Perfect Quest

While other dreams about a perfect job, I dream about how many job I’ll take before getting the chance to reach it, how many failure I have to endure, how many lesson I will learn.

While other dream about a perfect love, I dream about how many cold nights I have to face alone, will it always feels like winter or will it taste a little bit of spring.

While other dream about a perfect home, I dream about the road to the perfect home. How the pavement would be, how many trees lined up along the road, will it be bumpy, will it have a lot of dirt.

While other dream about the perfect life, I dream about the perfect adventure. Will I have to fight dragons, or will I ride it to slay demon king. Will I climb a bean stalk or will I meet a Chesire Cat.

For those dream day believers, don’t picture the perfect ending, picture the perfect quest. Because you won’t be disappointed if the ending doesn’t go so perfect. At least, you’ll feel proud about the road you’ll already conquer through.

vice versa

Kalau kamu ingin melihat terangnya matahari, kamu harus coba berkenalan dengan gelap pagi, bersalaman dengan kesunyian dan kesendirian.

Kalau kamu ingin merasa menang, kamu harus tahu rasanya sakit dan bersahabat dengan putus asa dan rasa sesal.

Setelah melewati semuanya dan menjadikannya sekutu di kanan kirimu, kamu harus tetap bisa tersenyum di antara kutukan dan caci maki.

Nah setelah itu, silahkan menikmati hebatnya kebahagiaan.

Selamat siang, hari Selasa :)

HBD WYATB

Tulisan ini layaknya kardus di loteng, sudah berdebu di bagian draft post saya. Karena (katanya) hari Jumat adalah hari paling santai di waktu kerja, izinkan saya produktif mem-publish isi loteng saya yang sudah banyak dihinggapi laba-laba. Kenapa mem-publish draft yang ini? Karena entah mengapa, gaya tulisannya agak lain dari tulisan saya yang lain, jadi merasa orang lain yang menulisnya.

Sudah beberapa kali saya menulis untuk teman-teman saya sewaktu mereka ulang tahun. Mungkin itu hanya easier way out buat saya yang  ingin memberi kado, tapi terhalang oleh suatu hal (budget, jarak, ataupun rasa malas). Buat teman-teman yang hanya saya beri ucapan dan doa (atau ucapan di wall facebook, ugh lame), maaf ya. Mungkin suatu hari saya akan kasih kalian kado yang proper (walaupun kata orang, yang penting niatnya :P).

Biasanya sebelum menulis tentang seseorang saya harus membayangkan mukanya dulu dan hal-hal memorable apa yang terjadi antara saya dan teman saya ini. Setelah itu, jari lancar memencet keyboard. Entah mengapa kadang menulis tentang seseorang jauh lebih mudah daripada menulis tentang sesuatu yang tidak ada atau sebuah karangan fiksi. Orang-orang yang membaca tulisan saya mungkin berpikir tulisan saya agak berlebihan dalam hal memuji si subjek tulisan. Anehnya, saya gak pernah peduli. Apapun yang saya tulis di sebuah tulisan adalah interpretasi jujur yang saya dapatkan ketika berinteraksi dengan seseorang. Jadi berbeda dengan tulisan random saya yang ada di blog, yang kadang gak jelas ditunjukan untuk siapa, yang banyak khayalannya juga, tulisan yang saya dedikasikan untuk seseorang impact-nya sangat besar untuk saya. Saya termasuk orang yang emosional dan sentimental dalam menulis, jadi tidak heran dahi saya jadi berkerut kalau menulis tulisan kesal dan kadang menangis tersedu-sedu kalau menulis sesuatu yang mengharukan. Saya kadang membayangkan emosi orang lain ketika membaca tulisan saya, apakah mungkin mereka akan menangis sedih juga?

Apapun itu, mungkin kamu bisa mulai menulis sebuah tulisan dan (mungkin) akan jadi kado yang tidak biasa untuk si subjek.

Ini portofolio kado ulang tahun esek-esek/abal-abal saya, dengan bahasa yang esek-esek/abal-abal juga :P Tahun ini, berniat menulis lebih banyak lagi.

HBD Sella | HBD Angga | HBD Vina | HBD Ayu | HBD Dinoy

Invincible

Give me a minute, I’m good.

Give me an hour, I’m great.

Give me six months, I’m unbeatable.

– Col. John ‘Hannibal’ Smith (The A-Team, 2010)

Words are powerful, and when you got to hear sentences like these. Chilled, is just another expression. For some other time, rejection maybe hard and painful. But, I keep reminding myself that I use to face this kind of time, I use to face rejection. The one thing that I hold on time to time, is the will to keep on dreaming, to get to the goal.

I’ve experienced this kind of time. When I was rejected becoming the project leader of Dokumentasi Wisuda Oktober 2007. I was falling hard that time, and it was such a big blow. Come Wisuda April 2008, I became resisted to what I believe. Seeing people come to do the interview, I don’t want to rush things, beside I felt much more incapable of doing thing. But then again, the dream stayed alive. I kept on learning. About myself, the do’s and the dont’s, the why and the how. Exactly 9 months after October, I signed up again.

On June 2008, I was assigned to be the project leader of Dokumentasi Wisuda Juli 2008.

Thing is, I knew. I fully understanded that the other candidates were way brilliant than I am, way creative, way talented, way gifted. But I just knew, I worked harder than everybody else, I learned much more than anybody else. That time, only one word passed across my head:

I was invincible.

I still want to become that person. I want to become that invincible. But yeah, the cold nightmare still creeps beneath me and for many obvious reason I want to break down or simply, disappear. But then again, I want to believe in me. To those far away dream, and the path to get closer to it. Closing March, with kisses and strawberry fragrance :)