adu pagi

Dan kepada sinar matahari pagi kami mengadu hari

Menanti surat elektronik dan pesan singkat

Hanya untuk sebuah kabar baik

Yang tak pasti

Melagu

Miris

.

Dan untuk semua para pengadu hari yang masih bertahan

Kami berikan banyak-banyak semangat dan cinderamata

Entah bernama dan dinamakan apa, terserah saja

Pastikan ini aman sampai saatnya nanti

Ketika pagi sungguh terasa pagi,

dan larut malam adalah jam 10

Untuk mengadu nasib lagi

dengan lagu baru

Ayo adu saja

Pagi

life after college #2

Selamat, ya. Hmm, lalu apa?

Setelah lulus, saya bisa mengklasifikasikan jalur yang bisa diambil menjadi dua kelas besar, yaitu:

1. Cari kerja
2. Sekolah lagi

Tapi sebenarnya ada kelas ketiga yaitu:
(3.) Menikah

But, let’s put this one aside for a while :P Intinya sih, dua kemungkinan paling atas adalah yang paling lazim diambil ketika kita dinyatakan lulus (bukan berarti pilihan ketiga nggak mungkin ya). Cari kerja itu kemungkinannya pun masih beragam. Bekerja di perusahaan pada umumnya (istilahnya mungkin jadi employer), ataupun membuka lapangan kerja bagi orang lain (enterpreneur). Kedua hal di atas punya plus dan minusnya masing-masing, dan karena sekali saya bilang we’re not reading on the same PPKn textbook anymore, jadi tidak ada yang salah dalam kedua pilihan tersebut. Satu yang pasti, menentukan tujuan adalah hal yang paling tepat untuk mendasari setiap pemikiran kita, barulah kita bisa menentukan langkah-langkah untuk mencapainya. Sebenarnya ada juga paham ‘go with the flow’ tapi realitanya, aliran tersebut termasuk tidak lazim untuk digunakan di fase kehidupan ini.

Meskipun kita pada akhirnya memilih untuk bekerja pada suatu perusahaan, kembali lagi, pastikan dulu tujuan kita. Apakah untuk menabung, berkarir, atau yang lainnya. Kalau kita memutuskan untuk berkarir, maka pikirkanlah industri dan perusahaan apa yang bisa mendukung kita ke arah ‘goal’ tersebut. Kalau kamu senang mengajar, kamu bisa memilih mengajar di tingkat apa. Kalau di tingkat kuliah, berarti jalurnya adalah mengambil jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan mengikuti prosedur sesuai tempat di mana kamu ingin mengajar. Kalau seandainya kamu ingin mengajar di tingkat SD-SMU, saya pernah dengar ada sertifikasi khusus untuk menjadi guru untuk lulusan S1 dengan mengikuti pelatihan (mungkin bisa buka website Dikti untuk keterangan lebih lanjut). Ataupun lewat program Indonesia Mengajar yang sampai akhir Mei ini membuka pendaftaran untuk angkatan ketiga-nya.

Kata orang tua sih, pada akhirnya, semua pekerjaan pasti mempunyai titik jenuh dan mungkin passion kita itulah yang akan membuat kita bertahan di suatu pekerjaan. Yang jelas, yakinlah dengan apapun pilihan kamu karena tingkat kepuasaan kehidupan kamu mungkin akan ditentukan lewat hal tersebut.

Ayo dipilih, dipilih…

when you’re on the highway, choosing direction isn’t the easiest to do

Memilih sebuah pekerjaan atau industri memang bukan perkara mudah. Seperti yang pernah saya pernah bilang, seperti memilih calon pendamping, kadang banyak pertimbangannya.

Biasanya, sebuah industri/perusahaan menginginkan lulusan yang terkait untuk bekerja di suatu pekerjaan tertentu. Misalnya perusahaan manufaktur kebanyakan mencari lulusan Teknik Industri atau Teknik Mesin. Atau perusahaan IT hanya akan mencari lulusan Informatika atau Teknik Komputer daripada seorang lulusan Teknik Biologi yang jago banget membuat program misalnya (walaupun terkadang ada pengecualian). Memang kadang terdengar kurang fair, tapi dari sudut pandang perusahaan sendiri mungkin mereka membutuhkan lulusan yang istilahnya ‘siap pakai’ dan terpercaya untuk mereka pekerjakan.

Tapi, sekarang ini sedang menjamur program Management Trainee/MT (ataupun Officer Development Program/ODP untuk bank) yang biasanya terbuka untuk semua jurusan. Kelebihan program ini adalah memberikan kita kesempatan yang lebih besar untuk jurusan-jurusan minoritas (seperti jurusan saya :P) dan istilahnya adalah kita dibayar sambil belajar, karena program ini biasanya melakukan training terlebih dahulu. Training ini bentuknya beragam tetapi standarnya adalah kita belajar tentang perusahaan tersebut, scope kerja perusahaan tersebut, dan divisi-divisi di dalamnya, dan lain lain. Tapi di saat yang sama, program ini mempunyai peminat yang jumlahnya sangat banyak dan menyebabkan kemungkinan masuk dan proses seleksinya menjadi sangat ketat.

Tetapi jangan berkecil hati. Kalau semisal kita punya background Teknik Perminyakan tapi punya keinginan yang besar d bergelut bidang HRD misalnya, bukan berarti pintu tertutup sama sekali untuk kita. Tunjukkan bahwa kita memang tertarik di industri/posisi tersebut, dan lebih bagus lagi kalau didukung oleh pengalaman organisasi yang berhubungan di sana. Misalnya di posisi HRD tadi, lebih baik kalau kita pernah terlibat di divisi sumber daya anggota ataupun ambil bagian di acara penerimaan anggota baru suatu organisasi.

Pekerjaan pertama biasanya menjadi kunci penting dalam jenjang karir kita selanjutnya. Misalnya kamu 2 tahun menjadi bankir, maka jika di tahun berikutnya kamu berminat berkarir di Oil & Gas maka kamu akan dianggap sama dengan standar fresh graduate yang tidak punya pengalaman. Gaji ataupun posisi yang akan kamu dapat tentu saja akan lebih kecil/kurang lebih sama dengan 2 tahun pengalaman kamu sebagai bankir.  Kontrak untuk program MT atau ODP biasanya mengikat kita selama sekitar 2-4 tahun, coba bayangkan apa saja yang bisa kita perbuat dalam waktu selama itu jika kita merasa kurang cocok/yakin dengan suatu industri. Jadi berhati-hatilah jika kamu sudah berurusan dengan yang namanya membubuhkan tanda tangan di atas materai.

Intinya sih, mencari pekerjaan yang sesuai dengan jurusan kita semasa kuliah sebenarnya merupakan jalur yang paling ‘cepat’ untuk mendapatkan pekerjaan. Tapi bukan berarti kita ‘harus’ bekerja di suatu industri tertentu, seperti yang saya bilang sebelumnya, pertimbangkan juga kemauan kita. Karena apa gunanya berkarir di tempat yang tidak kita senangi?

life after college #1

A couple of days ago, I’ve read a featured article on WordPress titled ‘5 Tips for College Graduated’. For a while I’ve been wanted to write the same thing, and here goes this post. The article itself is nice and worth the read to accompany your spare time.

From now on, I’ll be adding category to this blog. Mostly about life after college and how I deal with it. Maybe I’ll write about the industry I’m standing on, or maybe another junk tips and story. So, happy Friday for you.

For two million people who cursed Rebecca Black, admit it, her ‘Friday’ has instantly became an anthem for welcoming weekend. And sadly, Haley left the competition. Scottie and Lauren will do a country deathmatch afterall :P

abroad

Since I was little, I always thought going abroad is the greatest dream that I want to achieve. The clean air, the modern railway, the green mountain, the fabulous museums and old book shops. As I grew up, I’ve seen people going abroad, an exchange program, a broke travel trip, or even a wealthy vacation. Then I’ve lost interest of the whole idea.

I mean, what’s so special about going abroad? Is it just about the picture you took, with the famous landmark or some random foreigner? Is it about the happiness you feel inside when you tweet “Touchdown Europe”? Is it about the talk you’ll get when people talk about you, the pride? Is it about the people you shake hand with? Or is it about the achievement you need for being one step ahead from everybody?

The thing is, I still envy Europe for being adorable, Japan for being admirable, New York for being sophisticated, or even Russia for being exotic. But there’s a thing that I’ve lost anyway.

What’s so special of going abroad?

When people told me that they’re going shopping in their vacation in London, or walking slowly in Thailand, I don’t envy it anymore. Is it me going older?

Then again, it is just a matter of choices and several reasons to live abroad. It is another story to stay at the heated Indonesia with dumb government who don’t give a damn about some email account. As for me, the choices consider a question, “which one really need me?” instead of how big the temptation and the chances is. I guess the achievement doesn’t really excite me anymore. But maybe we’ll see.

PS: My beloved friend, Rizki Narindra just got accepted for a scholarship in Milan. He will get his Master degree majoring in Energy Environmental Management and Economics. The thing is I proud of him just because he got the scholarship, not because he is going to go across ocean and landed in Italy. Oh, that’s just an additional item.

and I will still do it for the rest of my life

They said, the modern working days and needs have changed the way everything works out. The term ‘working hard’ has evolves to ‘working smart’.

Oh, working hard is just decades away.

But, I am the kid of the 90s and I consider myself a little old fashioned for certain things. And yeah, all my favorite songs come from the year 1990s. So, I don’t mind to work hard. It’s the only thing I can do best for the whole 23 years of my life. Besides, smart is never going to be by surname anyway.