Karbon Kopi

Beberapa tahun ke belakang, beberapa teman saya mulai memasuki jenjang baru dalam hidup. Polanya kebanyakan sama, mempersiapkan pernikahan, parade foto bulan madu, kata-kata manis tentang kehidupan pasangan baru, perjuangan tentang kehamilan dan menyusui, dan seterusnya. Pada akhirnya, cerita tidak jauh berbeda dengan kebanyakan: ketakutan tentang kehidupan.

Ketakutan tentang langkah kehidupan yang tidak sama. Ketakutan karena apa yang kita miliki tidak pernah cukup. Ketakutan karena kita tidak sama dengan orang lain. Yang diungkapkan lewat keluhan atau cibiran, yang hampa dan sia-sia, yang melelahkan dan membuang waktu. Padahal, keragaman adalah bukti nyata keagungan Tuhan yang paling saya kagumi.

Bukankah kita harusnya bersyukur, bahwa kita bukan karbon kopi?

Celebrating struggling and each other differences. Entah berapa kali saya mendengar kalimat ini. Tapi entah berapa kali pula, saya melihat gunjingan dan kritik yang mematahkan kata-kata   tersebut. Hanya karena apa yang terkadang disebut sempurna. Kalau semua orang mencemooh kata sempurna, sebenarnya siapa yang mendeskripsikan arti kesempurnaan tersebut? Evil take forces in many shapes, your fears are one of them.

Ketika saya berkaca hari ini, saya sadar Tuhan kadang tidak memberikan semua yang terbaik kepada masing-masing orang, tapi Tuhan memberikan cerita yang paling sesuai kepada orang tersebut. Adalah pilihan masing-masing untuk melanjutkan ceritanya sendiri, memilih apa yang terbaik untuk garis akhirnya. Memilih cara terbaik untuk berteman dengan waktu, bukan berlomba di dalamnya.

Saya kira, kebijakan dan kelapangan pandangan akan datang kepada orang-orang yang sudah mengalami lebih banyak jenjang kehidupan. Saya kira, mereka akan selalu lebih bahagia dibanding saya karena memiliki banyak hal yang tidak saya miliki. Hari ini, untuk pertama kalinya, saya tidak iri dengan mereka semua. 

Berlari dalam waktunya sendiri, bahagia dalam sadarnya sendiri, adalah kebebasan yang ingin saya miliki sepenuhnya.

Hari ini, saya bahagia karena bisa keluar rumah dan melihat matahari pagi. Saya bahagia karena sore ini turun hujan. Saya bahagia karena hal remeh yang mungkin tidak berarti banyak untuk orang lain. Saya bahagia karena tidak menjadi karbon kopi.

Spring Fling

It’s almost the end of April and everyone on the other timeline seem to enjoy Sakura blossoms on the other side of the world. It feels good to see people enjoying their vacation rather than bickering about the political situation. So here’s a recap of things I found the previous month.

***

Beauty and The Beast is indeed one of my favorite Disney movies of all time. Back in the VHS era, it was one of the only three movies I had on the rack. I’m sure my mother picked it up randomly but the movie left a great impression to me. While Aladdin is still my favorite Disney movie because of its sense of adventure (and complex understanding of human’s greed), Beauty and The Beast is the close second. One of the reasons why I love it so much, is I envy Beast’s library.

I remember most of the songs present in the movie, especially Be Our Guest and Something There. When the live version movie came last month, I immediately watch it on its premiere date (and once more after that).

Beast’s library is the only place that matters

For those of you who skips the entire 20th century and never watch the original 1991 cartoon version, Beauty and The Beast is the first animated movie to be nominated for The Best Picture at Academy Awards. It is also the first animated movie which receives Golden Globe’s Best Picture for Musical and Comedy back in 1992. It’s /that/ good.

Read more

Starting Small – Tips Mengikuti Bazaar

Kalau menurut saya, booming-nya pop-up market atau thematic market di kota-kota besar di Indonesia adalah salah satu bukti nyata bahwa brand Indonesia sudah mulai bisa bersaing dengan produk-produk luar.

Selama menjalankan Kawung Living sendiri, kami pernah beberapa kali mengikuti bazaar/popup market. Kalau ditanya apakah kami profit ketika mengikuti bazaar tersebut atau tidak, jawabannya 50-50. Hahaha. Berbeda dengan produk F&B, produk non-apparel seperti kami termasuk tricky penjualannya. Sepanjang pengalaman kami, profit dan manfaat mengikuti pop-up market ini memang besar, tapi cost di awal dan effort untuk menyiapkan booth kita juga lumayan besar. Jadi kalau hitung-hitungan nett margin, keuntungan di awal kadang sangat kecil ataupun minus. Tapi ini pengalaman pribadi sih, bisa saja berbeda untuk setiap penjual.

Sebagai lanjutan dari Series Starting Small yang sempat ditulis setahun lalu, berikut adalah tips-tips, resources, ataupun sharing pengalaman saya mengikuti event bazaar selama ini.

Read more

Red Dimmed Light

The red dimmed light in a small room full of people.
Still with hundreds of flashing light and some screams.
It might be different than the arena.
But I guess you’ll never tell us.
On the very reason why.

With the strumming sound and faster beat.
This is where you will sail off for more years to come.
At least we know, there’s more to come.
There will be more reasons to wait.
There will be more reasons to believe.
Let’s live this for forever more.