Kasta Negeri

Sekelebat kabut warna warni, disajikan khusus bagi para petinggi kerajaan. Para terhormat yang mulia, yang hidup selalu berkecukupan.

Terasinglah para pengembara, yang (merasa) telah melihat banyak hal dari gurun ke gurun. Menyesap dinginnya tanah dan angin badai. Kabut yang mereka lihat hanyalah putih pekat, terkadang keabuan dan tak pernah pergi. Merudungi hidup para pengembara, yang entah kapan menyicip bahagia.

Tersebutlah juga para perompak, para bandit di ujung bukit. Melihat aurora kehijauan ataupun jingga, menegak darah dan gelimang kemasyuran. Senyum tersungging di setiap wajah, dan ditawarkannya segelas emas. Para pengembara kadang tergoda dan seketika mengubah derajat, kain abu-abu berubah keemasan. Para pengembara pun mengganti namanya menjadi perompak.

Bagi para terhormat yang mulia, tidak ada pendapat ataupun komentar. Selama masih terlihat kabut warna warni, sedikit kerikil tidak menjadi masalah. Kadang tersandung dan kadang disanjung, tak membuat mereka  melirik ke bawah.

Bagi ketiga kasta di Negeri ini, tidak ada yang mampu menebak akhir cerita masing-masing. Si petinggi akan selamanya kelebihan, walaupun dihujat ribuan massa dan disodorkan racun atau belati. Si perompak akan terus mengipas, dan menawarkan segelas emas. Terkadang mereka tergeletak, tetapi hanya sebagian kecil yang merasa begitu. Hidup sang pengembara terlampau paling tidak tertebak. Akankan ia meminum segelas emas dan menjadi perompak, atau meniti karir untuk menjadi petinggi kerjaan. Akankah ia tetap memakai kain abu-abu, bersikap acuh terhadap terik panas dan butir hujan. Bangga menyandang nama pengembara, kemudian menetap di suatu negeri, teringat akan definisi pengembaraan yang sesungguhnya. Akankah ia kembali mengembara, menyisakan semilir angin di kejauhan. Tidak tersentuh oleh keremangan malam, dan habis ditelan jingganya sore.

Hei, halo. Dari sana terlihat apa?

Perfect Quest

While other dreams about a perfect job, I dream about how many job I’ll take before getting the chance to reach it, how many failure I have to endure, how many lesson I will learn.

While other dream about a perfect love, I dream about how many cold nights I have to face alone, will it always feels like winter or will it taste a little bit of spring.

While other dream about a perfect home, I dream about the road to the perfect home. How the pavement would be, how many trees lined up along the road, will it be bumpy, will it have a lot of dirt.

While other dream about the perfect life, I dream about the perfect adventure. Will I have to fight dragons, or will I ride it to slay demon king. Will I climb a bean stalk or will I meet a Chesire Cat.

For those dream day believers, don’t picture the perfect ending, picture the perfect quest. Because you won’t be disappointed if the ending doesn’t go so perfect. At least, you’ll feel proud about the road you’ll already conquer through.

vice versa

Kalau kamu ingin melihat terangnya matahari, kamu harus coba berkenalan dengan gelap pagi, bersalaman dengan kesunyian dan kesendirian.

Kalau kamu ingin merasa menang, kamu harus tahu rasanya sakit dan bersahabat dengan putus asa dan rasa sesal.

Setelah melewati semuanya dan menjadikannya sekutu di kanan kirimu, kamu harus tetap bisa tersenyum di antara kutukan dan caci maki.

Nah setelah itu, silahkan menikmati hebatnya kebahagiaan.

Selamat siang, hari Selasa :)

HBD WYATB

Tulisan ini layaknya kardus di loteng, sudah berdebu di bagian draft post saya. Karena (katanya) hari Jumat adalah hari paling santai di waktu kerja, izinkan saya produktif mem-publish isi loteng saya yang sudah banyak dihinggapi laba-laba. Kenapa mem-publish draft yang ini? Karena entah mengapa, gaya tulisannya agak lain dari tulisan saya yang lain, jadi merasa orang lain yang menulisnya.

Sudah beberapa kali saya menulis untuk teman-teman saya sewaktu mereka ulang tahun. Mungkin itu hanya easier way out buat saya yang  ingin memberi kado, tapi terhalang oleh suatu hal (budget, jarak, ataupun rasa malas). Buat teman-teman yang hanya saya beri ucapan dan doa (atau ucapan di wall facebook, ugh lame), maaf ya. Mungkin suatu hari saya akan kasih kalian kado yang proper (walaupun kata orang, yang penting niatnya :P).

Biasanya sebelum menulis tentang seseorang saya harus membayangkan mukanya dulu dan hal-hal memorable apa yang terjadi antara saya dan teman saya ini. Setelah itu, jari lancar memencet keyboard. Entah mengapa kadang menulis tentang seseorang jauh lebih mudah daripada menulis tentang sesuatu yang tidak ada atau sebuah karangan fiksi. Orang-orang yang membaca tulisan saya mungkin berpikir tulisan saya agak berlebihan dalam hal memuji si subjek tulisan. Anehnya, saya gak pernah peduli. Apapun yang saya tulis di sebuah tulisan adalah interpretasi jujur yang saya dapatkan ketika berinteraksi dengan seseorang. Jadi berbeda dengan tulisan random saya yang ada di blog, yang kadang gak jelas ditunjukan untuk siapa, yang banyak khayalannya juga, tulisan yang saya dedikasikan untuk seseorang impact-nya sangat besar untuk saya. Saya termasuk orang yang emosional dan sentimental dalam menulis, jadi tidak heran dahi saya jadi berkerut kalau menulis tulisan kesal dan kadang menangis tersedu-sedu kalau menulis sesuatu yang mengharukan. Saya kadang membayangkan emosi orang lain ketika membaca tulisan saya, apakah mungkin mereka akan menangis sedih juga?

Apapun itu, mungkin kamu bisa mulai menulis sebuah tulisan dan (mungkin) akan jadi kado yang tidak biasa untuk si subjek.

Ini portofolio kado ulang tahun esek-esek/abal-abal saya, dengan bahasa yang esek-esek/abal-abal juga :P Tahun ini, berniat menulis lebih banyak lagi.

HBD Sella | HBD Angga | HBD Vina | HBD Ayu | HBD Dinoy