apa?
ini sepaket sederhana
…?
kamu
a shallow and mad journal
In between daily life, works, journey, and other routines, I find inspiration hidden everywhere. All those beautiful colors are meant to paint the world in the most unsuspected ways.
Bukan rahasia lagi kalau mencari pekerjaan di zaman sekarang amat sangat sulit. Tenaga kerja semakin banyak, tetapi tidak berbanding lurus dengan jumlah lapangan kerja yang ada. Beruntunglah bagi para orang-orang yang langsung mendapat pekerjaan sebelum menyandang predikat pengangguran terlalu lama. Pengangguran memang beban negara, tapi percayalah Tuhan punya rencana besar di balik semua hal :)
Di bawah ini adalah beberapa saran dan cerita saya (cieeee… :P) yang mungkin bisa sedikit mencerahkan jalan ketika menganggur. Kalau ada yang merasa senasib, kasih tahu saya ya…
Life as we know it
Bebas mungkin adalah kata yang tepat untuk menggambarkan hidup setelah lulus, tapi di balik semua itu, layaknya jebakan Batman, kamu juga harus bertanggung jawab penuh dengan semua kebebasan kamu itu. Tapi yang jelas, kamu tidak perlu dikejar-kejar (atau mengejar) pembimbing TA, tidak perlu bangun jam 6 untuk kuliah pagi, ataupun datang tergopoh-gopoh ke kampus untuk ujian. Inilah saatnya untuk membeli tiket ke China, menonton 6 season How I Met Your Mother sampai pagi, ataupun berkeliling Bandung hanya untuk mengunjungi kebun binatang dan museum (true story, studi kasus Dheny Hiras Pasaribu :P).
Awalnya memang menyenangkan, tapi mungkin saat paling tidak menyenangkan adalah ketika menimbang berat badan. Karena lowongnya waktu yang tidak diimbangi oleh pola makan dan tidur yang berat sebelah, terkadang menyebabkan kita merasa pathetic ketika melihat ke cermin (true story :P). Kembali lagi ke pernyataan awal, saatnya kita bertanggung jawab untuk semua hal, termasuk banyaknya lemak yang terkonsumsi ke tubuh (atau perut) kita. Kebebasan tersebut pun kadang membuat kita bosan karena lama-kelamaan, kebebasan itu menjadi rutinitas yang mungkin membuat kita putus sa dengan diri sendiri.
Informasi
Mencari kerja itu sebenarnya juga urusan mencari informasi yang tepat. Informasi di zaman sekarang mudah didapat dan bahkan bisa diakses lewat telepon genggam. Seharusnya hal ini memudahkan kita untuk segala hal, asalkan tahu di mana dan dengan cara apa kita bisa mendapatkan informasi yang sesuai. Beberapa perusahaan sudah menerapakan proses rekruitmen online (pendaftaran/tes online), sehingga kamu boleh melupakan zaman Si Doel Tukang Insinyur yang mencari kerja lewat map sumbangan dan ketukan pintu di berbagai perusahaan.
Cara paling mudah dan ‘aman’ untuk mendapat informasi lowongan pekerjaan adalah di Career Center kampus masing-masing. Untuk jurusan Teknik seperti saya, 3 career center utama yang harus rajin dilirik adalah PCD ITB, CDC Teknik UI, dan ECC UGM . Saya cuma mendaftar PCD ITB, tapi beberapa teman ada yang mendaftar di CDC Teknik UI juga. Sebenarnya, informasi yang ada hampir mirip-mirip tapi bergantung domisili dan kesanggupan kita untuk mengikuti tes di mana (pilihan di CDC Teknik UGM biasanya lebih beragam tapi saya enggan untuk mendaftar karena domisilinya yang ada di Jogja, sedangkan CDC UI dan PCD ITB lowongannya cukup mirip).
Oh iya, jangan lupakan juga kolom karir di Kompas setiap hari Sabtu. Lalu ada baiknya juga mencari informasi lewat website pencarian kerja atau mailing list alumni, http://www.jobscdc.com/ dan http://bilaboong-kerja.blogspot.com/ adalah situs yang lumayan sering saya buka dan rajin di update. Kalau kamu berminat di industri tertentu, maka rajin rajin saja mencari situs yang tepat (Petromindo untuk Oil&Gas, maupun http://karir-bumn.blogspot.com/ untuk yang berminat bekerja di BUMN ataupun lowongan CPNS). Thread Dunia Kerja di Kaskus juga merupakan tempat yang tepat karena banyaknya perusahaan yang dibahas detil di sana.
Job Fair juga merupakan instant gateaway kamu untuk mendaftar di suatu perusahaan. Hal ini karena para peserta Job Fair biasanya diproses lebih cepat dan mendapat kejelasan terpanggil tes (dibanding yang mengirim lamaran lewat email/pos/apply online). Tapi sekali lagi, bersiaplah untuk jumlah saingan yang ribuan banyaknya. Karena tentu saja acara sejenis menjadi target utama para pencari kerja, sehingga kadang seleksi IP menjadi bahan dasar suatu perusahaan untuk memisahkan CV kita ke meja wawancara ataupun ke tempat sampah (true story).
Nah, pilihan yang ini sebenarnya hal yang paling saya benci. Lewat koneksi. Karena pada dasarnya saya kurang sreg, jadi masih sok idealis untuk mencari kesempatan sendiri dibanding harus mendapat bantuan dari orang lain :P Sebenarnya tidak ada yang salah juga dengan cara ini, dan kemungkinan mendapatkan pekerjaan yang dimau menjadi lebih besar. Jadi, cobalah mulai rajin2 kontak teman-teman/kakak kelas yang sudah kerja duluan atau tempat KP kamu, dan tanyakan apakah perusahaan mereka membuka lowongan. Karena beberapa perusahaan ada yang mengadakan closed recruitment untuk teman-teman/saudara dari karyawan perusahaan tersebut.
Intinya sih, pergunakan semua kesempatan yang ada. Jangan malas untuk mencari informasi ataupun lowongan-lowongan dari mana saja.
The cycle
Kalau yang ini, saya dikasih tahu sama seseorang. Tapi entah kenapa juga kejadian sama saya. Jangan terlalu dipercaya ya, nanti malah jadi sugesti :P Untuk yang menganggur untuk waktu yang cukup lama (baca: 3 bulan ke atas), berhati-hatilah dengan sindrom bulan kelipatan 3. Entah mengapa bulan 3 dan bulan 6 menjadi titik keputusasaan paling tinggi yang pernah saya alami. Pada umumnya, 3 bulan pertama kita jalani dengan semangat untuk mencari pekerjaan, mengikuti tes demi tes dan tentu saja dengan idealisme tinggi. Setelah 3 bulan berlalu, rasa hati biasanya menjadi jenuh. Ekspektasi mulai menurun, idealisme mulai meluntur. Beberapa pekerjaan/perusahaan yang tidak pernah kita dengar sebelumnya mulai dilirik, semua tombol apply mulai ditekan. Nah, jika sudah 6 bulan berlalu, biasanya adalah saat kita melihat teman seangkatan atau angkatan selanjutnya lulus. Ini merupakan waktu terkritis yang menyebabkan besarnya tingkat keputusasaan. Karena tentu saja, kita akan bersaing dengan ‘pemain-pemain baru’ yang mengincar hal yang sama dengan kita. Beberapa mungkin punya IP yang lebih tinggi, ataupun track record yang lebih bagus. Saran saya cuma satu, banyak-banyak doa dan tawakal. Karena pada akhirnya, semua hal yang terjadi dalam hidup adalah sesuatu yang pasti harus berlanjut. Like day turns night, like the inevitable rain. Jadi yakinlah bahwa apapun yang kita dapat sekarang adalah yang terbaik yang dapat terjadi dalam hidup kita.
* foto diambil dari pameran Doksos Dies Emas LFM ITB.
Selamat, ya. Hmm, lalu apa?
Setelah lulus, saya bisa mengklasifikasikan jalur yang bisa diambil menjadi dua kelas besar, yaitu:
1. Cari kerja
2. Sekolah lagi
Tapi sebenarnya ada kelas ketiga yaitu:
(3.) Menikah
But, let’s put this one aside for a while :P Intinya sih, dua kemungkinan paling atas adalah yang paling lazim diambil ketika kita dinyatakan lulus (bukan berarti pilihan ketiga nggak mungkin ya). Cari kerja itu kemungkinannya pun masih beragam. Bekerja di perusahaan pada umumnya (istilahnya mungkin jadi employer), ataupun membuka lapangan kerja bagi orang lain (enterpreneur). Kedua hal di atas punya plus dan minusnya masing-masing, dan karena sekali saya bilang we’re not reading on the same PPKn textbook anymore, jadi tidak ada yang salah dalam kedua pilihan tersebut. Satu yang pasti, menentukan tujuan adalah hal yang paling tepat untuk mendasari setiap pemikiran kita, barulah kita bisa menentukan langkah-langkah untuk mencapainya. Sebenarnya ada juga paham ‘go with the flow’ tapi realitanya, aliran tersebut termasuk tidak lazim untuk digunakan di fase kehidupan ini.
Meskipun kita pada akhirnya memilih untuk bekerja pada suatu perusahaan, kembali lagi, pastikan dulu tujuan kita. Apakah untuk menabung, berkarir, atau yang lainnya. Kalau kita memutuskan untuk berkarir, maka pikirkanlah industri dan perusahaan apa yang bisa mendukung kita ke arah ‘goal’ tersebut. Kalau kamu senang mengajar, kamu bisa memilih mengajar di tingkat apa. Kalau di tingkat kuliah, berarti jalurnya adalah mengambil jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan mengikuti prosedur sesuai tempat di mana kamu ingin mengajar. Kalau seandainya kamu ingin mengajar di tingkat SD-SMU, saya pernah dengar ada sertifikasi khusus untuk menjadi guru untuk lulusan S1 dengan mengikuti pelatihan (mungkin bisa buka website Dikti untuk keterangan lebih lanjut). Ataupun lewat program Indonesia Mengajar yang sampai akhir Mei ini membuka pendaftaran untuk angkatan ketiga-nya.
Kata orang tua sih, pada akhirnya, semua pekerjaan pasti mempunyai titik jenuh dan mungkin passion kita itulah yang akan membuat kita bertahan di suatu pekerjaan. Yang jelas, yakinlah dengan apapun pilihan kamu karena tingkat kepuasaan kehidupan kamu mungkin akan ditentukan lewat hal tersebut.
Ayo dipilih, dipilih…
when you’re on the highway, choosing direction isn’t the easiest to do
Memilih sebuah pekerjaan atau industri memang bukan perkara mudah. Seperti yang pernah saya pernah bilang, seperti memilih calon pendamping, kadang banyak pertimbangannya.
Biasanya, sebuah industri/perusahaan menginginkan lulusan yang terkait untuk bekerja di suatu pekerjaan tertentu. Misalnya perusahaan manufaktur kebanyakan mencari lulusan Teknik Industri atau Teknik Mesin. Atau perusahaan IT hanya akan mencari lulusan Informatika atau Teknik Komputer daripada seorang lulusan Teknik Biologi yang jago banget membuat program misalnya (walaupun terkadang ada pengecualian). Memang kadang terdengar kurang fair, tapi dari sudut pandang perusahaan sendiri mungkin mereka membutuhkan lulusan yang istilahnya ‘siap pakai’ dan terpercaya untuk mereka pekerjakan.
Tapi, sekarang ini sedang menjamur program Management Trainee/MT (ataupun Officer Development Program/ODP untuk bank) yang biasanya terbuka untuk semua jurusan. Kelebihan program ini adalah memberikan kita kesempatan yang lebih besar untuk jurusan-jurusan minoritas (seperti jurusan saya :P) dan istilahnya adalah kita dibayar sambil belajar, karena program ini biasanya melakukan training terlebih dahulu. Training ini bentuknya beragam tetapi standarnya adalah kita belajar tentang perusahaan tersebut, scope kerja perusahaan tersebut, dan divisi-divisi di dalamnya, dan lain lain. Tapi di saat yang sama, program ini mempunyai peminat yang jumlahnya sangat banyak dan menyebabkan kemungkinan masuk dan proses seleksinya menjadi sangat ketat.
Tetapi jangan berkecil hati. Kalau semisal kita punya background Teknik Perminyakan tapi punya keinginan yang besar d bergelut bidang HRD misalnya, bukan berarti pintu tertutup sama sekali untuk kita. Tunjukkan bahwa kita memang tertarik di industri/posisi tersebut, dan lebih bagus lagi kalau didukung oleh pengalaman organisasi yang berhubungan di sana. Misalnya di posisi HRD tadi, lebih baik kalau kita pernah terlibat di divisi sumber daya anggota ataupun ambil bagian di acara penerimaan anggota baru suatu organisasi.
Pekerjaan pertama biasanya menjadi kunci penting dalam jenjang karir kita selanjutnya. Misalnya kamu 2 tahun menjadi bankir, maka jika di tahun berikutnya kamu berminat berkarir di Oil & Gas maka kamu akan dianggap sama dengan standar fresh graduate yang tidak punya pengalaman. Gaji ataupun posisi yang akan kamu dapat tentu saja akan lebih kecil/kurang lebih sama dengan 2 tahun pengalaman kamu sebagai bankir. Kontrak untuk program MT atau ODP biasanya mengikat kita selama sekitar 2-4 tahun, coba bayangkan apa saja yang bisa kita perbuat dalam waktu selama itu jika kita merasa kurang cocok/yakin dengan suatu industri. Jadi berhati-hatilah jika kamu sudah berurusan dengan yang namanya membubuhkan tanda tangan di atas materai.
Intinya sih, mencari pekerjaan yang sesuai dengan jurusan kita semasa kuliah sebenarnya merupakan jalur yang paling ‘cepat’ untuk mendapatkan pekerjaan. Tapi bukan berarti kita ‘harus’ bekerja di suatu industri tertentu, seperti yang saya bilang sebelumnya, pertimbangkan juga kemauan kita. Karena apa gunanya berkarir di tempat yang tidak kita senangi?
A couple of days ago, I’ve read a featured article on WordPress titled ‘5 Tips for College Graduated’. For a while I’ve been wanted to write the same thing, and here goes this post. The article itself is nice and worth the read to accompany your spare time.
From now on, I’ll be adding category to this blog. Mostly about life after college and how I deal with it. Maybe I’ll write about the industry I’m standing on, or maybe another junk tips and story. So, happy Friday for you.
For two million people who cursed Rebecca Black, admit it, her ‘Friday’ has instantly became an anthem for welcoming weekend. And sadly, Haley left the competition. Scottie and Lauren will do a country deathmatch afterall :P
Since I was little, I always thought going abroad is the greatest dream that I want to achieve. The clean air, the modern railway, the green mountain, the fabulous museums and old book shops. As I grew up, I’ve seen people going abroad, an exchange program, a broke travel trip, or even a wealthy vacation. Then I’ve lost interest of the whole idea.
I mean, what’s so special about going abroad? Is it just about the picture you took, with the famous landmark or some random foreigner? Is it about the happiness you feel inside when you tweet “Touchdown Europe”? Is it about the talk you’ll get when people talk about you, the pride? Is it about the people you shake hand with? Or is it about the achievement you need for being one step ahead from everybody?
The thing is, I still envy Europe for being adorable, Japan for being admirable, New York for being sophisticated, or even Russia for being exotic. But there’s a thing that I’ve lost anyway.
What’s so special of going abroad?
When people told me that they’re going shopping in their vacation in London, or walking slowly in Thailand, I don’t envy it anymore. Is it me going older?
Then again, it is just a matter of choices and several reasons to live abroad. It is another story to stay at the heated Indonesia with dumb government who don’t give a damn about some email account. As for me, the choices consider a question, “which one really need me?” instead of how big the temptation and the chances is. I guess the achievement doesn’t really excite me anymore. But maybe we’ll see.
PS: My beloved friend, Rizki Narindra just got accepted for a scholarship in Milan. He will get his Master degree majoring in Energy Environmental Management and Economics. The thing is I proud of him just because he got the scholarship, not because he is going to go across ocean and landed in Italy. Oh, that’s just an additional item.