dan ketika saya meng-google tentang Dynasty tidak ada foto tentang bangunan ini. Tetapi ia akan tetap hidup di sudut ingatan saya, dan selamanya akan begitu.

Selamat malam kepada semua yang pernah bermimpi.

meracau lewat kata

…dan saya mendapat gaji saya kemarin, menandakan sudah genap 5 bulan saya bekerja. Saya mencoba mengingat-ingat apa yang berubah dari saya, lewat kata, lewat tulisan saya. Dan ternyata… banyak.

Saya membuka-buka archive blog saya dan menemukan, saya sudah lama tidak bercerita. Tentang kota warna, tentang ksatria dan putri yang pergi ke medan perang, tentang tukang roti dan kata-kata yang diselipkannya di depan oven ketika pagi datang, tentang para pemabuk mimpi di kota yang tidak pernah tidur, menempa besi hanya untuk menyaksikan senjata mereka dipergunakan untuk membantai sanak saudaranya di negeri seberang, tentang para peri. Para peri yang entah mengapa selalu saya gambarkan sebagai makhluk yang dikutuk menjadi bisu ketika siang hari dan baru bisa berbicara ketika malam tiba, ketika tidak ada seorangpun yang mendengarkan.

Mengizinkan saya bercerita seperti ini sama saja membiarkan saya mengoceh soal ratusan halaman yang tidak pernah dibaca siapapun (selain adik saya), yang kemudian menguap teriring sempitnya harddisk komputer dan termakan virus kurang ajar. Menjadikannya abadi dan sayangnya, bisu. Tidakkah kamu rindu waktu dimana semua hal hanya tentang kamu dan para kunang-kunang pemberi harapan? Masihkah kamu ingin bertemu dengan para peramal di hutan Selatan, yang bahkan tidak pernah meramalkan apapun selain bahwa akan ada genangan hujan setelah hujan? Biarkanlah dua paragraf ini menari di bawah senja seperti ini, saya sudah lama menyimpan kata-kata ini di ujung hati (dan jari).

Jika saya dibiarkan kembali ke ide awal post ini, saya merasakannya banyaknya perubahan yang nyata terjadi. Yang pertama tentu saja waktu. Seperti yang saya jelaskan di awal, waktu untuk saya sendiri berkurang hebat dan terasa sialan. Waktu saya berubah menjadi waktu mereka, dan hasil karya saya berubah menjadi hasil karya mereka. Ketika coretan kecil adalah nista dan revisi adalah kemutlakan. Saya harus tidur di jam 9 untuk bangun di setengah 5 (yang mustahil saya lakukan karena secepat apapun saya berusaha tidur, saya terlelap di jam 10). Saya harus berangkat dan pulang di jam yang tepat, karena 5 menit adalah imbang dengan 1 jam. Logis? Dan saya hanya bisa tertawa tentang semua itu.

Ya, perubahan terbesarnya adalah waktu. Repetisi. Yang kemudian merembet menjadi ketidakpuasan dan kejenuhan. Mesin.Di awal kejenuhan saya, saya berusaha mengabaikan semua itu. Berusaha menerima banyak hal dengan bahagia, dan berusaha mencari kegiatan lain. Saya mengumpulkan beberapa teman dan membuat program beasiswa, sehingga saya punya cukup waktu untuk kegiatan saya sendiri di luar (selain bermain City of Wonder). Di waktu saya yang lain saya membeli 5 tumpuk komik dan memuaskan semua keinginan yang tertunda. Kembali terbenam di panel panel gambar dan sesekali terharu karena petualangan yang begitu luar biasa (yang saya tidak akan pernah bisa mengalaminya). Saya menulis ketika saya ingin menulis dan kadang membiarkan banyak hal tertinggal di meja makan.

Sayangnya, hidup masih akan terus berjalan seperti ini. Dan saya masih berhasil untuk multi tasking menuliskan post ini (di sela-sela kalkulasi valve yang data prosesnya selalu ngaco) walaupun dengan kadar otak yang (entah mengapa) terasa semakin mengecil. Artinya, saya mungkin hanya mengeluh sesaat (walaupun saya benci sekali keluhan).  Dan besok, saya masih akan tersenyum untuk membagi kebahagiaan dan membungkus bekal makan siang. Pada akhirnya, saya bersyukur masih bisa mempunyai kesempatan meracau lewat kata :)

And when people said find a passion not just a job. Oh, I seriously thought you’re just being funny. It has never been in the same line anyway.

 

lifeaftercollege #4

ketika kata-kata finansial terucap-ucap tanpa tahu apa artinya (dan sebenarnya, tidak ingin pernah tahu)

Buat saya yang tidak pernah menabung sampai lulus kuliah, dan terbiasa menghabiskan uang bulanan yang tersisa untuk beli komik, kehidupan seperti sekarang terbilang menyeramkan. Karena dengan pendapatan yang dihasilkan sendiri, otomatis pengaturan keuanganpun harus dilakukan sendiri. Saya sadar saya impulsif, alhamdulillah-nya impulsif saya bukan karena barang, tapi impulsif jajan (apa lebih parah? :P). Jadi pengeluaran impulsif saya termasuk kecil-kecil tapi kalau dihitung menggunung.

Ada juga beberapa teman-teman saya yang mengeluh bahwa mereka kesulitan menabung padahal pengeluarannya hanya seputar makanan, ongkos, dan sedikit beli-beli saja. Sebenarnya sedikit beli-beli ini yang masalah, apakah benar sesedikit itukah beli-beli kamu? Trik kecil yang saya pelajari dari Angga semasa kuliah (yang sangat berguna sekarang) adalah mencatat SEMUA pengeluaran SETIAP HARI. Yang dimaksud semua adalah sekecil2nya pengeluaran tersebut, dari mulai makan, belanja, bayar parkir, beli permen, dll. Untuk bulan-bulan awal, coba klasifikasikan pengeluaran menjadi beberapa kelas besar, transport, makan, atau bahkan untuk main (khusus saya sih namanya Anggaran Main). Jadi kamu bisa tahu kemana sebenarnya sebagian besar uang kamu pergi.

Setelah tahu berapa kira-kira pengeluaran ‘pokok’ yang kamu keluarkan setiap bulan. Coba dilihat sebelah mananya pengeluaran kamu yang bisa dihemat. Dari situ kamu bisa menentukan seberapa besar yang bisa kamu tabung setiap bulan.  Besarnya persen yang ingin kamu tabung itu tergantung dengan target dan kemampuan yang dapat kamu capai. Tips dari saya sih, berusalah untuk REALISTIS. Jangan terlalu pelit untuk membelanjakan pendapatan kamu, karena siapa sih yang tidak ingin membeli flats shoes idaman ataupun DVD compilation Star Wars yang sejak dulu dimimpi-mimpikan :P Tapi jangan juga menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak terlalu penting atau tidak terlalu kamu butuhkan (saya menyebut barang-barang ini dengan nama “barang lucu tidak berguna”).

Menurut buku yang saya baca sih, untuk usia fresh graduate, menabung 10 % dari pendapatan kamu sudah sangat baik loh (bayangkan jika pendapatan kamu 1.000.000/bulan, kamu cukup menabung 100.000). Terlihat kecil bukan, nah harusnya kita bisa menabung lebih besar dari itu. Untuk hitungan saya yang bekerja di Jakarta dan punya rumah di Jakarta (yang berarti tidak perlu mengeluarkan uang kost atau uang makan) harusnya saya bisa menabung hampir setengah dari pendapatan saya. Tapi kalau menurut saya, ini saatnya untuk menyisihkan sebagian uang untuk membantu orang tua. Cobalah mulai menyisihkan sebagian kecil untuk membantu membayarkan yang kecil-kecil, biasanya sih orang tua yang masih dalam usia kerja bakal menolak dan menyuruh kamu untuk menabungkan saja uangnya. Tapi trik saya sih bilang saja untuk minta ‘disimpankan’ sama mereka :D

Kalau kamu kesulitan untuk menabung karena tergoda untuk menyicil barang-barang yang terlihat “kapan lagi kalau bukan sekarang?” ataupun karena sifat impulsif yang tidak dapat dikendalikan :P, cobalah untuk membuat rekening lain khusus untuk tabungan. Di beberapa bank tersedia tabungan rencana ataupun tabungan dana pensiun yang ‘secara paksa’ mendebet beberapa persen (yang besarnya kamu tentukan sendiri)  dari rekening kamu ke rekening tabungan kamu yang lain.

Setelah punya simpanan yang cukup ‘aman’ (biasanya saya menetapkan batas, berapa banyak yang harus tersisa di tabungan), kamu mungkin bisa mencoba untuk berinvestasi. Banyak bentuk investasi yang sedang naik daun sekarang, di antaranya reksadana dan investasi emas. Yang manapun yang kamu pilih, sebaiknya diikuti dengan pengetahuan yang baik pula. Jenis investasi yang paling aman untuk para investor pemula, mungkin bisa dimulai dari investasi emas (saya biasa mengecek LogamMulia untuk harga emas, dan Goldgram untuk pengetahuan mengenai emas).

Salah satu buku yang benar-benar mencerahkan hidup saya adalah buku ini. Untuk Indonesia yang Kuat menjabarkan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan (ya iyalah, saya ngertinya ya habis kerja, cari duit, nabung sampe menggunung, yang ternyata tidak cukup sampai di situ). Buku ini berhasil bikin takut dan jleb jleb jleb sampe ke dasar dasar :)) Ligwina Hananto, sang penulis buku ini, juga bisa ditemui di Planning a Better You (salah satu kolom di Kompas.com yang membahas tips tips keuangan yang mudah dimengerti, saya rekomendasi sekali kolomnya) dan website QM Financial (konsultan financial milik Ligwina yang  website-nya menyediakan kalkulator yang bikin jleb jleb jleb untuk menghitung dana pensiun, dana pendidikan untuk anak, dll).

Intinya sih ada beberapa yang masih menganut paham “belum waktunya untuk menabung” atau “masih banyak waktu di hari esok”, semuanya tidak ada salahnya. Semua hal memang perlu niat untuk memulai, dan saya sih tidak mau suatu saat terbangun dan merasa menyesal karena harusnya bisa mulai lebih awal. Pada akhirnya, semua orang selalu mengharapkan financial freedom kan?

PS: Jangan lupa juga untuk menyisihkan uang kamu untuk berzakat. Karena sebagian dari yang kamu punya sekarang adalah titipan milik orang lain yang membutuhkan. Investasi inilah yang insyaallah akan berlipat ganda, beranak pinak, dan tidak akan pernah habis bunganya :)