Pause and Repeat

I think I’ve lost count to how many nights I’ve been spending in this hospital. Yet, here I am again, lying down on a thin blanket on the floor. Awake, waiting for the day to change. I’m not fond of the hospital room, but weirdly enough it’s been a second home for these past months. I don’t know whether it’s a cry for help or another sentimental night. My eyes got tired and I think I’ve broken my body with not enough sleep and lack of nutrition. I gulp down vitamins to keep me awake, but my mind was slowly broken.

Will we ever recover from this? Will we ever survive this?

I don’t know how to contain fear in a small jar and wrap it into the glittering world of happiness. I don’t know how to stay sane in the world of small thoughts and conspiracies. Yet, we continue breathing in and out on this entire space of beams and fast lane. Taking all odds, catching favors, grabbing lights and stars, living the farthest our eyes can reach.

This has been a good rest. After all, we are always better than we think we are. Let’s hit play and survive this.

The Constant Struggles to Fight Like a Girl

Beberapa tahun lalu, saya sempat hampir menangis ketika menonton campaign Like a Girl dari Always. Campaign tersebut banyak mengubah pandangan saya tentang melihat sosok perempuan di masyarakat. Fast forward ke hari ini, Puty yang baru saja merilis koleksi terbaru Fat Bunny mengirimi saya bonus shopping bag Fight Like a Girl bergambar Rey dari Star Wars (padahal saya sudah borong 2 tote bag lainnya, hahaha) and it’s almost teared me up. Bukan cuma karena saya dikasih surat dari Puty atau tapi karena Puty bilang I suit that tote.

Saya jadi bertanya ke diri sendiri apakah sebenarnya saya sudah cukup memperlihatkan semangat Fight a Like a Girl di kehidupan sehari-hari? Kapankah sebenarnya momen Fight Like a Girl ini bakal terpenuhi?

Read more

Now Scrolling, Vol. 1

Buat saya, sekarang ini scrolling timeline Instagram itu kadang terasa sinful karena sengaja atau nggak sengaja jadi lebih sering “ngurusin urusan orang lain”. Makanya saya (sebisa mungkin) menghindari banget yang namanya follow artis yang lagi kena kontroversi ataupun akun-akun gosip. Padahal mah sebenernya karena nggak ngerti aja bahasanya, sumpah kita sama-sama pakai Bahasa Indonesia tapi kok susah banget paham kode-kodenya :)) Terlepas dari itu, Instagram tetap salah satu social media yang sekarang paling saya sukai karena berbasis konten visual. Saya dengan mudah bisa menemukan berbagai macam inspirasi dari artist/designer/illustrator baru yang kemudian saya idolakan. Sekarang ini, saya lagi hobi-hobinya follow beberapa textile designer dan artist dari Jepang. Gaya design mereka benar-benar out of the box banget deh, karena kadang bisa memperlihatkan kesederhanaan walaupun designnya ramai (@yasunobujubilee) ataupun bisa memberikan sentuhan khas kepada apapun medium karyanya (@chickennot).

Nah kali ini saya mau berbagi akun idola-idola saya di Instagram dengan tema, artist Indonesia! Ternyata banyak banget artist dan designer dari Indonesia yang baru saya temukan lewat scrolling timeline di Instagram. Selain konten positif dan semangat kreatifitas yang ditularkan, post mereka selalu bisa membuat timeline saya lebih berwarna.

Read more

The Color of Each Worlds – 500 Days of Summer in Colors

One of the reasons I fell in love with movie making (or movie in general) is the fact that it could be something completely complex or straightly simple. The golden rule of movie plot that goes someone-wants-something-and-get-into-other-things-in-between is often dolled up by many forms of storytelling. The storytelling could involve a lot of things, from dialogue to how the scenes are shot, from the wardrobe to how the scenes are cut. And sometimes, Colors.

In one of the most tragic rom-com movie of all time, 500 Days of Summer is not only trying to captivate our heart and ears (the soundtrack are all amazing!), but it also tries to please our eyes with colors. The foreshadowing of the story is brilliantly told by heavy used of colors.

Read more

The Year of Hustle

Di awal tahun 2016 yang lalu, saya menetapkan beberapa harapan sebagai pengingat untuk bisa terus belajar dan berkembang. Walaupun banyak yang lagi-lagi tidak sesuai harapan, tapi banyak juga yang akhirnya terwujud. It’s easy to indentify a failure, but it’s always surprising to see how one achieves goals.

Tahun kemarin saya belajar banyak soal kesungguhan dalam menjalankan sesuatu dan akhirnya benar-benar paham bahwa yang namanya berkah itu berbanding lurus dengan usaha yang dikeluarkan. Bahwa hal-hal yang sebenarnya kita cita-citakan dari dulu tapi selalu tertunda, sebenarnya bisa dikerjakan kalau kita punya niat yang kuat.

Kalau disuruh menetapkan tema untuk tahun 2017 ini, saya mungkin bakal memilih kata Hustle.

Tahun ini saya akan mencapai umur 30. Buat saya sendiri sih nggak berarti apa-apa, tapi ada sebagian orang yang menganggap going 30 adalah sesuatu yang sakral. Banyak yang menganggap itu batas umur untuk “menjadi tua”, sehingga banyak sekali artikel yang beredar dengan judul Things To Do Before 30, Things to buy before 30, atau Trip Before 30. Lagi-lagi saya nggak mengerti urgensi tersebut :)) Tapi saya setuju kita harus memanfaatkan waktu sebaiknya, kalau memang ada hal-hal yang bisa kita wujudkan secepatnya kenapa harus menunggu sampai kita mencapai umur-umur tertentu? Belum tentu kita masih punya resources untuk mewujudkan cita-cita seperti dana ataupun berkah kesehatan. Jadi kalau saya harus menulis judul artikel clickbait untuk merencanakan 2017, mungkin judulnya adalah Things To Make Before 30.

Read more